Kursus Pra Nikah, Haruskah?

Sabtu, 03 Desember 2016 - 14:35 WIB | Dilihat : 725
Kursus Pra Nikah, Haruskah? Ilustrasi

 

Setiap tahun angka perceraian terus meningkat. Melihat hal tersebut Kementerian Agama berencana akan menambah durasi pranikah dengan tujuan untuk mengantisipasi meningkatnya angka perceraian.
 
Ketua Umum Pimpinan Pusat Aisyiyah Siti Noorjanah Djohantini menilai bahwa kursus pranikah perlu memaparkan tujuan pernikahan kepada calon pengantin. Tujuan yang berkaitan dengan ajaran Islam, generasi masa depan, dan aspek sosial, menurutnya pasangan suami istri perlu memahami cara berinteraksi yang baik untuk meraih tujuan pernikahan, pasangan suami istri juga perlu memahami ihwal kesehatan reproduksi  (kespro)dan harus bisa saling mengisi kelebihan dan kekurangan, jika hal itu terjadi maka suatu masalah bisa ditanggapi dengan bijak.
  
Isi dari durasi pranikah adalah UU perkawinan dan perlindungan kompilasi hukum Islam, UU KDRT, UU perlindungan anak disampaikan dalam rentang waktu khusus 16 jam, ini sulit bagi peserta kursus untuk memahami makna secara lebih mendalam, seperti ada paksaan, tetapi tidak terintegrasi dengan program pendidikan dan lain-lain.
     
Pemerintah seolah-olah peduli, sehingga negara merasa cukup menjelaskan dalam peran keluarga melalui  kursus pranikah. Padahal seharusnya sudah disiapkan terintegrasi dengan penyiapan individu-individu dalam program terintegratif negara, masyarakat dan keluarga.
 
Sementara, dalam kurikulum pendidikan adalah kespro ala liberal. Maka jelas ini tidak akan mampu membuat peserta kursus menanggulangi konflik pernikahan.
     
Padahal sebagian besar masalah perceraian  dampak dari tekanan ekonomi yang berat dan juga akibat pergaulan yang bebas sehingga berpeluang  untuk selingkuh. Apalagi dengan kondisi kapitalis yang memaksa  ibu bekerja sehingga seorang meninggalkan kewajibannya di rumah dan meninggalkan kewajiban sebagai seorang istri. Suamin pun demikian sibuk dengan pekerjaan lupa untuk mendidik istri dan anak.
 
Sehingga tidak terwujud keluarga sakinah mawadah wa rahmah.  Jadi penambahan durasi pranikah kurang tepat untuk mengatasi masalah perceraian. Solusi tuntas untuk masalah perceraian adalah harus ada kesadaran diri akan hak dan kewajiban suami isti berdasarkan keimanan. Tidak hanya itu saja harus ada juga kontrol masyaraka, dan tidak kalah penting adalah negara yang menerapkan aturan terkait persoalan ini.
 
Ketika Islam diterapkannya syariah Islam peluang untuk selingkuh ditutup rapat dan menyediakan sangsi bagi pelanggar peraturan pergaulan islam,dan dari sisi ekonomi juga masyarakat akan sejahtera karena tujuan di terapkanya sistem ekonomi islam untuk menyejahterakan umat
  
Sesuai firman Allah Swt, "Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi" (QS. Al-Araf: 96)

Wallahu a'lam bi ash-shawab.
 
Ai Sri Hayani
Ibu rumah tangga
0 Komentar