Hendardi Nyinyir Pada Aksi Bela Islam

Selasa, 06 Desember 2016 - 17:15 WIB | Dilihat : 10172
 Hendardi Nyinyir Pada Aksi Bela Islam Aksi Bela Islam III, 2 Desember 2016. [foto: shodiq/si]

Jakarta (SI Online) - Ketua Badan Pengurus Setara Institute Hendardi menyatakan penetapan tersangka terhadap Ahok dikarenakan adanya desakan massa. "Saya melihat adanya tekanan massa inilah, yang jadi penyebab penetapan tersangka," ujar Hendardi kepada Kompas (5/12). 

Sebelum Ahok ditetapkan sebagai tersangka, aksi unjuk rasa berlangsung pada Jumat (4/11). Aksi itu dilakukan untuk menuntut agar hukum ditegakkan dalam kasus dugaan penistaan agama yang dilakukan Ahok.
 
"Nuansa tertekan terlihat dalam proses penyidikan. Namun karena telah menjadi putusan institusi penegakan hukum, maka proses hukum harus dihormati," imbuh Hendardi.
 
Menurutnya, penetapan Ahok sebagai tersangka dinilai menjadi preseden buruk bagi kemajuan kebebasan beragama atau berkeyakinan di Indonesia. Penegakan hukum atas dugaan penodaan agama tidak sepenuhnya dijalankan dengan mematuhi prinsip due process of law.
 
Hendardi juga menyatakan bahwa proses P-21 terjadi sangat cepat.  "Secara umum tidak ada ketentuan batas waktu. Namun, memang ini terlalu cepat dan tidak lazim. Pernyataan P-21 begitu cepat," ujar Hendardi.
 
Pembela hak-hak minoritas ini juga menyatakan bahwa proses hukum Ahok harusnya dihentikan. "Saya menyatakan bahwa proses pidana atas dugaan penistaan agama atas Basuki semestinya tidak berlanjut karena yang bersangkutan telah meminta maaf," ucap Hendardi.
 
***
 
Hendardi dengan Setara Institutenya memang terkenal dengan sinismenya terhadap kaum Muslim. Dalam kasus Ahmadiyah, ketika kaum Muslim ramai-ramai menyatakan kesesatan Ahmadiyah, Hendardi dengan cepat membelanya. Begitu pula dalam masalah liberalisasi Islam, kaum minoritas dan Ahok, Hendardi menjadi garda terdepan untuk membelanya.
 
Begitu pula kini ketika jutaan massa Islam mendesak agar Ahok menjadi tersangka dan ditahan, Hendardi membela habis-habisan. Ia menyatakan kepada Kompas bahwa tekanan massa (Aksi Bela Islam) yang menyebabkan Ahok ditahan.
 
Penahanan Ahok, karena tekanan massa atau bukti-bukti yang kuat yang dimiliki polisi adalah hak polisi. Polisi sendiri kalau kita lihat sudah bertindak profesional, mengumpulkan barang bukti, saksi dan puluhan saksi ahli untuk menetapkan Ahok menjadi tersangka. Dari sini dugaan pendiri Setara Institute yang menyatakan bahwa penetapan Ahok sebagai tersangka, karena tekanan massa menjadi ‘gugur’.
 
Massa kalau dilihat secara jernih, hanya menekan polisi bertindak secara professional dalam menjalankan tugasnya. Karena polisi mendapat tekanan luar biasa dari istana untuk melindungi Ahok. Bila tidak ada tekanan massa, bisa diduga Ahok akan melenggang bebas. Karena Kapolri tentu tidak berani melawan titah presiden. Lihatlah bagaimana Ahok bebas dari hukum dari jeratan KPK, padahal jelas-jelas bukti setumpuk dalam masalah RS Sumber Waras, reklamasi dan lain-lain. 
 
Pernyataan Hendardi yang mendesak polisi membebaskan Ahok, karena Ahok sudah minta maaf, juga merupakan pernyataan yang ngawur. Dalam kasus Arswendo, Permadi, dan Lia Aminuddn, mereka sudah minta maaf  tapi hukum tetap harus berjalan. Bahkan Permadi menyatakan bahwa Ahok harusnya segera ditahan.  Permadi menyatakan bahwa Kapolri rasialis bila tidak menahan Ahok. “Saya, Arswendo dan Lia Aminuddin ditahan karena dituduh menghina agama, kenapa Ahok tidak,” kata Permadi dalam video yang menyebar luas di publik.
 
Permadi berharap Ahok segera ditahan untuk keadilan hukum dan digugurkan haknya menjadi kandidat calon gubernur. Karena tersangka atau terpidana tidak berhak untuk menjadi pejabat. [enha]
0 Komentar