Alquran yang Menggerakkan

Rabu, 09 November 2016 - 22:40 WIB | Dilihat : 1774
 Alquran yang Menggerakkan Jutaan massa Aksi Bela Islam II Jumat 4 November 2016.

Siapa sangka pelecehan Alquran yang dilakukan Ahok bisa menggerakkan jutaan orang dari berbagai daerah untuk demonstrasi? Tentu yang menggerakkan mereka bukan uang sebagaimana banyak demo saat ini di tanah air yang digerakkan partai politik.

Memang bersatunya manusia, menurut Alquran, ada dua. Satu, karena uang dan dua, karena ikatan aqidah/tauhid. Allah Swt berfirman: “Dan yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Gagah lagi Maha Bijaksana.” (Al Anfaal 63).
 
Ya, uang digunakan oleh partai-partai politik –terutama partai sekuler—untuk mengumpulkan dan mendapat dukungan dari rakyat. Maka tidak heran bila partai-partai berlomba cari uang sebanyak-banyaknya, baik dengan cara halal maupun haram. Mereka berkeyakinan bahwa hanya dengan uanglah partai bisa jalan.
 
Perlombaan uang juga terlihat dalam pemilihan presiden, gubernur, walikota dan lain-lain. Ratusan miliar bahkan trilyunan dihambur-hamburkan untuk memoles wajah sang calon lewat spanduk iklan di tv/internet, brosur dan lain-lain.
 
Memang politik Barat adalah politik gincu. Yang penting kekuasaan diperoleh, meski jalannya lewat kebohongan, penipuan, pemolesan wajah ata sejenisnya. Agar tampil menarik, sang kandidat akan dipoles wajahnya sedemikian rupa agar menarik, dan dihadirkan penonton (kebanyakan bayaran), agar tepuk tangan saat kandidat tampil. Dan tidak lupa media pun disogok agar ramai-ramai meliput.
 
Beda dengan politik Islam. Politik Islam adalah kejujuran. Politik Islam mengharuskan seorang kandidat tampil apa adanya sebagaimana kesehariannya. Politik Islam dilandasi oleh tauhid kepada Allah. Yakni bahwa kekuasaan diperjuangkan dengan cara jujur dan untuk kemakmuran-keadilan rakyat.
 
Maka kumpulnya massa dalam Islam, adalah panggilan jiwa tauhid. Mereka berkumpul untuk memperjuangkan nilai-nilai, bukan berkumpul untuk jabatan semata.
 
Aksi demo jutaan orang di Jakarta dan daerah-daerah di Indonesia beberapa waktu lalu, menunjukkan gerakan tauhid ini. Gerakan membela Alquran. Jarang diantara mereka yang dating karena dibayar. Mungkin ada ‘satu dua’ yang dibayari karena memang tidak memiliki uang.
 
Mukjizat Alquran
 
Mengapa mereka berbondo-bondong mau datang ke Jakarta 4 November lalu? Ya karena mereka cinta Alquran. Mereka telah merasakan nikmatnya hidup bersama Alquran. Kata ulama besar Sayid Qutb : 

“Hidup di bawah naungan Alquran merupakan suatu kenikmatan. Kenikmatan yang hanya bisa dirasakan oleh orang yang pernah mereguknya. Kenikmatan yang mengangkat, memberkati dan mensucikan umur kehidupan.

Segala puji bagi Allah, yang telah mengaruniaiku kehidupan di bawah naungan Alquran, beberapa kurun waktu. Pada saat-saat itulah aku telah mereguk kenikmatan hidup di bawah naungan Alquran, suatu kenikmatan yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Aku merasakan betapa kenikmatan yang telah meningkatkan, memberkati dan mensucikan kehidupan ini.

Aku hidup mendengarkan Allah –Maha Suci Allah- berbicara kepadaku denga Alquran ini, meski aku adalah seorang hamba yang kecil dan kerdil…Kemuliaan apakah yang dapat menandingi kemuliaan yang dilimpahkan oleh Tuhan Yang Maha Tinggi lagi Maha Mulia ini? Adakah peningkatan martabat yang lebih baik dari apa yang telah ditingkatkan Alquran ini? Adakah kedudukan (maqam) manusia yang lebih utama ketimbang kedudukan yang telah dianugerahkan Tuhan Pencipta yang Maha Mulia?

Aku hidup –di bawah naungan Alquran – memandang dari atas ke arah Jahiliyah yang bergejolak di muka bumi dan berbagai pusat perhatian orang-orang jahiliyah yang remeh temeh. Aku melihat kekaguman orang-orang jahiliyah itu tertuju kepada pengetahuan yang tak lebih dari pengetahuan kanak-kanak, persepsi balita, dan perhatian anak-anak kecil. Tak ubahnya orang dewasa menyaksikan permainan dan senda gurau anak-anak. Aku heran…mengapa manusia sampai demikian? Mengapa mereka mau menistakan diri dalam kehidupan yang rendah dan tidak mau mendengarkan seruan yang tinggi lagi mulia. Seruan yang meningkatkan, memberkati dan mensucikan kehidupan.

Aku hidup – di bawah naungan Alquran – dengan mencermati dan menikmati konsep tentang wujud yang demikian sempurna, lengkap, tinggi dan jernih…tentang tujuan semua wujud, tujuan eksistensi manusia..Aku bandingkan dengan berbagai konsepsi jahiliyah yang dijalani manusia baik di Timur, Barat, Utara ataupun Selatan..Aku bertanya…bagaimana manusia mau hidup dalam kubangan busuk, di lapisan bawah yang nista, dalam kegelapan yang amat pekat, padahal mereka memiliki ruangan yang bersih, punya tangga yang tinggi dan cahaya yang terang benderang.

Aku hidup – di bawah naungan Alquran- merasakan keharmonisan yang amat indah antara gerak kehidupan manusia sebagaimana yang dikehendaki Allah dan gerak alam semesta yang diciptakan-Nya..Kemudian aku memandang kehidupan jahiliyah lalu aku saksikan kekacaubalauan yang dialami manusia akibat melakukan penyimpangan dari berbagai sunnah kauniyah, akibat terjadinya benturan antara berbagai ajaran yang rusak lagi jahat yang dipaksakan kepadanya dengan fitrahnya yang telah ditetapkan Allah pada dirinya. Aku berkata dalam hati: gerangan setan celaka manakah yang telah menyeret manusia ke arah jahanam ini?

Alangkah ruginya manusia…

Aku hidup –di bawah naungan Alquran- menyaksikan wujud ini jauh lebih besar ketimbang tampak luarnya yang tersaksikan..lebih besar dalam hakikatnya…lebih besar dalam berbagai aspeknya…Ia adalah alam ghaib dan alam nyata, bukan alam nyata belaka. Ia adalah dunia dan akhirat, bukan dunia semata-mata. Kehadiran manusia tak lain hanyalah merupakan kelanjutan dalam hamparan perjalanan yang amat panjang.”

[Izzadina]
0 Komentar