Habib Rizieq Syihab: Target Kita Penjarakan Ahok

Minggu, 13 November 2016 - 21:01 WIB | Dilihat : 16751
Habib Rizieq Syihab: Target Kita Penjarakan Ahok Habib Muhammad Rizieq Syihab


Habib Muhammad Rizieq Syihab
Imam Besar Front Pembela Islam (FPI)
Pembina GNPF-MUI
 

Lambatnya penanganan kasus penistaan Alquran oleh Gubernur DKI non-aktf Ahok telah menyulut kemarahan umat Islam seluruh Indonesia. Terkesan ada pembiaran, bahkan pemihakan aparat.  Aksi Bela Islam 4 November lalu menjadi tonggak penuntutan umat Islam agar Ahok segera ditangkap diadili. 

Untuk memahami masalah ini, Suara Islam mewawancarai Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Muhammad Rizieq Syihab. Berikut petikannya: 

Fatwa MUI Pusat sudah jelas menyatakan Ahok telah menistakan agama dan karena itu melanggar KUHP Pasal 156a jo pasal 310-311 tentang pencemaran nama baik agama. Tapi Polisi terkesan lambat menangani kasus ini. Mengapa ? Apakah benar ada indikasi Polisi melindungi Ahok sebagai Penista Agama ? Menurut Habib bagaimana ?
 
Saya mencium adanya aroma intervensi Presiden dalam Kasus Ahok, sehingga membuat Polri menjadi kikuk dan lambat dalam penanganannya. 
 
Ahok itu kawan Presiden. Dan Ahok itu Cagub yang diusung dua Partai Besar yaitu PDIP dan Partai Golkar, dan juga diusung oleh Partainya Menko Polhukam, sehingga politisasi kasus untuk melindungi Ahok akan menjadi tekanan tersendiri bagi Polri.
 
Jadi, saya yakin bahwa sebenarnya bukan Polri yang lindungi Ahok, tapi Presiden dan Menko Polhukam serta partai-partai pengusungnya yang melindungi.

Muncul juga persoalan tentang terjemah Alquran tentang Al Maidah 51 khususnya arti kata Aulia. Bagaimana pandangan Habib ?
 
Kata Auliyaa jamak dari Wali, yang pada dasarnya bermakna dekat, sehingga ada istilah Waliyullah yang artinya orang yang dekat dengan Allah SWT. Namun secara bahasa mau pun 'urf dan istilah, kata Wali memiliki banyak arti, antara lain: Teman Setia, Pelindung, Penolong dan Pemimpin.
 
Nah, Surat Al-Maaidah boleh saja dimaknai dengan salah satu makna tersebut di atas, tapi tidak boleh dibatasi dalam salah satu makna saja. 
 
Artinya, ayat tersebut mencakup semua makna dimaksud, sehingga Larangan Mengangkat Yahudi dan Nashrani berlaku dalam soal Orang Dekat, Teman Setia, Pelindung, Penolong dan Pemimpin.
 
Dan perlu dicatat, bahwa jika Yahudi dan Nashrani tidak boleh jadi Orang Dekat, Teman Setia, Pelindung dan Penolong bagi orang beriman, apalagi jadi Pemimpin, karena seorang pemimpin itu harus jadi Orang Dekat, Teman Setia, Pelindung dan Penolong bagi orang yang dipimpinnya.
 
Polisi berdalih menunggu Izin Presiden untuk memeriksa Gubernur DKI Jakarta ? Sementara beberapa Gubernur diperiksa polisi tanpa izin Presiden, seperti Gubernur Lampung, Gubernur Sumatera Utara. Bagaimana pendapat Habib ?
 
Itu kan alasan yang dicari-cari untuk meloloskan Ahok. Kalau pun dulu pernah ada aturan yang mengharuskan izin Presiden untuk pemeriksaan Gubernur, tapi itu sudah dibatalkan Mahkamah Konstitusi, jadi tidak bisa lagi dijadikan sebagai argumentasi hukum.
 
Kasus Penistaan Agama oleh Gubernur DKI Jakarta ini telah membuat umat Islam di daerah-daerah lain juga melancarkan demo menuntut agar Gubernur DKI jakarta segera ditangkap dan diproses hukum..? Bisakah terjadi Darurat Sipil seperti yang dikhawatirkan mantan Ketua Hendropriyono ?
 
Sangat Bisa. Jika Presiden sengaja memandulkan kinerja Polri, dan tetap melindungi serta membela Penista Alquran, maka kepercayaan masyarakat terhadap hukum akan ambruk, sehingga akan terjadi kekacauan dimana-mana. Pada akhirnya akan bermuara kepada Presiden. Maka bisa jadi unjuk rasa berubah jadi people power. Dari sana bisa saja Darurat Sipil diberlakukan.

Banyak yang mengkhawatirkan terjadi intervensi Istana mengamankan kasus Ahok? Bagaimana menurut Habib?
 
Sekurangnya ada tiga indikasi Intervensi Istana dalam Kasus Ahok: Pertama, pernyataan Kabareskrim bahwa pemanggilan Ahok tunggu "izin Presiden", walau pun kemudian pernyataan itu ditarik kembali.
 
Kedua, Ahok sebelum datang ke Reskrim Mabes Polri, singgah dulu menemui Presiden di Istana. Nah, jangan salahkan publik, jika kemudian menilai bahwa Temu Presiden tersebut dalam rangka Koordinasi Kasus.
 
Ketiga, sejak awal terjadi penistaan hingga saat ini, tak satu pun kata diucapkan Presiden. Padahal kasusnya telah menghebohkan secara nasional, bahkan internasional. 
 
Jika Presiden tidak intervensi, kenapa Presiden tidak berani memberi pernyataan dalam Kasus Ahok bahwa "Hukum Harus Ditegakkan", sebagaimana yang dilakukan Presiden dalam kasus "Pungli Sepuluh Ribu Rupiah" ... ?! Atau seperti pernyataan Presiden dalam menyikapi rencana Aksi Bela Islam tanggal 4 November 2016.
 
Bagaimana dengan wacana Istana tersandera oleh Ahok, karena Ahok pernah katakan : "Jokowi Jadi Presiden Karena Adanya Dana Para Pengembang China." Komentar Habib ?
 
Ucapan Ahok tersebut diyakini publik sebagai info jujur dan benar, karena sama sekali tidak pernah dibantah oleh Presiden. Dengan demikian, sangat tepat jika kemudian hal tersebut ditengarai sebagai "alat pemerasan politik", sehingga Presiden tersandera oleh Ahok.
 
Habib Rizieq memimpin Aksi Bela Islam II, Jumat 4 November 2016. [foto: Twitter Fadli Zon]
 
Ahok pada Senin 24/10 setelah ke Istana, langsung menuju Bareskrim. Jadi sebelum dipanggil untuk pemeriksaan, kesannya Ahok justru mendahului memberikan penjelasan. Bagaimana tanggapan Habib ?
 
Kedatangan Ahok ke Reskrim Mabes Polri sekurangnya ada dua target yang mau dicapai : 
 
Pertama untuk beri kesan bahwa Reskrim sudah memeriksa Ahok sebagai bagian dari Proses Hukum. 
 
Kedua, untuk pencitraan bahwa Ahok berjiwa besar dan bertanggung-jawab sehingga datang sendiri tanpa dipanggil.
 
Padahal, saat Ahok datang ke Reskrim hingga saat ini belum diketahui, apakah Ahok pernah di BAP (Berita Acara Pemeriksaan) ? Yang jelas ada hanya BAK (Berita Acara Klarifikasi). 
 
Jadi, itu semua hanya akal-akalan yang sudah dikoordinasikan dan dikonsolidasikan Ahok dengan Rezim Penguasa. 
 
Buktinya, usai Klarifikasi, Kabareskrim terus terang tanpa malu menyatakan bahwa Ahok bisa kena Hukum Islam, tapi Hukum Positif belum tentu.
 
Padahal, Penistaan Agama sama-sama dilarang dalam Hukum Islam mau pun dalam Hukum Positif. Jadi, dari mana datangnya kena Hukum Islam tapi tidak kena Hukum Positif ???!!!
 
Ada banyak wacana di medsos, atas terjadinya Penistaan Agama, jika proses hukum tidak bisa berjalan, ada kelompok-kelompok yang bersedia menyelesaikan kasus ini secara syar'i..? Menurut Habib ?
 
Oh ya. Itu betul. Dalam Petisi Bela Islam tgl 14 Oktober 2016 telah dinyatakan bahwa jika Pemerintah membiarkan, apalagi melindungi dan membela Ahok Si Penista Agama, maka Ulama akan lepas tangan jika ada pihak yang ingin mengeksekusi Ahok dengan Hukum Islam.

Tanggal 4 November ini direncanakan akan ada lagi aksi besar umat Islam menuntut agar proses hukum Ahok segera bisa diproses. Tapi Ahok mendahului dengan setelah ke Istana, Ahok mendatangi Bareskrim. Apakah Aksi 4 November tetap terus dilaksanakan ?
 
Tetap. Target Aksi adalah PENJARAKAN AHOK.
 
Bagaimana pendapat Habib tentang pernyataan Kapolri yang melarang tekanan massa dalam kasus  Ahok ?
 
Demo itu hak tiap warga negara yang dilindungi Undang-Undang, sehingga siapa pun tidak berhak melarang. Setahu saya Kapolri tidak pernah melarang Ddmo, hanya beliau mengingatkan bahwa Demo tidak boleh anarkis.
 
Apakah kasus Ahok ini akan bisa melibatkan institusi yang lebih besar, misalnya kemarahan umat berimbas ke istana ?
 
Sangat bisa. Jika Jokowi terus menerus melindungi dan membela Penista Agama, maka berarti Jokowi merestui pelanggaran hukum. Itu merupakan Pelanggaran Konstitsi, sehingga umat bisa mendesak DPR dan DPD untuk menggelar Sidang MPR untuk pelengseran Jokowi.
 
Ada yang berpendapat Ahok dan Jokowi ini satu paket. Menurut Habib, bagaimana kepemimpinan mereka ? 
 
Menurut analisa saya, berdasarkan berbagai data dan fakta, indikasinya memang Jokowi Ahok satu paket. 
 
Dan bisa jadi Jokowi dan Ahok itu hanya paket biji pion dalam percaturan selingkuh politik internasional antara Komunisme dan Kapitalisme.
 
Apa hikmah di balik peristiwa penodaan agama ini ? 
 
Hikmahnya anyak sekali, antara lain: umat Islam menjadi kompak bersatu. Lalu berbagai pihak akan lebih hati-hati dalam membuat pernyataan terkait agama. Kemudian semua orang bisa melihat bagaimana dahsyatnya Alquran, satu ayatnya dihina, heboh ke seantero dunia. Alhamdulillaah. ...
 
0 Komentar