Sikap Pemerintah Ali bin Abi Thalib dalam Sejarah Perang Jamal

Kamis, 17 November 2016 - 07:04 WIB | Dilihat : 3887
Sikap Pemerintah Ali bin Abi Thalib dalam Sejarah Perang Jamal Ilustrasi
Ali bin Abi Thalib RA keluar dari ibukota Kekhalifahan, Madinah, pada akhir Rabbiul Akhir tahun 36 H ke Rabadzah. Di sana rombongan Ali, yang belakangan jumlahnya bertambah pesat, sempat bertemu dan dinasihati oleh Abdullah bin Salam, sahabat Nabi SAW juga. Tetapi Ibnu Salam malah dicela sebagai Yahudi oleh sebagian orang dari rombongan Ali (dahulu Ibnu Salam beragama Yahudi, namun masuk Islam pasca Rasulullah datang ke Madinah) namun Ali menyangkal celaan pasukannya sendiri ke Ibnu Salam. Ali mengingatkan rombongannya bahwa Ibnu Salam adalah sahabat Rasulullah yang banyak keutamaan, Ibnu Salam merupakan Yahudi Madinah pertama yang beriman kepada Rasulullah.
 
Setelah kejadian itu Hasan bin Ali, putra Ali menyarankan ayahnya agar kembali saja ke Madinah agar tidak terjadi fitnah. Sepertinya Hasan mengetahui bahwa para sahabat Rasulullah yang tidak sependapat dengan pemerintahan ayahnya, hanya berbeda ijtihad saja dan mencoba menjelaskan kepada masyarakat pendapat mereka tentang kasus terbunuhnya Utsman. Jika Ali keluar dengan rombongan besar, opini umat Islam yang berkembang ialah seolah-olah akan terjadi perang, di mana masalah sebenarnya hanya perbedaan pendapat saja serta tidak ada dari kedua belah pihak yang niat berperang. Dialog antara putra (Hasan) dan ayah (Ali) itu terjadi, di mana masukan Hasan tidak diterima oleh ayahandanya.
 
Pemerintahan Khalifah Ali memiliki pandangan tersendiri terkait tragedi pembunuhan Khalifah Utsman oleh para pemberontak, bahwa prioritas utama yang lebih wajib didahulukan adalah mendinginkan suasana dan menstabilkan keadaan negara, tidak terburu-buru membuka penyelidikan dan mengejar pelaku pembunuhan, karena fitnah baru saja terjadi serta pembunuhan itu dilakukan oleh sejumlah massa yang berasal dari penduduk di berbagai wilayah Kekhalifahan, yakni Mesir, Kufah dan Bashrah. 
 
Kalau saja Khalifah Ali mendahulukan penyelidikan dan bersegera menghukum para pembunuh Khalifah Utsman, maka fitnah dan distabilitas sosial-politik akan semakin membesar karena komplotan pembunuh Khalifah Utsman mencapai angka ribuan orang dan tersebar di berbagai wilayah. Lagi pula identitas mereka samar serta tidak diketahui secara personalnya. Khalifah Ali sendiri mengetahui kalau sebagian komplotan pembunuh Utsman ada di barisannya meski demikian, Ali menilai akan lebih aman mereka ada di barisannya, sehingga setelah situasi sosial-politik stabil, penyelidikan dan proses hukum terhadap komplotan pembunuh Utsman dilaksanakan, mereka tinggal diringkus saja.
 
Sebagian dari komplotan tersebut memang hidup sebagai bagian dari kaum Muslimin, hanya saja berpaham menyimpang akibat fitnah, provokasi dan doktrin yang disebarkan oleh Abdullah bin Saba. Tokoh ini di kemudian hari dikenal sebagai tokoh pendiri paham sesat Syi’ah. Ia dan komplotannya merupakan figur sentral terjadinya fitnah di masa Khalifah Utsman yang kemudian berbuntut di masa Khalifah Ali.  
 
Maka akan lebih baik kondisi sosial-politik harus distabilkan dan dikendalikan lebih dahulu, setelah itu barulah orang-orang yang terlibat dalam pembunuhan Khalifah Utsman ditangkap dan dihukum. Langkah itu harus diawali dengan menyatukan suara kaum Muslimin, agar tidak menimbulkan keributan dan perselisihan.
 
Khalifah Ali mengutus Ammar bin Yasir dan Hasan bin Ali ke Kufah, menjelaskan dan mengajak penduduk Kufah serta wilayah-wilayah lain agar mematuhi kebijakan politik pemerintah, serta mengingatkan mereka akan wajibnya menaati pemimpin di wilayahnya masing-masing. Sebelumnya Ali sempat mengutus Ibnu Abbas dan Al-Asytar, serta Muhammad bin Abu Bakar dan Muhammad bin Jafar untuk membujuk Abu Musa Al-Asy’ari di Kufah untuk turut bergabung, menyamakan sikap dengan Ali, namun empat orang tersebut gagal mempengaruhi Abu Musa, bagi pemerintahan Ali jika penyamaan sikap kaum Muslimin sudah terlaksana, maka mencari, menangkap dan menghukum pembunuh Khalifah Utsman akan jauh lebih mudah, di samping kesatuan umat juga telah kokoh. Pemerintah mengharapkan hendaknya para sahabat Rasulullah dan kaum Muslimin tidak berbeda sikap dalam hal ini.
 
Baik rombongan Ali maupun rombongan Aisyah, mereka sama-sama melaknat dan mencari kelompok pembunuh Khalifah Utsman tetapi berbeda pendapat dalam timingnya saja. Kelompok Aisyah, Thalhah dan Zubair meminta sesegera mungkin menangkap dan menghukum para pembunuh Khalifah Utsman, sama seperti ahlu Syam di bawah pimpinan Muawiyah bin Abu Sufyan, sedangkan kebijakan politik pemerintah Ali memilih untuk menangguhkan dahulu penyelidikan dan penangkapan, serta memilih bersikap “cerdik” dalam menyelesaikan perkara pembunuhan Khalifah Utsman.
 
Sumber: Shahih Tarikh Ath-Thabari jilid 3 (Jakarta: Pustaka Azzam, 2012), Tarikh Khalifah bin Khayyath (ebook/pdf), Al-Bidayah wa Nihayah masa Khulafaurasyiddin (Jakarta: Darul Haq, 2012)
 
Ilham Martasyabana
Pegiat Sejarah Islam
0 Komentar