Partai Islam Sejati Hanya Perjuangkan Islam Kaffah

Minggu, 13 November 2016 - 11:05 WIB | Dilihat : 2515
 Partai Islam Sejati Hanya Perjuangkan Islam Kaffah Ilustrasi

 

Senin, 17 Oktober 2016 lalu, Partai Persatuan dan Pembangunan (PPP) kubu Djan Faridz mendeklarasikan dukungannya kepada pasangan Cagub dan Cawagub, Ahok-Djarot. Partai berlambang Kabah itu memang mengalami dualisme kepemimpinan, sehingga terdapat perbedaan pendapat dalam menentukan kebijakan terkait dukungan terhadap calon gubernur DKI. PPP Kubu Djan Faridz mengambil sikap berbeda dengan PPP Kubu Romahurmuziy (Romi) dalam mendukung jagoannya di Pilkada DKI. 
 
Sementara itu, Dewan Perwakilan Wilayah Partai Persatuan Pembangunan (DPW PPP) DKI Jakarta menolak upaya Djan Faridz yang secara tidak sah dan mengatasnamakan DPP PPP mendukung Ahok-Djarot di Pilkada DKI Jakarta 2017. PPP Jakarta menilai apa yang dilakukan Djan Faridz tidak lebih hanya upaya untuk memecah-belah umat (Republika.co.id, 17/10). Menurut salah satu anggota MPP DPP PPP Muktamar Jakarta Mudrick SM Sangidoe, sebagai partai besar berideologi Islam, semestinya para pimpinan partai mendukung calon yang memiliki pandangan yang sama untuk memajukan perjuangan Islam. “Tapi yang dilakukan Djan Faridz (dengan mendukung Ahok) telah nyata-nyata menggadaikan aqidah itu. Lantas apa yang ingin dicapai dari keputusan tersebut,” tambahnya lagi (Eramuslim.com, 9/16).
 
Hanya Ada Partai Penjilat
 
Memang benar ketika partai yang mengatasnamakan dirinya partai Islam, tetapi pada kenyataannya mereka mendukung non-muslim untuk menjadi pemimpin adalah suatu pencorengan aqidah. Namun hal itu wajar terjadi pada negara yang menganut sistem demokrasi, dimana ayat-ayat Al-Quran tidak lagi dijadikan sebagai pedoman dan patokan hukum dalam mengambil keputusan. Melainkan kepentingan golongan atau partai saja yang mereka harapkan dari keputusan mereka itu.
 
Hal ini justru patut menjadi pertanyaan besar, tidak malukah ketika mereka membawa lambang atau symbol Islam tetapi pada dasarnya segala keputusan dan tindak-tanduknya tidak mencerminkan nilai-nilai ideologi Islam? Dimana identitas Islam mereka? Sungguh, agama dan akidah mereka telah dibutakan oleh manfaat semu belaka. Mereka hanya bisa menjilat demi kepentingan mereka sendiri.
Tidak sedikit partai-partai di Indonesia yang mengaku berasaskan Islam, tetapi ketika telah masuk ke dalam parlemen, mereka terjerat dalam kebusukan demokrasi. Mereka menciptakan aturan yang tidak pro rakyat, malah semakin menjepit rakyat. Mereka justru semakin memuluskan kepentingan para kapitalis dan asing-asing yang menjajah negeri ini. Yang seharusnya mereka menjadi pengayom rakyat, mendukung aspirasi rakyat, hanya demi keuntungan semu belaka mereka rela gadaikan akidah mereka. 
Islam tidak dijadikan sebagai pijakan ketika mereka memutuskan sesuatu. Hanya mungkin akhlak dan ibadah saja yang tetap mereka lekatkan pada diri mereka masing-masing, tetapi dalam pola berpikir dan pengambilan keputusan, semuanya jauh dari Islam dan tetap sekuler. Sungguh miris! Ketika berkampanye, tidak sedikit yang menjual ayat-ayat Allah demi mendulang suara masyarakat, tetapi setelah duduk di parlemen tetaplah sekulerisme dan demokrasi yang menjadi asas.
 
Partai Islam Perjuangkan Syariat Islam Kaffah
Sungguh keberadaan partai-partai yang mengusung Islam sebagai asasnya, tetapi tidak menjalankan syariatnya hanya bisa menjilat para elit politik dan penguasa demi kepentingan mereka sendiri. Islam hanya dibawa sebagai simbol belaka. Sekularisme dan demokrasi telah nyata memisahkan akidah mereka.
Sesungguhnya, partai Islam sejati hanya memperjuangkan syariat Islam secara kaffah. Dakwah selalu menjadi poros hidup baik dalam berpolitik maupun dalam keseharian para anggotanya. Begitu pula dalam setiap pemikiran, perasaan, dan perbuatannya selalu berasaskan pada syariat Islam. Halal dan haram selalu menjadi standar perbuatan mereka. Ketika mengambil keputusan pun selalu berlandaskan kepada Al-Quran dan As-Sunnah. Jiwanya hanif, serta pikiran dan hatinya selalu terpaut pada Allah. Bentuk ketakwaan kepadaNya mereka wujudkan dengan berdakwah Islam kaffah di tengah-tengah masyarakat, demi kembalinya syariat Islam yang telah dicampakkan dalam sistem sekarang ini. Mereka mengatakan yang haq sebagai yang haq, dan yang bathil sebagai yang bathil. Tidak pernah ada kompromi dalam berdakwah, tidak pula ada kebenaran yang ditutupi. Mereka juga yang mencerdaskan umat kala dilanda kebodohan dan kegelapan dari sistem yang rusak ini. Mereka membongkar makar dan tipudaya para penguasa boneka dan sistem demokrasi yang merusak. Mereka memberikan pembinaan mulai dari akidah, ibadah, akhlak, hingga sistem Islam yang sempurna. Mereka itulah harapan umat menuju cahaya benderang Islam.
Begitulah partai Islam sejati akan menunaikan kewajibannya di muka bumi, terus menerus menebar kebenaran dan kebajikan tanpa melakukan kompromi dengan orang munafik apalagi kafir. Tugas mereka tidaklah akan pernah berhenti meski syariat Islam telah tegak di muka bumi. Mereka akan membangun peradaban Islam yang gemilang dengan dakwah dan jihad hingga semua makhluk merasakan Islam sebagai Rahmatan lil ‘Alamin. Wallahu’alam Bisshawab.
 
Ariefdhianty Vibie H
Tinggal di Bandung
0 Komentar