Quo Vadis Sirah Nabawiyah, Quo Vadis Historiografi Islam?

Rabu, 14 Desember 2016 - 06:08 WIB | Dilihat : 1680
Quo Vadis Sirah Nabawiyah, Quo Vadis Historiografi Islam? Ilustrasi

“No civilization can prosver, or even exist, after having lost this pride and the connection with its own past” (Muhammad Asad (Leopold Weiss) dalam Islam at the Crossroad)
 
Pada Sabtu 19 November 2016 lalu, penulis mengikuti dauroh Quo Vadis Sirah Nabawiyah? bersama Sirah Community Indonesia (SCI) yang diisi oleh Ustadz Asep Sobari, salah satu pakar sirah Nabawiyah di tanah air. Dari situ diungkap, bahwa sebenarnya kualitas historiografi Islam, khususnya sirah Nabawiyah jalan di tempat kalau tidak mau dibilang mundur ke belakang. Karya-karya historiografi Islam (termasuk sirah) di saat ini tidak beda jauh dari karya-karya historiografi klasik yang sudah berusia ratusan dan bahkan 1000 tahun lalu. Tidak jauh berbeda dari karya-karya sirah di masa Ibnu Hisyam, Al-Waqidi, Ibnu Sa’d, Ath-Thabari, serta belum beranjak dari gaya penulisan masa Ibnul Qayyim Al-Jauziyah dan Ibnu Katsir. Tentunya ini harus menjadi pertanyaan para pemerhati sirah dan sejarah Islam: Quo vadis Sirah Nabawiyah?
 
Sirah Nabawiyah sendiri merupakan pusat perhatian dalam ranah sejarah Islam, karena sirah Nabawiyah membahas sejarah Rasulullah SAW dan para sahabatnya, jika gambaran sirah Nabawiyah itu negatif pasti akan berimbas ke bidang-bidang sejarah Islam lainnya.
 
Di zaman kita ini, sirah Nabawiyah hampir tidak beranjak dari konstruk narasi, ambil sana-sini dari sumber klasik seperti Ibnu Hisyam, Al-Waqidi, Ibnu Sa’ad, Ath-Thabari, atau pun Khalifah bin Khayyath lantas dipadukan menjadi sebuah paragraf dengan sebuah narasi. Tidak heran jika ada yang mengkritik tajam: "umat Islam sebenarnya belum menulis sejarah tetapi baru sekedar menulis bahan-bahan (sumber) sejarah", seperti dibahas di dalam dauroh bersama SCI tersebut.
 
Mengapa hanya sampai narasi? padahal hal itu sudah dimiliki umat Islam sejak berabad-abad silam. Pertanyaan selanjutnya, mengapa terjadi stagnansi? Jawabannya harus dikaitkan dengan historiografi yang amat dominan dan paling mapan di masa kini: historiografi Barat.
 
Semua krisis yang menimpa ranah sejarah dan historiografi Islam, berakar dari belum terpenuhinya karya-karya historiografi yang punya metodologi maupun analisis kuat untuk merekonstruksi sejarah Islam. Memang pada awalnya, kemunduran tradisi keilmuwan sejarah terjadi karena peradaban Islam sendiri belakangan mengalami stagnansi dan kemunduran, selama berabad-abad, umat Islam mengalami pembodohan akibat orientalisme dari penjajah Barat. Hasilnya karya-karya historiografi Islam baik di masa kemunduran peradaban Islam hingga paruh pertama abad 20, sebagian besar (kalau tidak mau disebut “semua”) belum dapat menjawab tantangan standar historiografi modern yang berkiblat ke Peradaban Barat.
 
Kesadaran sejarah universal di era modern ini terjadi karena Barat -sebagai pihak yang kini menjadi “Kiblat Peradaban”- mengalami perubahan sosial-politik dan budaya yang amat signifikan akibat Renaissance, Pencerahan, Revolusi Prancis, Revolusi Industri serta memuncak di abad 19. Kenyataannya pengkajian sejarah modern menemukan bentuknya di awal abad 19 (Ankersmith. Refleksi Tentang Sejarah. Jakarta: Gramedia, 1986, h. 351). Oleh karena Barat begitu dominan ratusan tahun belakangan, pandangan dan pengalaman sejarah Barat pun secara sengaja diuniversalisasikan, sehingga umat Islam seolah-olah harus memandang sejarahnya dari kaca mata Barat. Hal ini tentu saja patut dihindari.
 
Umat Islam sebenarnya sudah lebih dahulu “sadar sejarah”, namun kenyataannya sejak memasuki abad 19 dan 20 umat Islam belum dapat membentuk historiografi modernnya sendiri terutama untuk menjawab tantangan modernisasi dan westernisasi.
 
Dalam hal ini umat Islam tertinggal cukup jauh, sebab-sebabnya menurut Syaikh Akram Dhiya’ Al-Umari’  karena para sejarawan dan penulis sejarah Islam sendiri telah bersikap inferior, mereka mencerminkan Islam itu sebagai simbol keterbelakangan dan kebiadaban, menafsirkan futuhat yang dilakukan Kekhalifahan Islam dengan rasa inferior, dan mereka secara sadar memang bermental inferior. Sebab lain ialah kemalasan para sejarawan Muslim yang menjiplak begitu saja tulisan-tulisan orientalis dan peneliti Barat tanpa sikap kritis, sehingga para sejarawan Muslim hanya seperti ‘membeo’ apa yang dinarasikan oleh para orientalis (Akram Dhiya’ Al-Umari, Shahih Sirah Nabawiyah, Jakarta: Pustaka As-Sunnah, 2010).
 
Padahal karya-karya historiografi Islam di masa lalu bisa mengungguli karya-karya di zamannya, dari peradaban lain. Terutama di masa Kekhalifahan Abbasiyah hingga di masa Ibnu Khaldun (abad 14 M). Di masa yang sama masyarakat Eropa Abad Pertengahan (Barat) sedang mengalami Dark Age akibat kepercayaannya terhadap takhayul dan dogma-dogma Gereja Roma yang dipaksakan.
 
Ilmu pengetahuan di Eropa tak berkembang dan hal yang paling mencolok dari perkembangannya justru perihal kepercayaan-kepercayaan irasional.
 
Dark Ages yakni masa Mediaval/Middle age (Abad Pertengahan), kurunnya adalah Eropa semenjak jatuhnya Romawi Barat di abad ke-5 masehi hingga abad 15 masehi, menjelang renaissance. Hampir 1000 tahun. Masyarakat Eropa hidup dalam kekangan Gereja Abad Pertengahan yang absolut dan tirani, sampai-sampai di masa itu terdapat pembantaian-pembantaian atas nama Gereja, jika ada orang-orang tertentu yang menyimpang menurut penafsiran Gereja. Gereja seolah menjadi Tuhan masyarakat Eropa Dark Age.
 
Di masa itu masyarakat Eropa bahkan tidak mengetahui mereka hidup di tahun dan zaman apa, di mana Peradaban Islam sejak abad 7 hingga abad ke 16 sedang gemilang karena keunggulan iptek, budaya, politik hingga ekonominya. umat Islam juga sadar sepenuhnya akan pentingnya sejarah. Sebaliknya di Eropa, bertebaran kisah-kisah ‘menggelikan’ di zaman kegelapan itu, cendikiawan Inggris, Raymond Keene misalnya mencatat kebiasaan orang-orang Eropa di masa itu sering menghitung berapa jumlah malaikat yang lewat di lubang jarum! (Raymond Keene, “Renaissance” dalam Menjadi Jenius Seperti Leonardo da Vinci)  Suatu hal yang bagi masyarakat Barat modern sendiri merupakan hal yang memalukan.
 
Dari sini kita dapat menduga, nampaknya kemajuan sebuah peradaban dengan kesadaran sejarah merupakan sesuatu yang berbanding lurus. Namun agar refleksi tadi tidak menjadi sekedar romantisme sejarah, kita harus akui dalam persepktif peradaban, umat Islam di zaman ini tertinggal jauh dari Eropa dan Amerika Serikat, terutama dari segi produk teknologi serta tradisi keilmuwan. Nah, di saat yang sama, sejarah Islam sendiri sebagai “ruh peradaban” masih belum dapat tersajikan dengan metodologi yang kokoh (Muhammad Quthb, Perlukah Menulis Ulang Sejarah Islam, Jakarta: GIP, 1995, h. 13).
 
Hal ini pernah diakui oleh Syaikh Muhammad Quthb salah seorang pemikir Islam yang terkemuka. Dunia Islam dalam ranah disiplin ilmu sejarah, setidaknya di generasi Syaikh Muhammad Quthb, masih saja bergantung kepada metodologi orientalis dari Barat yang sering melakukan deislamisasi sejarah. Namun yang lebih memprihatinkan umat Islam malah menerima begitu saja karya para orientalis tanpa bersikap kritis. Argumen Syaikh Muhammad Quthb ini seirama dengan pernyataan Syaikh Akram Dhiya Al-Umari. Menurut Syaikh Akram, para Intelektual dan sejarawan Muslim menganggap seolah-olah karya para orientalis Barat tak akan keliru, serta tak ada motif negatif di balik itu. Padahal kenyataannya sebaliknya, para orientalis punya motif deislamisasi sejarah, apa pun bentuknya. Di sini harus disadari betapa pentingnya metodologi dan analisa sejarah yang lebih kokoh, yang dituangkan dalam historiografi, serta dikembangkan dari tradisi keilmuwan Islam sendiri. Berpijak dengan kaki sendiri.
 
Dari segi mengambil serta mengembangkan metodologi dan analisis sejarah, perlu ada catatan tersendiri. Syaikh Akram menyatakan dalam magnum opus nya Sirah Nabawiyah Ash-Shahihah yang ditulis pada dekade 1990-an, sejarah Islam harus dilandasi tashawur Islam (worldview Islam), bukan pandangan yang sekularistik. Metodologi dan analisa dalam bidang sejarah, ilmu-ilmu sosial dan budaya dari tradisi keilmuwan Barat sangat mungkin untuk dimanfaatkan, dengan syarat sudah dilandasi tashawur Islam. Bahkan kekuatan sejarah Islam yang memiliki tradisi riwayat dan sanad yang tidak dimiliki peradaban mana pun selain Islam, bisa digabungkan dengan metodologi dan analisis dari tradisi keilmuwan Barat. Historiografi semacam itu bisa menjadi terobosan yang amat dahsyat.
 
Optimisme ini nampaknya bisa segera diwujudkan mengingat kajian-kajian sirah Nabawiyah, sebagai salah satu bagian terpenting sejarah Islam, semakin marak dan mendapat sambungan hangat dari masyarakat. Quo Vadis Sirah Nabawiyah bersama SCI juga sempat menyinggung solusi dan gagasan Syaikh Akram tersebut, wajar saja mengingat beliau adalah figur yang menjadi rujukan dalam bidang sirah Nabawiyah.
 
Hal yang dibahas ini sesungguhnya bukanlah hal baru, tokoh-tokoh seperti Muhammad Husain Haikal, Syaikh Yusuf Qardhawi dan  Syaikh Muhammad Quthb telah mengemukakan perlunya “penulisan ulang” sejarah Islam, namun lagi-lagi terjebak dalam sudut pandang sekular, chauvinis, nasionalisme sekular, nasionalisme Arab, sosialis, marxis, dan lain sebagainya (Muhammad Quthb, Perlukah Menulis Ulang Sejarah Islam Jakarta: GIP, 1995). Yang dimaksud menulis ulang adalah menghilangkan sejarah Islam dari unsur orientalisme, sekularistik dan meramunya dengan metodologi dan analisis dari bahan klasik agar tidak jua ketinggalan zaman. Maka jawaban yang ada adalah wajibnya landasan tashawur Islam atau worldview Islam dalam menulis serta mengkonstruk sejarah, diperkuat dengan metodologi, agar sirah Nabawiyah dan sejarah Islam pada umumnya semakin kaya analisa, plus menjawab tantangan tradisi keilmuwan sejarah Barat.
 
Adapun penulis sejarah Islam haruslah memiliki nilai burhani dan irfani yang menjadi karakter tradisi keilmuwan Islam, termasuk dalam ranah sejarah. Burhani berarti dalam penulisan dan narasi sejarahnya terdapat peranan analisis rasional, untuk memperoleh pengetahuan dalam rangka mencari kebenaran, tentu rasional di sini rasio (aqli) yang berlandaskan nilai-nilai ajaran Islam sendiri. Sedangkan irfani adalah pemahaman yang diraih dari instrumen batin, qalb (hati) atau intuisi. 
 
Maksudnya, keyakinan akan nilai-nilai Islam yang ada dalam benak, direfleksikan saat mengkonstruk sejarah baik dalam tulisan maupun lisan. Lagi pula penulisan sejarah itu pasti tidak terlepas dari subjektivitas dan kultur di mana sejarawan tersebut berasal. Bahkan kalangan non-Muslim sekalipun yang hendak menulis sejarah Islam, tetap harus mengetahui konsep nilai-nilai Islam serta landasan teologisnya, karena tanpa itu semua penulisan sejarah Islam akan gagal dipahami, dimengerti dan ditafsirkan.
 
Ilham Martasyabana
Pegiat Sejarah Islam
0 Komentar