Pesantren Sepakat Tolak YPP Hary Tanoe

Jumat, 16 Desember 2016 - 17:33 WIB | Dilihat : 5884
Pesantren Sepakat Tolak YPP Hary Tanoe Konferensi pers BKSPPI menolak YPP di Aula Gedung DDII, Jl Kramat Raya 45 Jakarta Pusat, Rabu (14/12/2016). [foto: shodiq/si]

 

Selain karena bukan seorang Muslim, bantuan Hary Tanoe juga bermuatan politis.
 
Ustazah Fauziyah Fauzan tak dapat menyembunyikan kemarahannya. Lahirnya Yayasan Peduli Pesantren (YPP) yang diketuai seorang Kristen, Hary Tanoesoedibjo, dinilainya merupakan penghinaan bagi kalangan pesantren. 
 
"Kalau saya bersama Buya-buya di sini membuat lembaga peduli sekolah Katolik kemudian memberi santunan ke sekolah-sekolah Katolik, tentu pengurus gereja akan tersinggung. Begitu juga kami. Seakan-akan dengan adanya YPP ini mengesankan bahwa pesantren tidak ada yang mempedulikan," ungkap Fauziyah di hadapan para pimpinan dan pengasuh pondok pesantren se-Sumatera Barat. 
 
Fauziyah berinisiatif mengundang pesantren-pesantren di Sumatera Barat untuk berkumpul di pesantrennya, Perguruan Diniyah Puteri Padang Panjang. Dari pertemuan itulah disepakati bahwa atas nama Forum Pondok Pesantren (FPP) Sumatera Barat mereka menolak segala bentuk bantuan dari YPP. 
 
“Awalnya undangan saya atas nama BKsPPI, tetapi akhirnya pernyataan sikap atas nama FPP Sumatera Barat,” cerita cicit tokoh pergerakan Islam sekaligus pendiri Perguruan Diniyah Puteri Padang Panjang Rahmah El Yunusiyyah itu saat bicara dalam Ijtima’ Pimpinan Pondok Pesantren se-Indonesia di Gedung Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), Jalan Kramat Raya 45, Jakarta Pusat, Rabu siang, 14 Desember lalu. Ijtima’ diikuti ratusan pimpinan dan pengasuh pesantren di bawah koordinasi Badan Kerjasama Pondok Pesantren Indonesia (BKsPPI). 
 
Hary Tanoe Buat YPP
 
Reaksi keras dari kalangan pesantren ini muncul akibat aksi yang dilakukan bos MNC Group Hary Tanoesoedibjo (HT). Meski dirinya seorang Kristen, HT nekat membuat sebuah yayasan yang bergerak di dunia pesantren yang diberi nama Yayasan Peduli Pesantren (YPP). Ini sekaligus merupakan puncak amarah kalangan pesantren atas sepak terjang HT yang terus-terusan melakukan safari politik ke pesantren-pesantren demi memuluskan rencana politiknya melalui Perindo. 
 
Ketua Umum Partai Perindo ini berdalih, kondisi pesantren di daerah-daerah sangatlah memprihatinkan karena mereka kurang diperhatikan. Karena itu, seperti diungkap dalam peluncuran YPP di Gedung MNC Financial Center, Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Ahad (4/12/2016) lalu, HT menargetkan dalam waktu dekat YPP akan menyalurkan dana Rp500 milyar ke pesantren-pesantren. Padahal saat pendirian, YPP baru berhasil mengumpulkan uang sebesar dua miliar. Uang satu miliar diberikan oleh Hary Tanoe sendiri.
 
Agar yayasan ini dapat diterima kalangan Islam, dipasanglah sejumlah nama tokoh Islam dari ormas dan pesantren. Sebut Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj yang diangkat menjadi Ketua Dewan Pembina dengan anggota Mahfud MD (Koordinator PMN KAHMI), Hajriyanto Y Thohari (Ketua PP Muhammadiyah) dan Ahmad Rofiq (Aktivis Muhammadiyah, Sekjen Perindo). Sementara Dewan Pengawas diketuai oleh KH Salahuddin Wahid (Pengasuh Pondok Pesantren Tebu Ireng) dengan anggota Firmanzah (Rektor Universitas Paramadina) dan Yamin Tawary (Politisi Perindo dari Maluku).  
 
Sementara Hary Tanoe dan istrinya, Liliana Tanoesoedibjo, masing-masing menjabat sebagai Ketua Umum dan Wakil Ketua Umum. 
 
Ramai-ramai Menolak
 
Peserta  Ijtima’ Pimpinan Pondok Pesantren se-Indonesia di Gedung Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), Jalan Kramat Raya 45, Jakarta Pusat, Rabu siang, 14 Desember lalu.
 
Tak sampai sepekan usai diluncurkan, kemunculan YPP langsung menuai respon negatif. Dua hari setelah peluncuran, Ketua PP Muhammadiyah Hajriyanto Y Thohari melayangkan surat kepada Sekjen Perindo yang juga orang dekat HT, Ahmad Rofiq. Thohari tegas menolak namanya dimasukkan sebagai anggota Dewan Pembina. 
 
“Selanjutnya, untuk menghindari kontroversi lebih jauh terutama “Pelarangan perangkapan jabatan pimpinan Muhammadiyah dengan organisasi dan/atau yayasan lain yang amal usahanya sejenis”, maka dengan ini saya menyatakan tidak bersedia menjadi anggota Dewan pembina Yayasan Peduli Pesantren (YPP) sebagaimana pembicaraan kita tentang permintaan Saudara dalam komunikasi melalui WhatsApp beberapa waktu lalu,” bunyi surat yang ditandatangani Thohari, 6 Desember lalu.
 
Selang tak berapa lama, pada Jumat 9 Desember, Gus Sholah –panggilan akrab KH Salahuddin Wahid, menggelar jumpa pers di Surabaya. Sama seperti Hajriyanto, Gus Sholah juga menyatakan sikap dirinya yang tidak bersedia duduk dalam posisi apapun dalam kepengurusan YPP. 
 
“Ini juga untuk menjawab pertanyaan para masyayikh, ulama, kyai, habaib dan masyarakat luas, termasuk juga keluarga besar Pesantren Tebu Ireng Jombang. Moro-moro tangi dipisuhi uwong (tahu-tahu bangun tidur, dimarahi orang). Tapi saya tidak akan menempuh langkah hukum, meskipun ini perbuatan tidak menyenangkan,” kata Gus Sholah. 
 
Gus Sholah sebenarnya juga hadir dalam peluncuran YPP di Jakarta. Ia mengaku pernah didatangi orang dekat HT, Syafril Nasution –yang menjabat Ketua Harian YPP-, tetapi ia mengaku tidak pernah menyatakan kesediaannya bergabung di YPP untuk posisi apapun. “Saya saja kaget kok tiba-tiba banyak yang menanyakan posisi saya di YPP. Padahal saya sendiri tidak tahu. Ternyata kabarnya sudah ramai di medsos. Ini jelas nama saya dicatut,” tegasnya. 
 
Sama-sama dipersoalkan oleh para kyai, Gus Sholah mengambil langkah yang lebih baik dibandingkan dengan Kyai Said Aqil. Dalam Halaqah dan Silaturahim Syuriah PBNU dengan Ulama Pondok Pesantren dan Rais Syuriah PCNU se-Jawa Timur di Kantor PWNU Jatim, Rabu 7 Desember lalu, Said Aqil bergeming saat diminta secara keras oleh para kyai untuk meninggalkan YPP. Ia berdalih keterlibatannya di YPP Hary Tanoe atas nama pribadi. 
 
Alasan Said Aqil ini kabarnya makin membuat marah para kyai. ”Kalau Anda bukan Ketua Umum PBNU, Hary Tanoe tak mungkin menjadikan Anda sebagai pengurus YPP,” kata para kyai seperti dikutip Bangsa Online.

Penolakan secara berjamaah terhadap YPP juga dilakukan oleh para kyai di Madura. Aliansi Ulama Madura (AUMA) yang dipimpin KH Ali Karrar Shinhaji dan KH Fadholi Moh Ruham, secara tegas dan keras menolak segala bentuk bantuan dari YPP. 
 
“Menolak dengan tegas dan keras bantuan-bantuan dalam bentuk apapun dari Yayasan Peduli Pesantren bentukan Hary Tanoesoedibjo yang belum memeluk agama Islam, sebab Pesantren adalah ladang perjuangan agama dan bahwa Baginda Nabi Muhammad Saw menolak bantuan non Muslim di dalam perjuangan agama,” bunyi pernyataan pertama dalam surat himbauan Auma yang ditujukan kepada pengasuh pondok pesantren se-Madura, 8 Desember lalu. 
 
Di Banten, 3496 pondok pesantren yang bernaung di bawah Forum Silaturahmi Pondok Pesantren (FSPP) juga melakukan penolakan. FSPP beralasan kiprah HT sarat dengan kepentingan politik dan kapitalisme. Eksistensi HT juga cederung mengancam asosiasi-asosiasi pondok pesantren di seluruh Indonesia yang telah berkhidmat dengan ikhlas membina akidah dan kehidupan keumatan yang harmonis selama puluhan tahun.
 
Merangkum sikap penolakan dari berbagai eleman ulama dan pesantren se-Indonesia, BKsPPI akhirnya bukan hanya menolak segala bentuk bantuan YPP, tetapi juga menolak keras politisasi lembaga pendidikan pondok pesantren dan menjadikannya sebagai alat politik praktis melalui bentuk kerjasama, bantuan, kunjungan dari pihak manapun, termasuk YPP. 
 
"Pondok pesantren tidak boleh meminta atau menerima bantuan dalam bentuk apapun, baik dari perorangan maupun organisasi yang memiliki tujuan yang berbeda bahkan bertentangan dengan tujuan ponpes seperti YPP," ungkap Ketua Pembina BKsPPI Prof Dr KH Didin Hafiduddin. 
 
[shodiq ramadhan]
0 Komentar