Takuik Jo Badia Lari Ka Pangkanyo

Minggu, 20 November 2016 - 10:31 WIB | Dilihat : 1730
Takuik Jo Badia Lari Ka Pangkanyo Jokowi di Markas Marinir

 Agar judul tulisan saya ini bisa dipahami oleh teman teman yang bukan berasal dari Sumatera Barat dan tak mengerti bahasa Minang, saya akan translitkan ke dalam bahasa Indonesia. Sebelum ambo translitkan, masing masing kata ambo tuliskan artinya ke dalam bahasa Indonesia.

Takuik = Takut
Jo = dengan = sama
Ujuang= ujung
Badia. = Bedil / Senapan
Pangkanya = pangkalnya. Yang dimaksud dengan pangkalnya disini adalah PELATUK Senapan.
 
Jadi judul diatas jika ditraslit kedalam bahasa Indonesia akan terbaca; "Takut dengan Laras Senapan Larilah ke Pelatuknya". 
 
Takut dengan Badia jangan lari kemana mana, larilah ke pangkalnya.
 
Saya tidak tahu bagaimana situasi kebatinan bapak Presiden kita saat ini. Apakah beliau takut atau tidak takut dengan aksi demo susulan yang bakal digelar oleh umat Islam pada tanggal 2 Desember mendatang?
 
Jawaban yang pasti tentu ada pada pak Jakowi. Kita hanya bisa melihat menebak-nebak apa yang sesungguhnya yang ada dipikiran Pak Jokowi hanya beliau yang tahu.
 
Tapi dari tindakan tindakan dan aksi aksi yang telah beliau lakukan. Seperti berkunjung ke Markas Brimob, menyambangi Markas Kopassus, berpidato di markas TNI AU, selain mungkin mengisyaratkan bahwa angkatan bersenjata di negara ini masih setia kepada beliau dan tidak akan kudeta seperti yang diinginkan sebagian kita. Cucu saya Aura berumur 4,5 tahun pun tahu bahwa pak Presiden seperti ketakutan.
 
Wajar beliau takut. Sebab sejarah telah memberikan pelajaran kepada pemimpin bangsa ini, bahwa; Bung Karno tumbang akibat ada demo, Pak Harto yang dikenal dengan rezim orde barunya juga tumbang setelah didemo secara besar besaran. Dari kedua peristiwa, ABRI yang semula dianggap setia akhirnya memilih bersama rakyat. " Wong kita dari rakyat kok, pastilah akan memposisikan dirinya berada di belakang rakyat".
 
Kegiatan yang dilakukan oleh pak presiden menyambangi markas "pemegang alat perang" termasuk menyambangi beberapa kiyai. Justru dengan mengundang beberapa orang ulama ke istana membuat "sakitnya tuh disini". Para ulama yang diundang itupun sesungguhnya menyadari bahwa mereka sedang " dipergunakan". Upaya upaya tersebut yakinlah tidak akan jitu dan tak akan ampuh dijadikan obat pembasmi untuk meredakan kemarahan sebahagian besar umat Islam di tanah air.
 
Idiiiih... Kamu kayak pengamat aja Yuharzi, ujar teman teman mungkin?
 
Saya bukan pengamat tapi saya suka membaca. Tadi saya baca berita online. Fahri Hamzah mengatakan seharusnya presiden secepatnya turun tangan melakukan langkah upaya meredam agar demo jilid tiga itu tidak jadi digelar.
 
"Kalau bisa approach secara lebih dini. Karena sampai sekarang presiden sudah ketemu semua orang tapi belum mau ketemu Kyai Rasyid, Habib Rizieq, Ustaz Bachtiar yang sebetulnya jadi inti dari kordinator gerakan ini. Apa salahnya kalau presiden mau ketemu beliau beliau itu?" kata Fahri di Gedung DPRI, (tulis salah satu berita Online)
 
Bertemu dengan Kyai Rasyid, Habib Rizieq, Ustaz Bachtiar inilah yang ambo maksud dengan "Kalau Takut Jo ujuang Badia Lari ka Pangka Badia". Jangan gengsi menemui beliau beliau itu. Bukankah dalam hadisnya Rasulullah mengingatkan umara harus mendekati ulama. Bukan ulama yang harus merapat ke Umara.
 
Kita harapkan pak presiden kita melakukan seperti itu hendaknya. Jika beliau bersedia saya pastikan Insya Allah demo 2 Desember tak akan ada. Aamiin YRA. Anda setuju?

Yuharzi Yunus
1 Komentar