Penderitaan Muslim Rohingya dan Diamnya Demokrasi

Selasa, 29 November 2016 - 17:38 WIB | Dilihat : 1758
Penderitaan Muslim Rohingya dan Diamnya Demokrasi   Pengungsi Rohingya (foto: hngn.com)

Nasib kaum Muslim Rohingya semakin mengenaskan, jauh dari rasa aman dan nyaman. Kekejaman yang  dilakukan kaum Buddha sangat tidak manusiawi. Sekian banyak korban yang berjatuhan, setidaknya ada  130 orang tewas. Muslim Rohingya adalah kaum minoritas yang selalu menjadi incaran kebiadaban para kaum Buddha di Myanmar.  

Kaum Muslim berusaha untuk menyelamatkan diri dan keluarga, mereka terusir dari tanah kelahiran dan tempat tinggal mereka. Hingga mencoba untuk menyeberangi perbatasan Bangladesh. Namun sayangnya kehadiran mereka justru ditolak oleh penjaga perbatasan.
 
Di saat kaum Muslim Rohingya menderita dengan berbagai penyiksaan, dan menjerit meminta pertolongan pada penguasanya, mereka Bungkam. Seolah menutup mata dan telinga mereka dengan apa yang terjadi pada kaum Muslim Rohingya. Bahkan Menlu Myanmar, Aung San Suu Kyi tidak berkomentar apapun, apalagi mencegah dan menghentikan kekejaman yang terjadi. Dimana para pelindung HAM?  Apa yang dilakukan para penguasa Negeri Muslim? Kemana para pengagung Demokrasi? Inikah wajah Demokrasi  yang selalu mereka  banggakan? Diam seribu bahasa dengan berbagai kerusakan, kekejaman, dan ketidakadilan yang terus terjadi.
 
Semakin jelas bahwa Demokrasi telah gagal menjadi benteng pertahanan rakyatnya. Demokrasi mustahil menjadi  jalan bagi kaum Muslim untuk memenuhi kebutuhannya, apalagi menjadi pelindung dan penyelamat bagi musuh-musuh kaum Muslim. Hanya Islamlah yang dapat memecahkan segala problematika umat. Dengan diterapkannya sistem Islam kaum Muslim akan merasakan kemuliaan, kemanusiaan, keadilan dan keamanan. Bahkan tidak hanya kaum Muslim saja yang akan merasakannya, tetapi seluruh umat manusia, karena Islam Rahmatan lil 'Alamin.
 
Saryati 
Pengurus Komunitas Gaul Sehat 'KOGASE' Cilacap
0 Komentar