Siapa Pembela Islam?

Sabtu, 12 November 2016 - 11:30 WIB | Dilihat : 2076
Siapa Pembela Islam? Ilustrasi

 

Tentang perkataanmu menunjukan kapasitas dirimu, pemahaman yang dangkal kemudian kau berani menafsiri Alquran diluar batas kapasitas dirimu, kapabilitas dirimu pun amat lemah untuk  seorang yang menafsiri Alquran secara dadakan. Akhirnya interpretasi leterlek pun muncul dari mulut anda. Entah harus bagaimana kami menyikapi fenomena ini. Orang mengerti pasti bisa merasakan apa yang ia rasakan. Namun kau? Apa kau merasakannya? Sakit, ketika apa yang telah kami pegang teguh kau lecehkan. Sungguh lucunya negeri ini.
 
Al-Maidah 51 telah menunjukan keagungannya, semua mata dan hati tertuju padanya, namun tidak bagi orang yang tidak merasakannya. Multi interpretasi terhadap Al-Maidah 51 tidak menggugurkan konsensus ulama terhadap haramnya memilih pemimpin non muslim. Secara eksplisit Alquran jelaskan namun kenapa masih ada yang berkoar menentang itu? Sungguh lucunya negeri ini.
 
Yang berkoar seperti itu tak sedikit yang notabenenya orang yang paham agama, profesor pula. Namun kenapa anda tunjukan pemikiran dan perspektif seolah anda tak lebih dari awam biasa. Dimana otak anda? Alquran anda tentang apa itu jalan hidup anda? Dengan percaya diri anda katakan itu bukan blashpemy (penistaan). Coba kaji ulang? Hei, anda nilai kita bodoh? Kita tidak buta bahkan tuli? Kita tau semua yang terjadi jadi jangan coba membodohi kami dengan statement meyakinkan anda.
 
Orang yang masih berkoar tak adanya religion blashpemy (penistaan agama) dari statment  petahana tersebut tak lebih mereka hanya orang yang ingin mendiskreditkan Islam dan muslimin. Mengapa tidak? Mereka berani memanipulasi dalil dan distorsi hujjah yang mereka lakukan secara masif hanya untuk kekenyangan perutnya. Apa itu yang anda lakukan terhadap keyakinan anda? Dan menyakiti saudara seiman dengan anda? Lucunya negeri ini.
 
Melalui statment dan perspektif yang tendensius dan agak miring mereka berani membela apa yang seharusnya meraka tak bela. Dari sini ada sesuatu yang eksentrik, perlu kembali dipertanyakan apa  mereka merasakan apa yang kami rasa? Jika iya mengapa mereka berani sperti itu. Jika tidak, kemana ghirah Islam mereka? Sungguhnya lucunya hari ini.
 
Bukan fokus saya kepada petahana tersebut karna sudah jelas kesalahannya namun fokus saya kepada segelintir orang yang mengaku Islam namun pro dengan petahana. Mereka tak lebih dari seorang provokator, mereka menyulut api yang seharunya tak meraka dekati, eskalasi politik mulai terasa karna hal seperti ini. Peperangan dari segala aspek mulai terasa bukan hanya karna petahana namun juga karna segelintir orang itu. Saya katakan dsini, ini perang asimetri dimana mereka tak akan mampu melawan umat dari segala aspek.
 
Kita lihat, aspek agama jelas mereka kalah satu berbanding 10. Karena garda terdepan umat merupakan para ulama yang kredibiltas dan kapabilitas keilmuannya tak diragukan lagi. Para ulama merupakan lokomotif gerbong umat yang akan terus berjalan diatas satu rel akidah. Jadi jika ada yang masih  berkoar seolah lebih alim dari para ulama itu. Saya tanya apa anda punya otak?
 
Semoga hukum negeri ini mampu menjawab polemik ini. Equality before the law (persamaan di depan hukum) ini mampu menjadi asas dan dasar negara negara ini. Para petinggi mampu untuk mengaplikasikan dasar ini di tanah air tanpa adanya orang yang kebal hukum. Semoga para aparat dan yurispunden yang terlibat mampu berlaku adil dan tanpa adanya intervensi dari pihak lain.  Amin. Wallahu a'lam.
 
Tarim, 10 November 2016

Riki Faishol
Mahasiswa Unviersitas Alahgaf, Hadramaut, Yaman
0 Komentar