Menghadiri Sidang Perdana Ahok Sang Penista Agama

Rabu, 21 Desember 2016 - 21:50 WIB | Dilihat : 3282
 Menghadiri Sidang Perdana Ahok Sang Penista Agama Ilustrasi: Penjarakan Ahok!


KH M Al Khaththath
Sekjen FUI
 
Pagi itu Selasa (13/12) selesai hadir di Maulid Para Ulama di Masjid Tangkubanperahu Menteng, saya meluncur ke Pengadilan Perkara Penistaan Agama dengan terdakwa Ahok di Jalan Gajah mada Jakarta Pusat. Tepat pukul 8.30 saya tiba di depan bekas PN Jakarta Pusat itu. Jalanan sudah penuh, pintu gerbang pengadilan ditutup rapat, dan para pengunjung berjubel di luar karena tidak bisa masuk. Dengan pertolongan beberapa laskar dan dibantu seorang perwira intelkam Polres Jakarta Pusat, saya bisa masuk menembus kerumunan dan membuka pintu gerbang yang terkunci. Ternyata di dalam pengadilan memang benar-benar padat dan sebagian orang berdiri.  
 
Alhamdulillah saya diberi tempat duduk oleh pengunjung sehingga bisa duduk di sebelah Imam FPI Jawa Barat, KH. Maksum yang menyempatkan datang jauh-jauh dari Ciamis. Beliaulah yang memimpin para mujahid pejalan kaki dari Ciamis dalam Aksi Super Damai 212. 
 
Walaupun hati kesal selama persidangan, namun apa boleh buat tata tertib pengadilan melarang berkomentar apalagi berteriak. Selesai sidang saya langsung keluar bersama Kyai Maksum dan sempat berorasi di atas mobil komando GNPF menyampaikan catatan-catatan penting dalam persidangan tersebut sekalian memberikan semangat kepada ratusan demonstran yang setia mengawal pengadilan walau tidak kebagian tempat duduk di ruang sidang yang hanya berkapasitas 80 orang.   
 
Dua catatan yang bisa saya berikan kepada persidangan perdana Ahok penista Islam itu sebagai berikut: 

Pertama, Ahok akting dengan menangis, memelas, mohon dimaklumi, sambil tetap tidak mau mengakui bahwa dirinya telah terlanjur menghina Al Quran dengan mengungkapkan sejumlah dalih bahwa dia tidak mungkin menghina agama Islam. Seolah dia tidak pernah mengeluarkan kata-kata, sikap, dan tindakan yang menghina umat Islam dan banyak menyakiti rakyat. Seolah dia lupa bagaimana kata-kata kasar sering terlontar dari mulutnya.  Seolah dia tidak pernah menghardik seorang ibu berjilbab warga Jakarta dengan kalimat yang sangat keji: Ibu Maling!!! Ibu Maling!!!  Jangankan rakyat kecil seperti Ibu Berjilbab, Lembaga Tinggi Negara seperti BPK saja dia bilang : Audit BPK Ngaco!! Apalagi terhadap FPI dan demonstran muslim, sungguh mulutnya sangat kasar dan mengerikan! Dan Ahok terus tambah jadi mulutnya karena nggak ada yang berani melawan dia (pikirnya!!!). Namun dia kena batunya, setelah menghina QS. Al Maidah 51 dan videonya diunggah oleh anak buahnya sendiri.  Jangan buang-buang air mata buaya, “nggak cucuk” sama sikapnya yang selama ini sok jagoan!

Kedua, Ahok berakting seperti seorang mufassir Al Quran menjelaskan bahwa penafsiran yang dikembangkan oleh orang-orang yang dia sebut  “politikus busuk dan pengecut” telah menyimpangkan makna ayat Al Maidah 51, yakni mengaitkan ayat itu dengan pemilihan kepala pemerintahan. Ahok bilang penafsiran itu memecah-belah bangsa. Padahal Ahok bukan seorang mufasir yang punya otoritas menerangkan tafsir, bahkan dia bukanlah seorang muslim yang memang mengimani Al Quran sebagai kitab suci agamanya. Ahok adalah seorang jahil yang tak tahu bahwa dia jahil, jahil murakkab! Sadar atau tidak dia telah mengobok-obok agama orang lain. Ahok dengan arogan dan segala kejahilnya begitu ngotot menyalahkan pendapat dan sikap keagamaan MUI yang ditandatangani Ketum MUI yang juga Rais Aam PBNU KH. Ma'ruf Amin yang menerangkan bahwa QS. Al Maidah 51 merupakan salah satu dalil bagi wajibnya kaum muslim memilih memimpin muslim.  Sadar atau tidak Ahok telah melanggar UU No 1/PNPS/1965 dan sekaligus mengulang kembali tidakan menistakan Al Quran dan Ulamanya. Dan kesalahan yang terlalu jauh tersebut tampaknya  didukung oleh para penasihat hukumnya yang juga ikut-ikutan menggunakan ayat-ayat Al Quran untuk membenarkan sang penista Al Quran.  Apakah kode etik professional pengacara tidak dilanggar oleh mereka dengan sikap sembrono seperti itu?
 
Kesimpulan saya  Ahok ini benar-benar ndablek dan tak tahu diri.  Dia tampak sama sekali tidak bisa berfikir bahwa seluruh kata-kata, sikap, dan perbuatannya yang selama ini sangat menyakitkan umat Islam di seantero negeri telah menjadi bom waktu yang bisa meledak setiap saat.   Bahkan Aksi Bela Islam (ABI) 1 (diikuti sekitar 100 ribu orang), ABI 2 (lebih dari 2 juta orang), dan ABI 3 (lebih dari 7 juta orang) yang menunjukkan eskalasi peningkatan jumlah peserta yang sangat luar biasa itu tak bisa dia perhitungkan bahwa itu adalah ekspresi kemarahan umat atas sikapnya yang sombong dan arogan, sikap melecehkan dan komentar nyinyir para pendukungnya, serta sikap tidak adil para penguasa yang sangat tampak selalu melindunginya.  
 
Penistaan Al Quran yang paling awal dilakukan oleh Ahok adalah ketika dia pertama kali melontarkan kalimat serangan kepada Al Quran sebagai kitab suci dengan kalimatnya: “Ayat Konstitusi di atas ayat suci!”. Jelas ini adalah penistaan terhadap kitab suci.  Kitab suci adalah firman Allah yang suci, yang tak bisa diubah hingga hari kiamat, sedangkan konstitusi adalah buat manusia yang tidak suci dan berkali-kali direvisi. Jika demikan, maka dimana logika Ahok kalau dia bukan penista Kitab Suci Al Quran?   
 
Alhamdulillah, dalam Aksi Bela Islam Super Damai 212 dari atas Panggung Utama Monas Imam Besar Aksi 212 Habib Rizieq Syihab, sebagai khatib Jumat,  telah menyampaikan pengumuman kepada jutaan jamaah Sholat Jumat Kubro, dimana di dalamnya terdapat Presiden Jokowi, Wapres Jusuf Kala, Sejumlah Menteri, Panglima TNI dan Kapolri bahwa “Ayat Suci di atas Ayat Konstitusi”.  Penegasan Habib Rizieq tersebut diabadikan dalam file-file video yang beredar ke seluruh dunia.  Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar! Walillahil hamd!
1 Komentar