Melampaui Batasan Sejarah

Jumat, 11 November 2016 - 06:22 WIB | Dilihat : 1276
Melampaui Batasan Sejarah ilustrasi
Sejarah dalam bahasa Arab dikenal sebagai tarikh. Tarikh secara bahasa menurut Ibnu Manzhur, “berakar dari kata arrakha (a-ro-kha) bermakna ‘menulis’ atau ‘mencatat’; catatan atau tulisan mengenai waktu dan peristiwa.” (Ibnul Manzhur, Lisanul Arab, juz 3, h. 4, Maktabah Syamilah). Sedangkan arti sejarah secara istilah sebagaimana disebutkan Muhammad ibn Ibrahim Al-‘Iji dalam Tuhfat Al-Faqier ila Shahib al-Sarier ialah “ketetapan waktu dengan maksud menghubungkannya dengan bagian waktu yang datang kemudian.” (Muin Umar, Historiografi Islam, Jakarta: Rajawali Press, 1988) Oleh karena itu dalam tradisi keilmuwan Islam, sejarah identik dengan waktu-waktu peristiwa yang telah terjadi.
 
Dalam berbagai bahasa di dunia, “sejarah” dalam bahasa Indonesia memiliki banyak sebutan lain. Menurut G. G Zerffi sebagaimana yang dikutip Misri Muhsin, “Sejarah dalam bahasa Yunani disebut historia atau historein” yang maknanya berarti “mengamati”, “menyelidiki”, “mengalami”, atau “menghubungkan.” Dalam bahasa Inggris disebut history, dengan bahasa Prancis disebut histoire, dalam bahasa Italia dikenal dengan storia, dalam bahasa Jerman dikenal dengan sebutan geschichte, dan dalam bahasa Belanda dikenal dengan gescheiedenis (Misri Muchsin, Filsafat Sejarah dalam Islam, Yogyakarta: Ar-Ruzz Press, 2002, h. 18).
 
Sejarah dalam tradisi keilmuwan Barat yang sekularistik, punya kesamaan dengan tradisi keilmuwan Islam, yakni membahas tentang masa lalu, namun konsep masa lalu tersebut baru berarti “kalau pembatasan telah dilakukan,” sebagaimana yang dinyatakan sejarawan terkemuka tanah air, Taufik Abdullah dalam Ilmu Sejarah dan Historiografi: Arah dan Perspektif. Pembatasan-pembatasan tersebut diperlukan guna menentukan cakupan kajian sejarah. Lebih jauh Taufik Abdullah menyatakan bahwa “pembatasan yang paling awal yang perlu dilakukan adalah pembatasan waktu.” (Taufik Abdullah dan abdurrachman Surjomihardjo (Ed), Ilmu Sejarah dan Historiografi: Arah dan Perspektif, Jakarta: PT. Gramedia, 1985, h. x)
 
Hal itu bisa dipahami bahwa pembatasan waktu merupakan yang paling elementer, tanpa pembatasan waktu, sejarah tidak akan terfokuskan kajiannya serta tidak dapat diketahui kapan sebenarnya peristiwa itu terjadi. Selain pembatasan waktu, perlu diketahui peristiwa dan pelakunya yang menjadi  objek kajian. Disebutkan oleh Taufik Abdullah “pemusatan perhatian pada peristiwa yang menyangkut manusia, atau lebih tepat, tindakan dan perilaku manusia pelakunya.” (Ibid, h. xii)
 
Pembatasan yang perlu dilakukan kemudian ialah pembatasan menyangkut tempat atau ‘panggung sejarahnya. Sejarawan membutuhkan pembatasan tempat yang berguna secara praktis dan metodologis.
 
Taufik Abdullah menyatakan “tempat pun menjadi batasan sejarah. Secara praktis dan metodologis, jadi bukan filosofis, sejarah haruslah diartikan sebagai tindakan manusia dalam jangka waktu pada masa lampau yang dilakukan di tempat tertentu.” Pemberlakuan pembatasan tempat itu berguna secara praktis dan metodologis, namun bukan secara filosofis, karena secara filosofis apa yang terjadi dalam sejarah merupakan perkara yang telah dilakukan oleh manusia tanpa terikat oleh tempat di mana mereka berada. Membatasi tempat atau ‘panggung sejarah’ adalah murni untuk mempermudah kerja sejarawan, serta untuk mempermudah pemahaman. 
 
Pembatasan yang terakhir adalah yang menyangkut pemilahan (seleksi) oleh pribadi sejarawan karena “tak semua peristiwa tindakan manusia pada masa lalu bisa dimasukkan dalam konteks historis.” (Ibid, xii-xiii). Artinya sejarawan harus selektif memilih hal mana yang bisa dimasukkan dalam konteks sejarah. Sejarawan harus memilah-milah mana yang dapat dikategorikan “penting” agar dapat diangkat sebagai peristiwa sejarah.
 
Taufik Abdullah mengungkapkan berkenaan dengan perumusan pertanyaan-pertanyaan oleh sejarawan: 
 
“Jadi di samping menjadi ukuran penting atau tidaknya suatu tindakan, pertanyaan pokok itu juga merupakan alat untuk menentukan manakah hal-hal yang patut dijadikan sebagai “fakta sejarah.” Atau dengan kara lain pertanyaan pokok itu berfungsi pula untuk menentukan manakah hal-hal yang perlu dicari kebenaran historisnya agar bisa dianggap sebagai fakta- sebagai sesuatu yang berfungsi dalam usaha menjawab pertanyaan pokok yang telah dirumuskan itu. Dengan begini, tentu jelas juga, bahwa secara teoretis dapat dikatakan “fakta sejarah” itu belum ada, sebelum pertanyaan dirumuskan.”
 
Jelaslah untuk mendapatkan ukuran penting atau tidaknya suatu kejadian yang dilakukan oleh manusia, perumusan pertanyaan harus dilakukan. Oleh karena itu fakta sejarah dikatakan baru ada, atau lebih tepatnya baru bisa diseleksi dan diidentifikasi jika pertanyaan-pertanyaan berkenaan dengan topik sejarah telah dirumuskan.
 
Nampaknya pembatasan yang harus dilakukan sejarawan memang telah disepakati, terutama konsep waktu dan peristiwa, sejarawan Gordon Leff mengatakan:
Sejarah tidak bisa dipisahkan dari konsep waktu dan peristiwa, yang karenanya mayoritas sejarawan membuat periodisasi dalam aktivitas penulisan sejarahnya. (Gordon Leff, History and Social Theory, New York: Anchor Book, 1971, h. 117)
 
Tak jauh berbeda dengan Taufik Abdullah dan Gordon Leff, sejarawan Jerman abad 19, Johann Gustav Dreysen dalam kata pengantar di karya magnum opusnya (Outline of the Principes of History, h. 9) menampilkan konsep ruang dan waktu sebagai pembahasan awal hakikat sejarah. Menurut Dreysen:
 
"Secara obyektif, fenomena atau kejadian sejarah tidak memisahkan diri dengan ruang dan waktu, melainkan hanya melalui pemahaman dari dalam diri manusia saja, sejarawan membedakan ruang dan waktu agar lebih mudah dipahami. Pembabakan waktu itu sesungguhnya merupakan imajinasi sejarawan. Sejarawan bertugas untuk memastikan sisi demi sisi “ruang” dan “waktu” yang telah berlalu menjadi dirasakan, diselidiki dan dipahami."
 
Konsep-konsep seperti pembabakan dan pembatasan waktu, pembatasan ruang, peristiwa dan pemilahan fakta-fakta digunakan sejarawan agar sejarah bisa diteliti, dimengerti dan dipahami.
 
Lalu seperti apakah adegan sejarah yang layak diteliti, dimengerti dan dipahami? Dalam tradisi keilmuwan Islam, yang pasti terkait dengan gagasan-gagasan dalam Al-Quran, sejarah sangat terkait dengan konsep qashash. Bahkan sejarah di dalam Islam tak akan dapat dipahami tanpa konsep qashash, yang banyak bertebaran dalam Kitabullah.
Qashash
 
Secara etimologi qashash (قصص) merupakan bentuk jamak dari kata qishah (قصة) yang berarti kisah, berita perkara dan keadaan, qashash juga merupakan mashdar (kata benda) dari kata kerja qashasha yang bermakna mengisahkan. Menurut Umar Sulaiman Al-Asyqar dalam kitabnya yang fenomenal"Kisah-Kisah Shahih dalam Al-Quran dan Sunnah" (pustaka Elba, tt) kisah dalam bahasa Arab berarti “berita-berita yang diriwayatkan dan diceritakan.” Al-Qur’an telah menamakan berita-berita dari umat-umat dan bangsa terdahulu dengan sebutan kisah, berita-berita itu sendiri merupakan landasan untuk mengkonstruksi sejarah.
 
Sejarah yang berupa kisah-kisah atau “ceritera-ceritera" dalam Al-Qur’an itu dikemukakan bukan sekedar untuk pengetahuan, melainkan agar manusia mengambil pelajaran dari padanya.”
 
Allah SWT berfirman:
 
لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِأُولِي الْأَلْبَابِ
 
“Sungguh, pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang yang mempunyai akal.”(QS Yusuf: 111)
 
Qashash secara istilah didefinisikan sebagai ilmu yang “menceritakan peristiwa-peristiwa dan perbuatan-perbuatan dengan metode bahasa tertentu yang berujung pada target tertentu.” (Ibid, h. 11)
 
Kisah berarti berita-berita mengenai suatu permasalahan dalam masa-masa yang saling beruntut, sedangkan qashash Al-Qur’an adalah pemberitaan mengenai keadaan umat yang telah lalu, nubuwat yang terdahulu dan peristiwa-peristiwa yang terjadi (Manna Khalil Al Qattan, Studi Ilmu-Ilmu al-Qur'an, h. 100).
 
Senada dengan Al-Asyqar dan Al-Qattan, Muhammad Khalafullah (Al-Quran Bukan Kitab Sejarah: Seni Sastra dan Moralitas dalam Al-Quran, Jakarta: Paramadina, 2002, h. 10) menyebut kisah atau qashash sebagai istilah dengan sebutan “pendekatan religius” yang bermakna “mengaitkan maksud dan tujuan kisah-kisah Al-Qur’an.”
 
Tentunya kisah-kisah Al-Qur’an maksud dan tujuannya sepenuhnya terkait dengan pengesaan kepada Allah SWT, perjuangan dakwah tauhid dengan segenap moral-moral yang terkait dengannya. Kisah-kisah (qashash) Al-Qur’an dari perjuangan Rasul, Nabi dan umat terdahulu dimaksudkan menjadi nilai, hikmah, pelajaran, dan petunjuk bagi Rasulullah Muhammad SAW beserta umatnya hingga akhir zaman.
 
Demikian ajaran Al-Qur’an terkait sejarah melalui konsep qashash, terlihat ciri pokoknya sejarah dalam pandangan Al-Qur’an yaitu semua kisah-kisah Al-Qur’an tersebut sangat ditekankan pada makna dan nilai-nilainya. Bukan hanya ditekankan pada penjabaran fakta dan data, ataupun konstruk sejarah semata seperti halnya sejarah yang bersifat sekularistik.
 
Sejarah dalam Islam lebih dari itu, ia menjadi petunjuk jalan yang tersurat dan guru kehidupan yang tersirat dalam perjuangan untuk memurnikan penghambaan kepada Allah ta'ala.
 
Ilham Martasyabana
Pegiat Sejarah Islam
0 Komentar