Trump dan Nasib Keluarga Amerika

Rabu, 07 Desember 2016 - 08:06 WIB | Dilihat : 1777
 Trump dan Nasib Keluarga Amerika Keluarga Donald Trump

 

Kemenangan Donald John Trump atas rivalnya dari partai Republik, Hillary Rodham Clinton dalam pemilihan orang nomor satu di Amerika beberapa waktu lalu mengundang banyak reaksi. Baik reaksi positif maupun negatif. Ucapan selamat atas kemenangannya datang dari pemimpin sejumlah negara dunia tak terkecuali pemimpin negri-negri Islam. Indonesia pun turut mengucapkan selamat yang diwakili presiden Jokowi dalam jumpa persnya pada 9 November 2016 dengan tak lupa mengajak Presiden Amerika terpilih untuk tetap melanjutkan kerjasama terutama di bidang perdamaian dan kesejahteraan dunia (Tempo.co, 16/11). 
 
Di lain pihak kemenangan Trump diwarnai dengan aksi di berbagai wilayah di Amerika Serikat seperti di Newyork hingga California (Serambinews.com). Aksi atau unjuk rasa yang digelar oleh warga Amerika Serikat ini dipicu oleh pernyataan Trump yang memang dinilai banyak orang kontrovesial terkait dengan pengawasan warga muslim di Amerika, pelarangan muslim untuk masuk ke Amerika dan tentang anti-imigran ilegal (kompasiana.com). Trump yang memiliki visi untuk menjadikan  Amerika hebat kembali ini seringkali menyerukan sikap anti Islamnya dalam kampanye-kampanyenya sehingga banyak muslim –terutama muslimah- disana yang mendapatkan sikap intoleran dan Islamophobia dari warga lain. Hal ini juga yang akhirnya ditakutkan warga muslim bukan hanya warga asli Amerika tetapi juga yang berasal dari negri-negri muslim.
 
Memang di kalangan warga muslim yang ada di Amerika, percakapan yang mendominasi adalah ketakutan, penggeledahan terhadap mereka, peningkatan penyerangan secara fisik, pelarangan dan pengawasan ketat terhadap gerak mereka. Hal ini mengingatkan kita akan sejarah bagaimana Rasul dan para shahabat menghadapi berbagai penganiayaan , propaganda dan ancaman dalam upaya mereka mempertahankan dan menyebarkan aqidah Islam. Sungguh posisi kaum muslimin saat itu dan kini adalah luar biasa. Namun yang harusnya menjadi pemikiran juga pertanyaan dan renungan khususnya bagi warga muslim di Amerika dan umumnya di seluruh dunia adalah bagaimana kebijakan pemerintah AS dengan kepemimpinannya yang baru terhadap Islam dan kaum muslimin. Karena tidak sedikit ternyata kaum muslimin dan pemimpin negri-negri muslim yang berharap akan adanya perubahan.
 
Sama Tiada Beda
 
Apabila kita melihat pemilihan presiden pada tahun 2000 dan 2008 lalu di Amerika. Terpilihnya George W.Bush dan Obama sebagai presiden tidaklah menjadikan kehidupan kaum muslimin lebih baik. Waktu telah membuktikannya. Satu per satu presiden berganti, namun ternyata tiada bedanya Trump dengan para pendahulunya. Tetap saja kebijakannya terhadap negri-negri kaum muslimin adalah sama. 
 
Apa pasal? Karena Amerika dengan ideologi kapitalis yang diusungnya dan disebarkan ke seluruh dunia pada dasarnya memiliki khittah (garis/jalan) politik yang jelas. Apa khiththah tersebut? Tiada lain adalah menyebarkan ideologi kapitalisme dalam bentuk penjajahan gaya baru (neo imperialisme dan neo liberalisme) semata-mata untuk mempertahankan eksistensinya sebagai negara yang mendominasi dunia. Terutama kebijakannya menyangkut masalah Timur Tengah dan negara berkembang. Amerika tetaplah menjadi negara penjajah.
 
Hal itu di satu sisi. Disisi lain, bila kita cermati pernyataan Trump dalam kampanyenya ada satu hal yang menarik terkait dengan gender. Trump seperti dilansir oleh wartawan bbc, Katty Kay menyatakan bahwa perempuan yang melakukan aborsi harus dihukum juga kepada perempuan yang tidak mengganti popok bayi (bbc.com, 10/11). Rupanya komentar Trump ini mengundang reaksi positif sejumlah kaum perempuan dalam hal mendukung kehidupan (menolak aborsi) dan tumbuh kembang anak. Demikianlah komentarnya mengenai perempuan yang terkesan ingin mengembalikan posisi seorang perempuan dalam keluarga atau media menyebutnya sebagai peran tradisional perempuan.   
 
Entah komentar Trump mengenai gender tersebut akan terealisasi ataukah tidak. Kita akan melihatnya nanti. Namun, satu hal yang pasti bahwa itu bergantung kepada kebijakan Trump dalam bidang ekonomi dan nilai-nilai yang diusung negara kapitalis tersebut. Dalam salah satu kampanyenya Trump menjanjikan untuk mendatangkan lapangan pekerjaan  dan kesejahteraan bagi kelas pekerja terutama untuk perempuan (bbc.com, 10/11). Hal ini berarti bahwa perempuan tetap menjadi sumberdaya yang sangat diperhitungkan untuk meningkatkan perekonomian Amerika atas nama pemberdayaan perempuan. Perempuan tetap menjadi pihak yang dieksploitasi, baik tenaganya, pikirannya, maupun waktunya. Ditambah lagi dengan nilai-nilai kebebasan yang dianut oleh masyarakat Barat, mereka menganggap menjadi wanita karir adalah bagian dari kebebasan berekonomi. 
 
Dampaknya para wanita di Barat lebih memilih untuk berkarir dibandingkan dengan melaksanakan peran pentingnya dalam rumah tangga. Mereka lebih memilih keluar rumah untuk bekerja daripada menghabiskan waktu hanya demi mengurus rumah, menjaga dan mendidik anak-anak serta mengurus keperluan suaminya.
 
Kemudian apa dampak lanjutannya bila para wanita lebih memilih karir? Ternyata dampaknya luar biasa terhadap tingginya angka perceraian, degradasi akhlak dan tingginya kriminalitas. Setiap tahun Badan Demografi PBB merilis negara dengan angka perceraian paling tinggi di dunia. Dari hasil survei statistik di seluruh dunia, seperti dikutip dari Huffington Post, Amerika menempati posisi kelima tertinggi di dunia (viva.co.id, 12/10). Salah satu alasannya adalah faktor finansial selain faktor usia dan religiusitas. Mereka terbiasa melakukan pergaulan bebas terutama di kalangan remaja dan dewasa muda. Mereka yang tidak menikah terbiasa tinggal dalam satu atap atau memiliki anak hasil hubungan di luar nikah. Wajar saja akhirnya banyak dari anak hasil hubungan diluar nikah ini tidak diinginkan sehingga orangtuanya memilih untuk mengaborsi. Faktanya, lebih dari 3.000 bayi di Negeri Paman Sam terbunuh dengan adanya aborsi. Dan ternyata Amerika Serikat memiliki tingkat aborsi tertinggi di seluruh dunia (aktual.com, 5/15). Selain itu, anak-anak yang menjadi korban perceraian (broken home) akan tumbuh menjadi anak tanpa kasih sayang yang membuat mereka menjadi seorang kriminal di masa dewasanya.
 
Fakta diatas menunjukkan satu hal yang pasti bahwa dalam masyarakat yang menjunjung nilai-nilai kebebasan berperilaku, berekonomi/kepemilikan, kebebasan beragama akan sulit mengubah fakta yang ada di Amerika saat ini. Baik Trump maupun Hillary akan sulit untuk mewujudkan janjinya terkait dengan gender walaupun mereka menggandeng hukum.
 
Nasib Keluarga Amerika dan Dunia Muslim
Sekali lagi siapapun yang menjabat sebagai presiden Amerika saat ini, selama mereka memegang ideologi kapitalis-sekuler nasib perempuan dan kondisi keluarga Amerika tidak akan jauh berbeda. Para perempuan akan tetap menjadi pihak yang dieksploitasi dan kehancuran institusi terkecil dalam sebuah negara, yaitu keluarga pun tak terelakkan lagi. Namun masih ada satu pertanyaan lagi. Apa hubungannya dengan nasib keluarga di dunia islam?
Bagi seorang negarawan yang terbiasa mengamati masalah pengurusan warga negara dan konstelasi politik berbagai negara di dunia pasti akan menemukan benang merahnya dan mampu menjawab pertanyaan diatas. Kita tidak bisa melepaskan Trump –yang saat ini menjadi presiden AS- dengan haluan negara kapitalis sejati ini. Sebagaimana para pendahulunya, Trump pun akan menjalani haluan/khittah tersebut demi eksistensi negara super power ini. Sebenarnya dari dulu hingga sekarang khittah mereka tidak pernah berubah. Yang berbeda hanya cara dan sarana prasarananya saja. Dengan politik luar negerinya, tetap saja Amerika akan melakukan segala upaya untuk menyebarkan demokrasi dan paham kebebasannya ke seluruh dunia tidak terkecuali ke negeri-negeri muslim. Karena itulah yang membuat ideologi kapitalis-sekuler ini bertahan hingga sekarang walaupun keruntuhannya sudah terlihat disana-sini.
 
Pengaruh dari penyebaran ideologi kapitalis-sekuler semakin bisa kita rasakan sekarang. Bagaimana perilaku muslim laki-laki sedemikian bebasnya bergaul dengan  muslimah, dorongan untuk lebih memilih karir dibandingkan berumah tangga, degradasi moral yang memicu kriminalitas, penurunan nilai-nilai reliji/agama dsb. Dan memang inilah yang diinginkan oleh Negara Kapitalis Barat, yaitu menjauhkan kaum muslimin sejauh-jauhnya dari agamanya. Bahkan menjauhkan kaum muslimin dari sistem dan institusi politik yang merupakan junnah bagi mereka.
 
Kembali ke Sistem Islam
Fakta diatas barulah secuil dari kejahatan Amerika dan Ideologi kapitalis yang diembannya. Tidaklah layak bagi kita kaum muslimin yang beriman kepada Allah berharap kepada Trump untuk mendapatkan nasib yang lebih baik. Wahai kaum muslimin, kembalilah kepada hukum yang telah diturunkan oleh Sang Pengatur Alam, Allah SWT yaitu sistem Islam. Berjuanglah demi tegaknya Institusi Islam (Khilafah Islamiyyah) karena hanya dengan Khilafahlah kaum muslimin akan terlindungi, hak kaum non muslim terjaga, Islam dapat diterapkan secara kaffah, sekat-sekat nasionalisme yang membatasi gerak kita untuk membantu muslim di belahan bumi manapun tersingkir, sumber daya alam dan kekayaan di negeri-negeri kaum muslimin dapat kembali ke sisi kaum muslim dan yang terpenting mendapatkan rahmat dan ridho Allah Swt.
 
Sadarlah wahai kaum muslimin bahwa pergantian rezim tanpa perubahan sistem takkan mengubah apapun. Sudah saatnya kita membekali diri-diri kita dengan ketaatan hanya kepada Allah Swt dan perkuat pemahaman kita dengan siyasah yang menjadikan diri kita bergerak untuk bangkit dari keterpurukan dan mempertahankan negeri-negeri muslim dari penjajahan neo-imperialisme dan neo-liberalisme Barat. 
 
Nay Beiskara 
(Ibu Rumah Tangga)
1 Komentar