Kebangkitan Umat Diawali Kuatnya Persaudaraan

Senin, 28 November 2016 - 11:13 WIB | Dilihat : 3966
Kebangkitan Umat Diawali Kuatnya Persaudaraan Ilustrasi persaudaraan muslim
Berkaca pada sejarah. Ketika Turki dihantam dengan ideologi sekulerisme, Turki mengalami keterpurukan. Pemisahan antara agama dan kenegaraan. Jangankan pemerintahannya, bahkan adab-adab mereka jauh dari nilai-nilai yang digariskan Islam. 
 
Namun, saat Erdogan memimpin dan membangun kembali Turki dengan melandaskan sistem pemerintahan pada Alquran dan Sunnah, titik tolak perubahan terjadi. Turki menjadi salah satu negara yang diakui kehebatannya oleh bangsa Eropa karena memiliki kekuatan politik, ekonomi dan militer yang ditakuti oleh musuh-musuh Islam. 
 
Dari sinilah kita mampu menarik benang merahnya, bahwa kemunduran dalam dakwah bukan karena musuh kita kuat. Tapi karena kita yang lemah. Lemah dalam membangun sistem, lemah dalam mengatur strategi hingga lemah dalam membina persaudaraan.
 
Dalam tulisan ini, saya tidak perlu banyak berbicara lagi tentang pembangunan sistem dan pengaturan strategi. Karena sudah banyak tersebar buku-buku yang umumnya membahas tentang kaidah-kaidah qadhiyyah asasiah (isu-isu dakwah yang bersifat asasi) yang dapat membantu membentengi dakwah dan para pembelanya dari penyimpangan, kemandegan dan keterpecahbelahan. 
 
Itu artinya saya ingin menitikfokuskan pada pembinaan persaudaraan. Mengingat tidak sedikit organisasi yang pecah akibat dibombardir habis oleh turbulensi konflik-konflik internal yang tiada habisnya. Energi terkuliti habis oleh sentimen-sentimen para aktivisnya dan terkuras habis tidak lagi fokus pada tujuan besar dakwah. 
 
Tentu kita masih ingat, bagaimana ukhuwah kaum muslimin pada zaman generasi salafus shalih yang pada akhirnya membawa mereka pada kemenangan dakwah. Jika para aktivis dakwah masih berkutat dalam konflik internal organisasi, niscaya hanya menjadi petarung di arena itu. Lantas bagaimana ingin mewujudkan khilafah? 
 
Maka menjawab persoalan tersebut bukan berati kita mendiamkan dan menganggap remeh. Namun menyelesaikan satu demi satu yang dapat mengganggu kefokusan dalam menuju misi dakwah. Jika menasehati tidak lagi dengan etikanya, maka kemana sikap saling menghargai sesama saudara seiman? Jika ghibah dan namimah masih membluder dalam bincang-bincang aktivis, kemana lagi forum keterbukaan qodhoya? Jika taklimat-taklimat pimpinan selalu diserang, kemana lagi sikap sami'na wa atho'na terhadap amir yang sudah memiliki worldview masa depan organisasi dalam rumusan narasi dakwah? 
 
Dalam kesempatan lain, Hasan Al Banna mengatakan "Bersikaplah kamu terhadap orang-orang seperti pohon, orang-orang melemparinya dengan batu, tetapi pohon itu sebaliknya melempari mereka dengan buahnya". Jadi jangan lagi lempar dengan ranting yang bisa menyulut api makin membesar. Kita mendoakan orang-orang yang tenggelam dalam prasangkanya, semoga Allah melimpahkan kebaikan padanya dan menunjukkan yang haq. 
 
Jika prinsip persaudaraan ini diamalkan oleh seluruh pemangku amanah, maka Allah akan memberi mereka penerangan. Dakwah akan menemukan keridhoanNya karena para aktivisnya tidak hanya cerdas membangun sistem, tapi mampu membina persaudaraan dengan baik. Karena persaudaraan adalah watak muamalah KAMMI. 
 
Wahyu Cahyaningrum
Wasekum Kaderisasi KAMMI Bogor
0 Komentar