Tegakkan Keadilan, Hukum Penista Alquran

Sabtu, 12 November 2016 - 11:15 WIB | Dilihat : 2576
Tegakkan Keadilan, Hukum Penista Alquran Aksi Bela Islam II, Jumat 04 November 2016

 

Hadirin Jamaah Shalat Jumat
 
Berlaku adil kepada siapapun dan dalam hal apapun merupakan keniscayaan dan keharusan. Upaya menegakkan keadilan akan menjadikan kehidupan beragama, berbangsa, dan bernegara, berjalan baik, aman, dan nyaman. Tegaknya keadilan merupakan sumber kebahagiaan. Di dalam keadilan terkandung sikap tegas sekaligus santun. Tegas terhadap pihak-pihak yang melakukan pelanggaran namun santun dan sayang kepada pihak korban pelanggaran.
 
Penegakan supermasi hukum yang adil akan menjamin tegaknya sendi-sendi kehidupan bermasyarakat dan bernegara yang sehat. Tidak ada kegalauan dan kekecewaan manakala semua orang berkedudukan sama di muka hukum. Hal inilah yang dilakukan oleh Rasulullah Saw dalam menegakkan keadilan. 
 
Pernah dalam sebuah peristiwa beliau menangani kasus pencurian yang dilakukan oleh seorang wanita keturunan kaum bangsawan. Nama harum dan kredibilitas keluarga Bani Makhzumiyah yang kesohor ini dipertaruhkan. Mereka tidak ingin kehilangan muka atas kasus yang menimpa salah seorang anggota keluarganya.
 
Dengan segala daya dan upaya, mereka berusaha melakukan lobi dan intervensi hukum kepada nabi agar mengurungkan hukuman yang telah dijatuhkan kepada salah seorang keluarganya, seperti terekam dalam sebuah hadits berikut ini:
 
Dari Aisyah r.a. meriwayatkan, suku Quraisy pernah kasak-kusuk tentang wanita makhzumiyah yang melakukan pencurian. Mereka saling bertanya, “Siapakah yang akan membujuk Rasulullah Saw  dalam perkara ini (agar membebaskannya dari hukuman potong tangan)?” Di antara mereka menjawab, “Siapa lagi kalau bukan Usamah, kesayangan Nabi Saw ?” Ketika Usamah datang membujuk beliau, Rasulullah menjawab, “Apakah engkau minta syafa`at (pengangkatan hukum) dalam hukum yang telah ditentukan Allah Swt?”  Kemudian beliau berdiri lalu berkhutbah, “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya orang-orang sebelum kalian hancur karena mereka tidak menghukum orang-orang kaya yang melakukan pencurian dan menegakkan hukum itu bila yang mencuri adalah orang biasa. Sungguh, jika Fatimah binti Muhammad yang mencuri, aku akan memotong tangannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
 
Hadits tersebut menggambarkan betapa pentingnya penegakan hukum dan keadilan tanpa pandang bulu. Hukum harus menjadi panglima dalam tiap keputusan dan langkah seorang muslim, utamanya para penegak hukum.
 
Kaum Muslimin Rahimakumullah
 
Rasulullah Saw  memberi contoh kepada kita semua dengan tidak memberi ruang keistimewaan dan perlakukan khusus kepada siapapun yang sedang berperkara, termasuk apa yang saat ini menjadi perhatian jutaan Umat Islam  di Tanah Air. Kasus penistaan yang dilakukan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dengan mengatakan bahwa Surat Al-Maidah ayat 51 digunakan sebagai alat untuk membohongi orang. Kasus penistaan ini telah bergulir hampir sebulan. Namun hingga kini tidak ada perkembangan berati, bahkan tercium adanya intervensi dari pihak-pihak tertentu untuk mengubur dalam-dalam kasus pelecehan dan penistaan Ahok tersebut. Padahal, siapa yang bersalah dan kesalahannya terbukti di Pengadilan, ia harus diberi hukuman setimpal dengan perbuatannya. Jabatan, kedudukan, suku, akses kekuasaan, semuanya itu bukan penghalang untuk menghukum yang bersalah dan membela yang benar.
 
Kembali kepada hadits yang kami sampaikan di atas, mengapa Rasul setegas itu? Beliau sangat sadar dan arif bahwa keadilan adalah fitrah dan kecenderungan manusia. Sekelam apapun diri seseorang, sekejam bagaimanapun pribadinya, pasti tetap mendambakan keadilan. Bagi seorang mukmin keadilan adalah bagian tak terpisahkan dari kepribadian dan kebijaksanaannya.
 
Dalam Alquran, dengan jelas Allah memerintahkan kita semua orang untuk bersikap adil, bahkan kepada musuh kita sendiri. Firman-Nya: 

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil.”(Qs. An-Nisaa` : 58)
 
Saat Sayidina Abu Bakar Ash-Shiddiq ra didapuk sebagai Khalifah yang mengurusi hajat hidup Kaum Muslimin, beliau betul-betul menghayati ayat di atas. Dalam pidato kenegaraannya yang pertama, beliau memberikan penekanan pada keadilan. Secara jelas dan lantang beliau menjadikan keadilan sebagai motor penggerak roda pemerintahannya.
 
Berikut petikan khutbah beliau : 

“Wahai umat manusia, baru saja aku diangkat sebagai pemimpin atas diri kalian padahal aku bukanlah sosok yang terbaik di antara kalian semua. Jika aku berbuat baik, bantulah aku (dalam mempertahankannnya), dan jika aku melenceng, maka luruskanlah aku. Yang lemah di antara kalian, kuat –posisinya- bagiku dengan mengembalikan hak-hak mereka kembali. Dan yang kuat di antara kalian, lemah bagiku karena tidak menghalangiku mengambil hak orang lain darinya.......” 

Kaum Muslimin Rahimakumullah
 
Setidaknya ada empat keutamaan yang akan hinggap dan melekat pada orang yang berlaku adil, baik adil kepada terhadap rakyat, adil terhadap diri sendiri, adil terhadap istri, adil terhadap anak, adil dalam perselisihan, adil terhadap musuh, adil dalam penegakan hukum, maupun adil dalam berbicara.
 
Pertama, lebih dekat kepada takwa. Berlaku adil akan mengantarkan pada ketakwaan kepada Allah Swt. Allah berfirman: 

“Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Qs. Al-Maa-idah: 8)
 
Bila berkaca pada ayat di atas, ada hubungan harmonis antara sikap adil dan keimanan. Keimanan pada diri seseorang menuntunnya untuk bersikap adil dalam segala medan dan keadaan. Keadilan yang sempurna merupakan cermin kesempurnaan iman.
 
Kedua, dicintai Allah Swt. Luapan cinta Allah akan hingga pada diri orang yang adil. Siapakah yang tidak menginginkan cinta dan kasih sayang Allah? Maka setiap muslim harus berusaha memiliki sifat yang membuat Allah Swt menjadi cinta kepada kita, dan salah satu sifat itu adalah berlaku adil. Polisi, Jaksa, KPK, dan segenap perangkat hukum serta seluruh umat Islam, harus merenungkan kembali Allah Swt berikut ini:

“Dan hendaklah kamu berlaku adil, sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.” (Qs. Al Hujuraat: 9)
 
Ketiga, memperoleh keselamatan. Keselamatan menjadi hak orang yang berbuat adil. Jaminan keselamatan tersebut diutarakan langsung oleh Nabi Muhammad Saw. Keselamatan hidup di dunia dan akhirat merupakan dambaan setiap manusia, apalagi bagi kaum muslimin. Salah satu faktornya adalah berlaku adil, kepada orang yang kita suka maupun yang kita benci. 

"Ada tiga perbuatan penyelamat: rasa takut kepada Allah di waktu sepi maupun ramai, berlaku adil di kala senang dan marah, dan hidup sederhana di saat miskin dan kaya.” (HR. Thabrani).
 
Keempat, berada dalam derajat yang mulia. Rasulullah Saw  bersabda:

“Orang-orang yang adil, di sisi Allah, berada di atas mimbar terbuat dari cahaya, mereka berbuat adil dalam memutus suatu perkara, adil di tengah keluarga, dan adil terhadap orang-orang yang mereka pimpin.”
 
Jamaah Shalat Jumat yang Dimuliakan Allah
 
Kasus penistaan Alquran, pelecehan Islam , dan penghinaan kepada ulama yang dilakukan Ahok sudah sangat terang benderang. Tidak perlu seorang bergelar Profesor untuk menafsirakan ucapannya. Persoalan Ahok adalah persoalan yang sejatinya sederhana. Dia mengatakan, “Dibohongi pake Al Maidah 51.” Maka, Bapak Presiden yang terhormat dan Aparat Kepolisian hendaknya tidak mempertahankan sesuatu yang sudah jelas salah. Apalagi yang bersangkutan sudah minta maaf yang menandakan bahwa dirinya merasa bersalah. Orang minta maaf berarti mengakui kesalahannya. 
 
Lalu apa yang harus dilakukan? Lakukan proses hukum. Kita semua sama di depan hukum. Tidak boleh ada dua orang yang melakukan pelanggaran hukum, satu dihukum dan satunya lepas dari hukuman. Jauh sebelum Ahok menistakan agama, telah ada kasus penistaan agama di Bali. Di sana, seorang ibu rumah tangga mengatakan bahwa canang itu kotor dan menjijikkan. Dia dilaporkan ke polisi, diproses dan diadili, lalu dihukum kurungan satu tahun dua bulan. Canang itu tempat sesaji umat Hindu yang memiliki hubungan dengan keyakinan agama. Pihak Kepolisian harus bertindak adil.
 
Jika tidak bertindak adil, hukum akan mencari caranya sendiri dalam menegakkan keadilan. Ahok harus diproses, diseret ke meja hijau. Ahok tidak boleh tidak diproses secara hukum, agar jangan sampai terjadi aksi main hakim sendiri yang mengakibatkan hal-hal yang tidak kita inginkan bersama.
 
Kita memohon kepada Allah Swt agar Allah memberi kekuatan lahir dan batin kepada Bapak Presiden dan Kepolisian dalam memberikan keadilan kepada segenap anak bangsa demi tegaknya kedaulatan hukum di Negara Kesatuan Republik Indonesia yang kita cintai ini. 

[Ali Akbar bin Muhammad bin Aqil]
0 Komentar