Pendekatan Al-Biruni Tentang Budaya dan Upaya Islamisasi Sejarah

Senin, 03 Oktober 2016 - 01:00 WIB | Dilihat : 2029
Pendekatan Al-Biruni Tentang Budaya dan Upaya Islamisasi Sejarah Al Biruni
 
“God is in the single number, there are no gods in the plural number”----Al-Biruni
 
Sejarah Mentalitas
 
Dalam konteks disiplin ilmu sejarah, bidang yang mengkaji pandangan alam (worldview), pola sikap (attitudes), atau pola pikir (mindset) suatu masyarakat, serta cara-cara mereka mengekspresikan pandangan dunia serta fenomena kehidupan di sekitarnya disebut dengan sejarah mentalitas.[1] Tiga istilah pokok dalam sejarah mentalitas adalah pikiran kolektif (ideologi, attitudes), perasaan kolektif dan imajinasi kolektif, ketiganya dengan syarat sudah tersosialisasikan.[2]Kata “mentalitas” dalam lingkup kajian ini bisa mencakup berbagai hal dari mulai pikiran, tindakan hingga perasaan, ia bisa meliputi dan menjalar ke berbagai hal. 
 
Menurut Kuntowijoyo, penekanan sejarah mentalitas ada pada “mengutamakan bagaimana ide atau semangat itu mempengaruhi proses sejarah tertentu.” Unsur-unsur mentalitas yang ada dalam benak manusia ini dianggap sebagai struktur kesadaran. Struktur kesadaranlah yang merupakan akar realitas kehidupan manusia. Maka kaitan dan interaksi antara alam ide atau alam mental dengan aksi nyata merupakan orientasi sejarah mentalitas, yang mana hal ini berkaitan erat dengan suatu kebudayaan. Bahkan dapat lebih banyak mengungkapkan tindakan atau perbuatan masyarakat di dunia nyata. Hal ini menjadi kunci perbedaannya dengan sejarah intelektual.[3] Sejarah mentalitas juga termasuk unit utama dalam kajian sejarah kebudayaan maupun sejarah agama.
 
Dalam khazanah keilmuan Islam, saya teringat sejarawan yang punya keterkaitan erat dengan sejarah mentalitas dan kebudayaan, yaitu Abu Rayhan Muhammad Al-Biruni (973-1041 M) ilmuwan jenius dari Khawarizmi. Al-Biruni telah menunjukkan kegemilangan pencapaiannya di bidang ilmu alam, sosial dan humaniora. Namun amat disayangkan, karya-karya Al-Biruni yang diperkirakan berjumlah 180 buku, hanya sedikit yang masih ada hingga saat ini.[4] Bahkan tidak lebih dari sepersepuluhnya. Melalui penafsiran terhadap karya Al-Biruni, tulisan ini secara deskriptif-analisis hendak menggambarkan secara ringkas, apa saja pokok-pokok pemikiran Al-Biruni yang dimungkinkan untuk membantu penjelasan proses Islamisasi mentifacts, jaringan maknawi dan nilai dalam suatu kebudayaan.
 
Al-Biruni dan Mentifacts
 
Al-Biruni sekitar satu milenium yang lalu sudah mengemukakan bahwa pandangan-pandangan masyarakat terhadap tuhan, agama, alam, manusia, jiwa serta pengungkapan akan pokok-pokok keyakinan mereka merupakan instrumen pokok dalam kajian-kajian sejarahnya seperti Tahqiq ma’al Indie atau Tarikh Al-Indie (Alberuni’s India) hingga Al-Atsar Al-Baqiya (The Chronology of Ancient Nations).[5] Tahqiq Ma’al Indieatau Alberuni’s India merupakan salah magnum opus Al-Biruni, menurut Annemaria Schimmel, buku yang edisi bahasa Inggrisnya terdiri dari dua jilid tersebut merupakan buku yang dianggap rujukan pertama dan utama yang pernah ditulis tentang sejarah agama.[6]
 
Pernyataan Annemaria Schimmel itu mungkin bisa sedikit menjelaskan mengapa karya Al-Biruni itu khazanah ilmu berharga bagi umat beragama yang hidup di zaman ini. Al-Biruni telah lama dianggap sebagai ahli ilmu Perbandingan Agama pertama di dunia, pakar lain yang juga mengakui hal itu ialah Erick Sharpe, di mana ia menyatakan sebuah kalimat yang menarik tentang Al-Biruni, “first worshipper of a god or gods who asked himself, having first discovered the facts of the case, why his neighbor should be a worshipper of some other god or gods.”[7]
 
Al-Biruni memang tidak menyebut konsep “mentalitas” dalam tulisannya, namun apa yang tertera dalam karyanya sangat terkait dengan pendekatan sejarah mentalitas. Al-Biruni bahkan menjadikan bagian-bagian awal dalam tulisannya untuk mengkaji konsep ketuhanan, kosmologi, filsafat dan pokok-pokok kepercayaan suatu masyarakat sebagai upaya pemahaman terhadap mentalitas yang mereka miliki.[8] Sejarah mentalitas, bahkan sejarah kebudayaan pada umumnya memerlukan mentifacts atau fakta-fakta mental. Mentifacts suatu masyarakat bisa dibedah dan diungkap melalui konsep kepercayaannya akan tuhan, filsafat, hubungan keduanya (agama dan filsafat), penciptaan, hubungan jiwa dan materi, hingga pokok-pokok keimanan masyarakat.[9] 
 
Nampaknya Al-Biruni sadar bahwa dalam mengkaji suatu masyarakat, seorang peneliti maupun historiografer tidak akan mendapat penjelasan yang utuh tanpa pemahaman terhadap ‘aqidah’, worldview serta mentalitas masyarakat yang dikajinya. Betapa pun sejarah mentalitas harus mendeteksi mentifacts yang abstrak, namun ia menemukan wujudnya dari pola kepercayaan, pola pemikiran (mindsets) dan filsafat, teks-teks yang dianggap suci oleh masyarakat seperti kitab suci keagamaan, pesta rakyat yang ada dalam suatu kurun waktu dan tempat tertentu, tata cara ibadah, hukum, kesusastraan, produk intelektual maupun sikap masyarakat terhadap alam (habbits, attitude) atau pun bencana alam sehingga menjadi bisa diobservasi.[10]Perlu ditekankan di sini, bahwa apa yang tadi disebutkan bukan untuk membatasi fokus-fokus kajian sejarah mentalitas, melainkan hanya penafsiran terhadap pandangan Al-Biruni terkait dengan kebudayaan suatu masyarakat (dalam hal ini masyarakat Hindu di India pada zamannya). Itu pun baru sebagian kecil saja.
 
Pendekatan-Pendekatan Al-Biruni
 
Menurut Kemal Ataman, dalam usahanya membedah karya Al-Biruni, Al-Biruni telah menggunakan setidaknya tiga pendekatan dalam menguraikan kebudayaan Hindu-India, yakni pendekatan perbandingan (comparative) dan dialog antar kebudayaan, serta observasi dengan model fenomenologi, yang telah lumrah dalam antropologi modern.[11]
 
Fenomenologi
 
Salah satu pendekatan Al-Biruni adalah fenomenologi. Di dalam buku Alberuni’s India, Al-Biruni sengaja tidak membuat bukunya ini untuk berpolemik, ia hanya tertarik untuk menyajikan fakta-fakta seperti yang diungkapkan oleh umat Hindu sendiri.

I shall not produce the arguments of our antagonists in order to refute such of them, as I believe to be in the wrong. My book is nothing but a simple historic record of facts. I shall place before the reader the theories of the Hindus exactly as they are, and I shall mention in connection with them similar theories of the Greeks in order to show the relationship existing between them.[12]
 
Al-Biruni berusaha memahami budaya Hindu-India melalui pengertian dan pemahaman masyarakat Hindu-India sendiri, membiarkan subyek (Sache) berbicara tentang dirinya sendiri. Perhatiannya ditujukan untuk merekam fakta-fakta yang ada sebagaimana yang diungkapkan mereka, tanpa prasangka, menurut Kemal Ataman ini merupakan suatu aspek yang paling signifikan dari metodologi Al-Biruni, di sini Al-Biruni telah menjadi sosok pionir pendekatan  fenomenologi.[13] Pendekatan fenomenologi nampak relevan dengan kajian mentalitas dan kebudayaan pada masa ini ini, karena pembahasan mencakup struktur kesadaran masyarakat manusia. Pendekatan ini berupaya menggapai unsur-unsur mental masyarakat serta cara mereka mengekspresikannya.
 
Para sejarawan dan ilmuwan yang membahas kajian sejarah Islam bisa belajar dari hal ini: Dalam kajian ilmu-ilmu sosial dan humaniora sangat penting untuk mengambil perspektif subjek masyarakat yang diteliti, baik itu dalam bidang sejarah, antropologi, serta yang lainnya. Para peneliti dalam kajian sejarah Islam misalnya, termasuk dari kalangan orientalis, harus memahami penjelasan dan perspektif ajaran Islam itu sendiri serta cara-cara umat Islam mengekspresikan agamanya, agar tidak terjadi bias dan distorsi seperti yang umum terjadi di kalangan orientalis.[14]Mentalitas masyarakat Islam dan cara mengekspresikannya hanya dapat dipahami seutuhnya oleh pemeluk ajaran Islam itu sendiri serta melalui pemahaman konsep-konsep ajaran Islam.
 
Perbandingan Agama dan Budaya
 
Kiranya tepat jika Al-Biruni dianggap pionir ilmu perbandingan (comparative) baik dalam agama dan kebudayaan. Kajian yang ia tulis ini mungkin kajian yang benar-benar baru di zamannya. Hal itu dapat dilakukannya karena Al-Biruni fasih dalam berbagai bahasa seperti India (Hindu), Yunani, Manichean, Babilonia, Persia-Zoroaster (Persia Kuno), dan Arab.[15]
 
 
Ilham Martasyabana, 
Pegiat The Site of Study for Sirah Nabawiyah and Islamic Civilization 
 
 
 
Endnote:
[1] Peter Burke, 'Strengths and Weaknesses in the History of Mentalities', dalam Varieties of Cultural History, (Cambridge: Polity Press, 1997). h, 162-82.
[2] Menurut Michelle Vovelle dalam Kuntowijoyo,Metodologi Sejarah (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2003), h. 169.
[3] Ibid, lihat bab “Sejarah Mentalitas”, h. 169-170, 235-247.
[4] S. H. Nasr, An Introduction to Islamic Cosmological Doctrines (Albany: State University of New York Press, 1993), h. 107-115.
[5] Untuk kajiannya tentang perbedaan penanggalan waktu dan kosmos lintas kebudayaan, lihat Al-Biruni,The Chronology of Ancient Nations (Transleter to English: Edward Sachau, London: W.H Allen & Co., 13 Waterloo Place: 1879).
[6] Annemaria Schimmel, Islam: An Introduction (Albany: State University of New York Press, 1992), h. 86.
[7] Eric J. Sharpe, Comparative Religion (New York: Charles Scribner’s Sons, 1975), h. 1.
[8] Al-Biruni, Al-Beruni’s India: An Account of the Religion, Philosophy, Literature, Geography, Chronology, Astronomy, Customs, Laws and Astrology of India(Transleter to English: Edward Sachau, London: Trubner & Co., Ludgate Hill: 1888).
[9] Al-Biruni, Ibid, h. 27-124. Untuk kajian tentang mentifacts atau fakta-fakta mental dalam kajian budaya lihat Kuntowijoyo, Metodologi Sejarah, bab “Sejarah Mentalitas”; “Cultural Role of Ideas” dalam Caroline F. Ware, The Cultural Approach to History (New York: Columbia University Press); Alon Confino, “Collective Memory and Cultural History: Problems of Method” The American Historical Review (Vol. 102, No. 5, Desember 1997); Clifford Geertz, Religion as Cultural System. In Interpretation of Cultures: sellected essays, h. 87-125, (Fontana Press: 1993).
[10] Al-Biruni, Ibid.
[11] Buku referensi tentang hal ini, Kemal Ataman, Re-Reading al-Biruni's India: a Case for Intercultural Understanding: Islam and Christian. Muslim Relations(London: Routledge, 2005).
[12] Al-Biruni, Alberuni’s India, Op.Cit, h. 7.
[13] Untuk mempelajari lebih dalam tentang hal ini lihat Kemal Ataman, Op. Cit, dan Kemal Ataman about Al-Biruni, Al-Biruni’s Understanding of Other Religions, di situs  http://www.crvp.org/book/Series02/IIA-19/CH3.htm.
[14] Untuk kajian mendalam tentang bias dan distorsi dari kalangan orientalis khususnya dalam bidang sejarah, lihat Fred Donner “Orientalists and The Rise of Islam” part I, Jurnal Islamia: Kerancuan Orientalis dalam Kajian Islam, vol. III, no. 1 (Jakarta: INSISTS, 2006); Part II dalam Jurnal Islamia: Akar Peradaban Barat, Vol. III, No. 2 (Jakarta: INSISTS, 2007) dan Edward Said,Orientalisme (Yograkarta: Pustaka Pelajar, 2010).
[15] Rahman Habib, A Chronology of Islamic History, 570-1000 CE, (London: Mansel Publishing), h. 167: “A Persian by birth, Biruni produced his writings in Arabic, though he knew, besides Persian, no less than four other languages.”; lihat juga gambaran sosok dan pencapaian Al-Biruni dalam Hakim Mohammed Said and Dr, Ansar Zahid Khan, Al-Biruni: His Times, Life and Works (Pakistan: Hamdard Academy, 1981).
0 Komentar