Kezaliman Penguasa dan Media terhadap Suara Umat Islam

Kamis, 24 November 2016 - 21:23 WIB | Dilihat : 5367
Kezaliman Penguasa dan Media terhadap Suara Umat Islam Aksi Bela Islam II 4 November 2016

Jumat, 4 November 2016 lalu Kota Jakarta menjadi  saksi perjuanganumat Islam dalam membela kitab suci Alquran. Aksi Damai Bela Quran atau popular disebut Aksi Damai 411  merupakan bukti bahwa umat Islam tidakmati. Umat Islam dari berbagai ormas di penjuru wilayah Indonesia berkumpul di Jakarta menuntut keadilan  di negeri ini atas kasus penistaan agama dan penistaan Alquran. Unjuk rasa tersebut menyita banyak perhatian. Polisibahkan telah menyiagakan belasan ribu personel gabungan demi mengamankan aksi demo damai 4 November tersebut.

Lebih dari satu juta orang berkumpul di Ibu kota Jakarta secara rapi dan melakukan aksi secara damai menggunakan uang sendiri, bahkan secara gotong-royong mendapat bantuan dan sambutan antusias dari masyarakat, masjid-masjid dan kelompok ibu-ibu yang rela membuka dapur umum. Banyak yang  mengatakan inilah aksi jalanan terbesar sepanjang sejarah pendirian Republik Indonesia untuk menuntut pelaku penistaan agama yang dilakukan oleh Gubernur Jakartga
 
Mereka bukanlah massa bayaran seperti yang sering dituduhkan media umum. Mereka hanyalah jutaan orang yang atas keingin sendiri karena hati dan perasaannya terketu untuk menemui presidennya guna menyampaikan aspirasinya atas penistaan agama dan Alquran . Jauh-jauh dari berbagai propinsi datang jika  tidak karena semangat keimananlah, mustahil mampu menggerakkan jutaan orang bergerak dalam Aksi Damai 4 November lalu.
 
Sayangnya, jumlah umat Islam dalam Aksi Damai Bela Quran Jumat 4 November 2016 rupanya tak mampu menggerakkan hati Jokowi  untuk menemui rakyatnya. Padahal, peserta aksi damai tersebut adalah umat Islam dan para ulama. Sungguh naïf, apabila ada sosok pemimpin muslim yang seharusnya mengurusi urusan rakyatnya  namun ia menutup pintu, membuang badan  dan kabur saat para ulama dan umat Islam datang dan ingin menemuinya.
 
Padahal, ulama adalah pewaris para nabi dan penyambung lidah umat. Lantas, apakah akhlak seorang pemimpin muslim seperti itu? Tentu sikap Jokowi melukai umat Islam.
 
Bagaimana tidak, Jokowi yang dikenal dengan blusukannya, menyapa dan menemui rakyatnya namun 4 November lalu rakyat Indonesia kehilangan presiden. Di saat umat Islam ingin menyampaikan aspirasinya, Jokowi justru memilih untuk mengurusi proyek tidak terlalu penting di Bandara Cengkareng. Yang lebih menyakitkan,  Jokowi justru menuduh ada aktor politik yang menaungi di balik Aksi Bela Islam. Tentu hal ini dapat mengaburkan opini terhadap suara umat yang murni membela agama lewat Aksi Damai 411. Secara tidak langsung penguasa negeri ini telah mengabaikan suara umat.
 
Kezaliman Media Massa terhadap Suara Umat Islam
 
Di sisi lain,  Aksi Damai Bela Quran juga tak mampu menyedot perhatian media massa di Indonesia yang sering menganggap selalu netral. Alkisah, Aksi Damai Bela Quran, Jumat 4 November 2016 akhirnya minim dari pemberitaan. Banyak media-media umum memilih untuk tidak memblow up aksi tersebut secara besar-besaran. Sebagaimana biasa, kalaupun ada, lebih banyak tidak jujur melihat fakta.
 
Di antara ketidakjujuran itu adalah memuat fakta jumlah dan mengambil angle lain, dengan mengabaikan materi utama (berupa tuntutan lebih satu juta orang). Media-media mainstream selalu bangga menyebut dirinya sebagai kontrol sosial dan bersikap adil, namun yang kita lihat, mereka justru banyak disetir oleh kepentingan-kepentingan politik.
 
Tak heran banyak media-media mainstream kita saksikan melakukan kebohongan-kebohongan dalam menyampaikan berita kepada masyarakat. Ada sebuah televisi yang sangat istiqomah menyebut jumlah orang menyebut di Monumen Nasional (Monas) Jakarta dengan angka ribuan, tidak jutaan. Banyak media terang-terangan sibuk menyorot kesuruhan (lebih tepat kericuhan kecil), bukan inti persolan, berupa tuntutan penegak hukum pada penista agama.
 
Bila dianggap media adalah pilar keempat demokrasi, dan demokrasi identik dengan kebebasan dan hak suara, maka mestinya sadar bahwa media saat ini hanya memberi ruang kebebasan untuk menghina Islam dan menzalimi /melarang kebebasan untuk umat yang membela kehormatan dan agamanya.
 
Lihat saja, media mainstream dan media asing seolah bersekongkol membuat citra buruk Aksi Damai Bela Islam hanya sibuk mengangkat rusuh dalam kasus penjarahan di Penjaringan serta mengecilkan jumlah peserta aksi, menuduh aksi di tunggangi kepentingan politik (PILKADA), disusupi ISIS atau agenda khilafah dengan menyebut hardliner vs Kristen Ahok.
 
Tak hanya media nasional, media asing yang kita anggap selalu bisa fair saja tak mampu adil. BBC memberitakan aksi tersebut dengan judul Indonesia protest Jakarta anti-governor rally turns violent  (Demonstrasi Indonesia: Unjuk Rasa Anti-Pemerintah Jakarta Berubah menjadi Kekerasan). Bahkan dalam artikel tersebut, BBC menaksir unjuk rasa terkait kasus dugaan penistaan agama gubernur Jakarta di ikuti sekitar 50 ribu orang.
 
Sementara itu Koran Australia, Sidney Morning Herald, menurunkan judul Jakarta Protest: Violence on the Streets as Hardline Muslims Demand Christian Governor Ahok be Jiled (Demonstrasi Jakarta: Kekerasan di Jalanan ketika garis keras muslim menuntut Gubernur Kristen Ahok Dipenjara). Di koran tersebut menyebutkan bahwa unjuk rasa diikuti sekitar 150 ribu massa dari berbagai ormas keagamaan di Jakarta.
 
Lain halnya dengan CNN yang melaporkan bahwa ribuan demonstran bergerak dari Jakarta untuk menuntut apa yang disebut media ini  sebagai Gubernur Jakarta yang dituduh Menghina Muslim. CNN hanya menaksir pengunjuk rasa berjumlah 200  ribu orang saja.
 
Tak ketinggalan, media Singapura, Straits Times, yang mengutip Kapolri Tito Karnivan, dalam artikel yang bertajuk, Indonesian ISIS sympathisers expected at Anti Ahok rally on Nov 4 dimana mnyebutkan Ada kemungkinan pendukung lokal ISIS akan bergabung bersama kelompok garis keras dalam demo 4 November, Kata Tito.
 
Dari peristiwa ini sangat nyata  bagaimana media berusaha untuk mengalihkan dan mengecilkan suara umat Islam.
 
Dengan kejadian ini, saatnya  umat Islam harus mampu berfikir cerdas dan memilih.  Berita media mana saat ini yang kita perlukan dan harus kita buang. Dengan ini umat Islam mampu membedakan antara fakta, opini, dan propaganda media yang berusaha untuk memecah belah umat Islam.
 
Bagaimana mengaitkan agenda tersebut dengan kondisi umat saat ini? Pertama: Menguatkan penolakan ummat dan rakyat negeri terhadap media mainstream yang terlahir dari paham ideologi beserta semua pemikiran dan sistem yang terlahir darinya, seperti demokrasi, liberalisme, HAM, pluralisme dan lain-lain; bahwa semua itulah adalah biang penyebab keterpurukan negeri ini.
 
Kedua: Mengokohkan pemahaman umat bahwa tidak ada solusi yang baik dan benar kecuali Islam. Itu hanya akan terwujud manakala syariah diterapkan secara kâffah dalam naungan Khilafah Islamiyah. Inilah yang harus terus menerus diserukan ke tengah umat hingga menjadi tuntutan umat sekaligus menjadi keinginan dan tekad ahlul-quwwah, para pemegang kekuasaan riil. Bahkan mereka tak ragu menyerahkan kekuasaan kepada gerakan Islam yang sungguh-sungguh berjuang untuk mengakkan Khilafah.
 
Ketiga: Meyakinkan umat bahwa nasib mereka ditentukan oleh mereka sendiri. Karena itu umat harus bergerak dan berjuang menegakkan Khilafah. Jangan sekali-sekali meminta perolongan kepada negara-negara kafir penjajah.
 
Apalagi menyerahkan nasib kita kepada mereka. Jika diserahkan kepada mereka, bukan solusi yang didapat, namun justru bencana. Mereka akan terus membuat berbagai makar untuk menghancurkan Islam dan umatnya.
 
Insya Allah, dengan izin dan pertolongan Allah Swt, harapan itu akan benar-benar menjadi kenyataan. Untuk itu, saatnya mentukan sikap dengan terus memperjuangkan tegaknya kembali Khilafah rasyidah ala minhaj nubuwwah, yang akan menjadi perisai bagi umat. Wallahu a’lam bisshawwab.
 
Restu Febriani
Mahasiswi
1 Komentar