Umat Islam Harus Kaya

Minggu, 23 Oktober 2016 - 08:46 WIB | Dilihat : 1533
Umat Islam Harus Kaya Ilustrasi

 

Masyarakat Indonesia yang bermukim di Derby-Leicester-Nottingham (Pe-DLN) UK memiliki kajian pekanan yang diselenggarakan secara online. Pada kajian Jumat pekan lalu, kami  membicarakan posisi dan peranan umat Islam saat ini dengan mengundang ustad Yusuf Mansur sebagai pembicara tamu. 
 
Ustaz mengingatkan  tentang kekuatan doa dan asmaul husna yang harusnya menjadi pegangan umat Islam khususnya umat Islam Indonesia supaya dapat menyelesaikan berbagai permasalahan yang dihadapi saat ini. Dalam kesempatan tanya jawab, salah seorang anggota kajian, Nurisma Fira,  dokter umum sekaligus penulis yang tinggal di Colchester menyampaikan kepada sang Ustaz bahwa dia sering mendapatkan pertanyaan dari para ilmuwan sekuler di Inggris tentang peranan Islam dalam kemajuan peradaban umat Islam sendiri.  
 
Ilmuwan tersebut lebih lanjut menyatakan bahwa negara-negara barat yang secara kasat mata tidak ada peran Islam di dalam kehidupan masyarakatnya menujukkan kemajuan dalam peradaban sementara negara-negara Muslim yang kehidupannya diwarnai Islam bisa dikatakan tertinggal jauh dari negara-negara barat tersebut. 
 
Menanggapi pertanyaan tersebut diatas, ustaz menjelaskan bahwa tidak tepat jika mengatakan bahwa umat Islam saat ini tidak maju dan terbelakang. Sama seperti umat agama lainnya, umat Islam di seluruh dunia juga mencapai kemajuan-kemajuan di segala bidang kehidupan. Selain itu, umat Islam juga berperan aktif dalam peningkatan kemashalatan umat manusia.  Namun, sayangnya keberhasilan-keberhasilan tersebut miskin publikasi oleh media-media saat ini.
 
Pendapat ustaz mungkin ada benarnya. Namun, ada baiknya kita juga kita membaca kondisi umat Islam di berbagai belahan dunia yang dikutip media-media sebagai sarana muhasabah agar kita setidaknya termotivasi untuk mengambil langkah-langkah strategis untuk memperbaiki kekurangan-kekurangan tadi.  
 
Apa kata media?
Saat ini media menyatakan bahwa jumlah orang miskin di dunia mayoritas ditemukan dari negara-negara dengan sebagian besar penduduknya beragama Islam. Business Insider UK melaporkan bahwa separuh dari 25 negara termiskin di dunia saat ini adalah negara yang tergabung dalam Organisasi Kerjasama Islam. 
 
Miskinnya umat Islam juga tergambar dari daftar orang terkaya di dunia yang marak dibuat media.  Dari daftar tersebut, keterwakilan umat islam masih beraada pada tingkat yang rendah. Sebagai contoh, dari 50 Orang Terkaya Indonesia Versi Majalah Forbes Tahun 2015, jumlah orang Islam yang masuk dalam daftar tersebut bisa dihitung dengan jari. Posisi pertama dari  50 orang tadi, diduduki oleh Keluarga Hartono (Non-Muslim) pemilik perusahan rokok Djarum dan pemegang saham terbesar Bank Central Asia. Sedangkan Muslim yang masuk dalam list tersebut berada pada urutan ke-empat, Chairul Tanjung, pemilik Bank Syariah Mega Indonesia, Trans TV, dan bisnis lainnya yang kemudian diikuti oleh Achmad Hamami dan Keluarga di peringkat ke-24. 
 
Tahun 2016 kembali Majalah Forbes melaporkan hasil risetnya tentang 100 Milyarder di Dunia Dalam Bidang Teknologi dengan total aset gabungan sebesar USD 892 milyar. Keseratus Milyader tersebut ternyata berasal dari 11 negara yang tidak satu pun negara Islam (baca: Amerika Serikat (51 orang), Cina (19 orang), Kanada (5 orang), Jerman (4 orang), Korea Selatan (3 orang), Jepang (3 orang), Hong Kong (3 orang), Taiwan (2 orang), Israel (2 orang), India (2 orang), Australia (2 orang), dan Inggris Raya, Singapura, Rusia, Brazil masing – masing 1 orang).
 
Dalam ulasan Sakinah Finance beberapa waktu yang lalu dengan judul “Bukan Sekedar Sholat Jenazah”  disebutkan bahwa hampir 80 persen dari biaya umrah,  menyumbang kepada penyedia produk dan jasa yang notabene nya bukan dari pengusaha Muslim. Hal ini menunjukan ketergantungan umat yang begitu besar pada sistem yang bukan dikuasai umat Islam sendiri, dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari – hari bahkan hingga pada  penyelenggaraan ibadah haji dan dan umroh. 
 
Selain dibidang ekonomi dan jasa, di bidang ilmu pengetahuan pun peran umat Islam masih kecil sekali. Dari1360 Highly Cited Researchers (peneliti yang paling banyak dikutip karyanya) yang dikeluarkan Google Scholar bulan Juni 2016, peran peniliti Muslim atau peneliti dari universitas Islam masih sangat rendah, nyaris tidak terdekteksi.  

Umat itu harus kaya dan kuat
Nurlinawati Yunus seorang peneliti yang saat ini bermukim di Jerman dan  juga aktif dalam pengajian PeDLN berpendapat bahwa umat Islam itu harus kaya dan kuat. Setuju? Mari kita lihat ulasan berikut. 
 
Ada hadits yang menyatakan bahwa: Orang-orang faqir kaum Muslimin akan memasuki surga sebelum orang-orang kaya (dari kalangan kaum Muslimin) selama setengah hari, yaitu lima ratus tahun (Hadits hasan shahîh, HR At-Tirmidzi No. 2353, 2354 dan HR Ibnu Majah No. 4122). Hal ini dikarenakan banyaknya harta si kaya yang perlu dipertanggungjawabkan sehingga memerlukan waktu yang lama. 
 
Namun hadits tersebut hendaknya tidak dijadikan pegangan supaya tidak perlu mengejar kekayaan dunia karena di hadits lain Rasulullah SAW bersabda: Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allâh Azza wa Jalla daripada Mukmin yang lemah; dan pada keduanya ada kebaikan (HR. Muslim No. 2664, HR Ahmad No. 370, HR Ibnu Majah No. 79, shahih). Kuat di sini dimaknai dari segi keyakinan, perkataan dan perbuatan yang semuanya harus dilakukan dengan sebaik-baiknya (konsep itqon). 
 
Salah satu untuk menjadi Mukmin yang kuat itu adalah menjadi kaya hati, harta dan ilmu. Kaya dunia bukan diletakkan di hati tetapi di tangan karena dunia hanyalah tempat senda gurau, karena hanya kampung akhiratlah tempat yang terbaik (QS Al-An’am (6): 32). 
 
Berikut beberapa alasan mengapa umat Islam itu harus jadi Mukmin yang kuat dalam hal harta:
Untuk menjalankan rukun Islam yang sempurna karena Muslim yang kaya dapat mengeluarkan zakat, sedekah, wakaf, berhaji dan ibadah lainnya. 
 
Agar dapat mengenyam pendidikan yang baik, sehingga selain kaya harta, mereka juga kaya ilmu (QS Al-Mujadalah (58):11, QS At-Taubah (9): 122). 
 
Supaya mampu memberikan hartanya di jalan Allah (QS Al-Baqarah (2): 261) dan mengikuti sunah Rasulullah SAW yang selalu menyumbangkan hartanya untuk Islam. Tidak menjadi orang yang selalu meminta – minta karena ketika hari kiamat kelak ia akan datang dengan tidak ada sekerat daging di wajahnya (HR Bukhari No. 1474 dan Muslim No.1040).
 
Supaya dapat memilih makanan dan pendapatan yang halal lagi thayib (QS Al-Baqarah (2):168, 172, 173), karena dengan makanan bergizi akan menjadi sehat dan sigap sehingga dapat menjadi produktif. 
 
Untuk memberikan nafkah yang layak untuk istri dan anak-anaknya (QS An-Nisaa (4) : 34). 
 
Supaya dapat memberikan harta waris yang layak untuk keluarganya (lihat HR Bukhari No. 2742 berkenaan dengan Saad Ibn Abi Waqqas dan harta waris yang layak untuk anaknya). 
 
Agar dapat mendominasi ekonomi Indonesia bahkan dunia sehingga dapat menjalankan sistem ekonomi tanpa riba (QS Al-Baqarah (2): 275). 
 
Supaya dapat duduk di tempat strategis, membuat keputusan sesuai dengan ajaran Islam, yang sesungguhnya merupakan rahmat bagai seluruh alam, bagi semua manusia di muka bumi ini (QS Al-Anbiya (21): 107). 
 
Bagaimana, siap jadi bagian dari umat yang kaya dan kuat? Wallahu a'lam bis-shawaab. 
 
Salam Sakinah! 
 
Dr. Murniati Mukhlisin, M.Acc
Konsultan Sakinah Finance, Colchester-Inggris
0 Komentar