Tangkap Ahok Penghina Alquran, Harga Mati!

Ilustrasi: Tangkap Ahok!

 

Kata-kata Ahok sangat jelas, tidak perlu penafsiran yang njlimet.  Sesuai dengan potongan video yang beredar, yang kata Bareskrim sudah sesuai video aslinya, Ahok jelas menyatakan: “Bisa saja dalam hati kecil bapak ibu tidak milih saya karena dibohongin pakai Surat Al Maidah 51, macem-macem….bapak ibu tidak bisa milih saya karena takut masuk neraka, dibodohin gitu” sambil tangannya menunjuk kepalanya.   
 
Memang Ahok berbicara hal tersebut sekedar intermezzo dalam meyakinkan masyarakat pulau seribu bahwa programnya sebagai Gubernur DKI akan tetap jalan sampai akhir masa jabatannya Oktober 2017 bilamana tidak terpilih lagi dalam pilgub Februari 2017. Namun intermezzonya ini telah menyinggung hal yang sangat sensitive, yakni perasaan dan kehormatan umat Islam sebagai warga Negara mayoritas di NKRI ini.   
 
Sebab, dalam kalimat Ahok di atas ada dua kata penghinaan yang sangat gamblang, yakni dibohongin  dan dibodohin. Lebih parah lagi dia kaitkan kalimat penghinaan itu dengan sesuatu yang sangat sakral bagi umat Islam, yakni ayat suci Alquran yang merupakan pedoman hidup umat Islam yang bertaqwa (QS. Al Baqarah ayat 2), dan keyakinan umat yang sangat fundamental tentang neraka yang memang diajarkan oleh Allah Tuhan Yang Maha Esa agar kita menjaga diri dan keluarga kita dari api neraka (QS. At Tahrim 6).  Bahkan kita diajarkan oleh Allah Swt, Tuhan Yang Maha Kuasa agar kita berdoa kepada-Nya agar selamat dari sambaran api neraka (QS. Al Baqarah 201).   
 
MUI Pusat dalam pernyaatan pendapat dan sikap keagamaan yang ditandatangani oleh Ketua Umumnya KH Ma’ruf Amin (12/10) menyatakan bahwa ucapan Ahok di atas dikatagorikan bahwa dia telah menghina Alquran dan atau ulama.   
 
Biasanya dalam kasus penistaan agama pasal 156a KUHP polisi bekerja berdasarkan fatwa ataupun pendapat MUI. Makanya, beberapa laporan terhadap kasus Ahok ini di awal ditolak oleh polisi dengan alasan tidak ada fatwa MUI. Begitu terbit pendapat keagamaan MUI tanggal 12 Oktober, polisi tidak bisa tidak kecuali harus menerima laporan itu.  
 
Apalagi dengan tekanan massa ratusan ribu orang seperti Aksi Bela Islam peratama 14 Oktober lalu. Namun sayang belum ada tindak lanjut yang signifikan. Kata seorang pengacara senior, Eggi Sujana, belum ada proses hukum.  Ahok belum di-BAP. Buktinya adalam tatkala Ahok bertandang ke Bareskrim 24 Oktober, pagi sebelum malamnya ditetapkan sebagai Cagub oleh KPUD.  Apalagi sebelum ke Bareskrim diekspos bahwa Ahok ke Istana dulu untuk ketemu Presiden Jokowi. Indikasi bahwa istana menekan Kapolri agar tidak memproses Ahok.  Proses baru kepada keterangan saksi-saksi fakta dan saksi Ahli.  Bahkan ada kabar bahwa Bareskrim minta seorang ahli hokum pidanan di Yogyakarta agar mau menjadi saksi ahli yang menyatakan bahwa Ahok tidak menghina Alquran. Untunglah yang bersangkutan menolak.  Kalau tidak, yang bersangkutan akan menyangkal kesimpulan MUI bahwa Ahok telah menghina Alquran dan atau ulama yang memiliki konsekuensi hukum.
 
Dalam acara Talkshow MTI di Jakarta (30/10) praktisi hukum HM. Luthfie Hakim SH, MH mengatakan bahwa kalau dia orang yang punya wewenang dalam mengatasi masalah ini, dia akan instruksikan polisi tangkap Ahok karena sudah memenuhi unsur tindakan pelanggaran hukum dari KHUP Pasal 156a! Allahu Akbar! 
 
Oleh karena itu, tuntutan umat dalam berbagai aksi besar demonstrasi pembelaan terhadap Alquran yang digelar di Jakarta dan berbagai kota besar di seluruh Indonesia  memiliki tuntutan yang satu: Tangkap Ahok Penghina Alquran! Allahu Akbar!!
 
Termasuk Aksi Bela Islam Jumat, 4 November 2016.  Ya tuntutan Aksi Sejuta Umat 4 November adalah “Tangkap Ahok Penghina Alquran!!!”.  Dan tuntutan ini adalah harga mati, tidak bisa ditawar sedikit pun.   Barisan Sejuta Umat di depan Istana Jumat 4 November juga tidak bisa digeser mundur selangkahpun selama belum ada kepastian bahwa Ahok ditangkap karena telah menghina Alquran!!!
 
Berani berbuat, berani tanggung jawab! Pelanggaran hukum telah terjadi. Hukum harus ditegakkan walau langit runtuh!  Jika polisi dan pemerintah enggan, lalu umat Islam juga enggan mendorong pemerintah untuk menghukum Ahok Penghina Alquran, pastilah Allah Swt yang akan ambil tindakan. Itulah yang saya katakan kepada Kapolri di kantornya Trunojoyo: “Biarlah Allah saja yang menangkapnya!”. 
  
Aksi Bela Islam 4 November akan menjadi batu ujian bagi Istana Presiden, apakah tetap akan melindungi Penghina Alquran, ataukah menegakkan hukum atasnya. Semoga Allah Swt memberikan yang terbaik buat umat Islam Indonesia yang sudah sekian lama dipinggirkan. 
 
Wallahu ghalibun ala amrih walakinnaa aktsarannaasi laa ya’lamuun!
 
Jakarta, 31 Oktober 2016
 
Muhammad Al Khaththath
Sekjen FUI

 

Komentar

Belum ada komentar
Nama

Email


security image
Kode
Komentar