Kyai Makruf Amin Diusulkan Jadi Guru Besar Tidak Tetap UIN Maliki Malang

Rabu, 14 Desember 2016 - 06:40 WIB | Dilihat : 1009
Kyai Makruf Amin Diusulkan Jadi Guru Besar Tidak Tetap UIN Maliki Malang Ketua Umum MUI KH Makruf Amin.

Jakarta (SI Online) - Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI Pusa) Dr (HC) KH Ma'ruf Amin diusulkan oleh Senat Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim (UIN Maliki) Malang, Jawa Timur, untuk diangkat menjadi Guru Besar Tidak Tetap pada kampus tersebut. Kyai Ma'ruf diusulkan menjadi guru besar hukum bisnis syariah pada Fakultas Syariah. 

Rektor UIN Maliki Malang Prof Dr H Mudjia Rahardjo mengakui, pihaknya telah mengusulkan rencana tersebut kepada Kemenristek dan Dikti. 
 
"Perguruan tinggi itu salah stau tugasnya memberikan penghargaan kepada orang-orang yang memiliki dedikasi tinggi kepada bangsa dan negara. Kyai Ma'ruf dinilai memiliki dedikasi dan konsistensi yang tinggi dalam bidang hukum bisnis syariah," ungkap Mudjia kepada Suara Islam Online, dalam perbincangan beberapa waktu lalu. 
 
Mudjia mengakui bahwa usulan mengangkat Kyai Ma'ruf Amin menjadi profesor itu berasal dari Kementerian Agama. Kepada Kyai Ma'ruf diberikan sejumlah pilihan perguruan tinggi agama Islam Negeri di Jakarta, Yogyakarta dan Malang. 
 
"Sepertinya beliau lebih memilih UIN Malang. Lalu kita bahas di Senat dan disetujui. Sekarang kita proses ke Kemenristek dan Dikti," jelasnya. 
 
Di Indonesia, lanjut Mudjia, telah diangkat beberapa orang menjadi guru besar tidak tetap. Diantaranya Susilo Bambang Yudhoyono, AM Hendropriyono dan KH Said Aqil Siradj.  
 
SBY merupakan guru besar tidak tetap bidang Ilmu Ketahanan Nasional dari Universitas Pertahanan, Hendropriyono adalah guru besar tidak tetap bidang Intelijen di Sekolah Tinggi Intelijen Negara, sedangkan Said Aqil diangkat sebagai guru besar tidak tetap dalam bidang Tasawuf pada Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Sunan Ampel Surabaya. 
 
Mudjia berharap proses pengangkatan Kyai Ma'ruf sebagai guru besar di kampusnya ini tidak memakan waktu yang lama. "Kita berharap secepatnya," ungkap profesor di bidang Sosiolinguistik ini. 
 
Kyai Ma'ruf sendiri hanya tertawa gembira ketika dikonfirmasi mengenai hal ini. "Ha..ha..ha...ya katanya, tapi belum tahu saya," kata Kyai Ma'ruf kepada Suara Islam Online, usai membuka Multaqa Dai Nasional di Jakarta, Selasa malam (13/12/2016). 
 
Kyai Ma'ruf mengaku tidak melakukan persiapan khusus untuk penganugerahan gelar guru besar tidak tetap kepadanya itu. "Biasa saja. Bersyukur saja, kalau memang dianggap pantas," katanya merendah. 
 
Penelusuran Suara Islam Online, salah satu dasar pengangkatan guru besar tidak tetap adalah Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nomor 40 Tahun 2012 tentang Pengangkatan Profesor/Guru Besar Tidak Tetap Pada Perguruan Tinggi. 
 
Menurut peraturan tersebut, pengangkatan seseorang sebagai dosen tidak tetap ditetapkan oleh perguruan tinggi setelah mendapat persetujuan Senat. Usulan tersebut kemudian ditetapkan oleh Menteri berdasarkan pertimbangan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi.
 
red: shodiq ramadhan
0 Komentar