Catatan dari Dua Padepokan Sesat di Tengah Hiruk Pikuk Persiapan Pilkada

Jumat, 30 September 2016 - 20:43 WIB | Dilihat : 4666
 Catatan dari Dua Padepokan Sesat di Tengah Hiruk Pikuk Persiapan Pilkada Pimpinan Pedepokan Dimas Kanjeng, Taat Pribadi di Probolinggo, Jatim.

 

SI Online - Di tengah hiruk-pikuk politik terkait persiapan penyelenggaraan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada), terutama paling riuh Pemilihan Gubernur DKI Jakarta; terbongkar ada dua padepokan mblenceng yang cukup mengejutkan. 
 
Satu padepokan di Sukabumi, Jawa Barat, beraroma mesum, narkoba, dan pemilikan senjata api. Belakangan, satu lagi terungkap di Probolinggo, Jawa Timur, sebuah padepokan yang beraroma criminal, ada pembunuhan disertai penipuan, terkait isu penggandaan uang.
 
Dipicu terbongkarnya pesta narkoba jenis sabu-sabu dalam penggerebegan di sebuah hotel di Mataram Lombok, sebuah padepokan di Sukabumi berikut sebuah rumah digeledah Polisi. Terungkap ada simpanan narkoba jenis sabu-sabu, pemilikan senjata api secara illegal serta hewan yang dilindungi; ada yang masih hidup dan ada yang sudah diawetkan.
 
Kejadian ini, melibatkan Aa Gb. Dalam kongres Persatuan Artis Film Indonesia (Parfi) di Lombok Aa Gb kembali terpilih sebagai ketua. Ujungnya, setelah kemenangan terpilih kembali sebagai ketua dari kongres tersebut, kemudian digelar “pesta” pemakaian sabu-sabu di sebuah hotel. Gelagat itu sudah tercium Polisi. Setelah Polisi menggerebeg, ternyata benar. Aa Gb, istrinya, seorang artis Rz dan beberapa yang lain berada di tengah pesta itu. Setelah dilakukan tes dan terungkapnya barang bukti, Aa Gb dan istrinya jadi tersangka dan seorang artis terperiksa. 
 
Menyusul penggerebegan itu, dilakukan penggeledahan di rumah Aa Gb di Jakarta. Perkara menjadi berkembang; karena kecuali ditemukan pula narkoba serta barang-barang yang terkait dengan narkoba, juga ditemukan senjata api dan hewan yang dilindungi, ada yang hidup dan ada yang sudah diawetkan.
 
Bekas Padepokan Brajamusti di Sukabumi. (foto: Tempo)
 
Beberapa pekan kabar ini terus berkembang. Hingga awal pekan ini, masih menghiasi sejumlah media cetak maupun elektronik. Memang masih saja ada yang menarik,  terutama tentang praktik mesum yang dilakukan Aa Gb,  setelah  “pengikutnya” yang artis-artis cantik itu “disuwuk” mulutnya dengan asap pekat makanan jin---yang tidak lain adalah sabu-sabu. Tindakan mesum dilakukan, setelah yang “disuwuk” tak berdaya dalam pengaruh narkoba. Ada  yang mengakui, dalam ketidak berdayaan itu,  masih dapat merasakan; memang  telah terjadi kemesuman, yang disebutnya sebagai berhubungan biologis dengan yang ghaib. Naudzubillah.
 
Berawal terungkap di Lombok, kemudian sejumlah bukti dan kejadian perkara terungkap pula  di Sukabumi dan Jakarta, menjadikan perkara  kemudian ditangani langsung oleh Mabes Polri. 
 
Belum tuntas perkara ini tertangani Polisi, di Jawa Timur, tepatnya di Desa Wangkal Kecamatan Gading, Kabupaten Probolinggo,  terbongkar pula perkara besar di lokasi seluas lebih tujuh hektar yang juga disebut sebuah padepokan.
 
Ada Doktor Ikut Iblis
 
Adalah Taat Pribadi, kelahiran 28 April 1970 ayah dari tiga orang anak,  yang mengangkat dirinya dengan sebutan Kajeng Dimas Taat Pribadi, juga sebagai seorang Guru Besar yang sudah seperti seorang raja, yang oleh para pengikutnya disebut pula sebagai Yang Mulia. 
 
Memiliki pengikut ribuan orang (ada yang menyebut sampai 23ribu orang, red) sebagian besar  berasal dari sejumlah kota di Jawa, sebagian lain dari luar Jawa terutama dari Makassar. Luar biasa. Di antara pengikut yang disebut sebagai “santri” ini, ada pula seorang doktor yang juga seorang politikus dari sebuah partai besar. 
 
Seorang Pimpinan Daerah Muhammadiyah Ponorogo,  dalam pesan pendek melalui telepon seluler kepada Suara Islam Online menyebut, Doktor yang  “kepincut” hingga bersedia menjadi Ketua Yayasan Padepokan ini, telah keblinger ikut tuntunan iblis. 
 
“Lihat di TV. Ketika Taat Pribadi diringkus polisi, dan juga pada kesempatan lainnya, doktor yang berpenampilan  muslimah ini,  muncul layaknya seorang pembela,” tulisnya pada pesan pendek itu.
 
Di rumah Taat Pribadi yang besar dalam lingkung yang disebut Padepokan, tergantung foto-fotonya dalam berbagai kesempatan bersama sejumlah pejabat. 
 
Pejabat-pejabat itu yang disebut sebagai santri-santrinya. “Pengikut disebut sebagai “santri,” namun di padepokan ini tidak ada sedikitpun mencirikan sebagai sebuah pesantren,” ungkap seorang Profesor pada sebuah siaran TV.
 
Ribuan orang “santri” yang tinggal di tenda-tenda di dalam lingkungan padepokan, memang bukan santri seperti dari sebuah Pondok Pesantren. Mereka,  umumnya bertahan, setelah mereka membayar mahar berupa uang atau barang berharga lainnya dan menunggu uang atau barang berharag lainnya itu dikembalikan dalam jumlah berlipat-lipat.

Serahkan Mahar
 
 
 
 
Taat Pribadi, diringkus Polisi dan sekarang harus meringkuk di tahanan Mapolda Jawa Timur di Surabaya. Bukan karena kebohongannya (menipu,red) dapat menggandakan uang dan barang berharga lainnya. Namun jalan masuknya ke tahanan, karena dipersangkakan menjadi otak dari terbunuhnya dua orang santrinya, yakni Abdul Gani dan Ismail.
 
Kepala Divisi Humas Polri, Irjen Boy Rafli Amar kepada wartawan di Jakarta mengungkap dugaan Polisi, pembunuhan dua mantan santri dari padepokan tersebut, terkait dengan upaya untuk membungkam kedua korban agar tindak kejahatan penipuan; bermodus mampu menggandakan uang, tidak terbongkar. Polisi menduga demikian; pembunuhan yang dilakukan dalam waktu berbeda, dan mayat ditemukan di tempat yang berbeda pula, karena ada gelagat kedua korban hendak membongkar penipuan yang dilakukan Taat Pribadi.
 
“Memang ada dugaan,  telah terjadi semacam ketidaknyamanan Taat Pribadi. Ada kekhawatiran terhadap kedua orang ini korban ini,” ungkap Irjen Boy Rafli Amar di Mabes Polri. 
 
Kedua mantan santri itu dianggap berencana membongkar kegiatan penggandaan uang serta barang berharga lainnya. Namun Polisi tidak buru-buru menyimpulkan dugaan itu sebagai motif pembunuhan demikian.
 
Dalam pembunuhan terhadap dua korban itu, Taat Pribadi memerintahkan anak buahnya, diantaranya bernama Wy. 
 
“Kini masih terus didalami untuk ditemukan bukti. Memang ada hal-hal lain yang kemudian  dikembangkan oleh penyidik, namun belum dapat disampaikan sekarang,” tambah Irjen Boy Rafli Amar. 
 
Polisi hingga saat ini masih fokus pada keterlibatannya Taat Prfibadi, yang sebenarnya juga anak seorang Polisi ini, pada tindak pidana pembunuhan. Kini Polisi sudah menahan sepuluh orang lain yang ikut dalam pembunuhan dua orang korban itu. Kemungkinan bertambah, karena Polisi masih terus memburu sejumlah nama ‘santri’ —anak didik Taat Pribadi sebagai pelaku yang disuruh. Kendati demikian, perkara terus dikembangkan. Kesaksian terus dihimpun, untuk mengungkap tindak pidana lain, diantaranya penipuan yang menjanjikan mampu menggandakan uang maupun barang berharga lainnya.
 
Sejumlah saksi mengungkap,  telah menyerahkan uang dengan jumlah dari puluhan juta, ratusan juta hingga ada yang mencapai puluhan miliar dan ratusan miliar; ada pula yang menyebut telah menyerahkan berbagai bentuk barang berharga. Semua yang diserahkan itu disebut sebagai mahar, dan dijanjikan hendak dikembalikan dalam jumlah berlipat ganda. 
 
Aliran Sesat
 
 
Saat Taat Pribadi diringkus Polisi, dalam suatu penggerebegan yang melibatkan ratusan Polisi pada kamis (22 September). Melibatkan ratusan Polisi, karena di lingkungan padepokan tersebut terdapat ribuan orang yang disebut santri, yang bisa saja kemungkinan memberi perlawanan. Ternyata, ribuan orang tersebut bertahan hidup di bawah tenda-tenda, berminggu-mingu bahkan berbulan-bulan, karena sedang  menunggu pengembalian uang dan barang berharga lainnya yang sudah diserahkan sebagai mahar dan berharap pengembaliannya dalam jumlah berlipat.
 
Jadilah  Pemerintah Daerah dan Kepolisian setempat menjadi sibuk,  membujuk para ‘santri’ ini untuk pulang. Kini jumlah ‘santri’ yang masih bertahan masih ratusan. Mereka tidak meninggalkan tenda-tenda diantaranya karena sudah kehabisan biaya. Semua uang sudah diserahkan menjadi mahar. Selain itu, ada yang bertahan karena benar-benar ‘keblinger’ menyebut Taat Pribadi saat ini tengah berada di Makkah. Sedang yang ditangkap Polisi adalah raga ghaib Taat Pribadi yang ejawantah (menampakkan diri memberi perlindungan). Subhanallah.
 
Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur, menerima desakan dari banyak pihak untuk segera menetapkan ajaran Kajeng Taat Pribadi sebagai sebuah aliran sesat. Beberapa kali MUI menggelar sidang, untuk menghimpun keterangan dari sejumlah tim yang diturunkan untuk menghimpun bukti. 
 
Sementara yang telah tersiar luas, ada Takbiratul Ihram yang dilakukan berdasar ajaran Taat Pribadi, berbeda. Demikian juga terdapat ajaran Shalawat, yang disebut sebagai Shalawat Fulus. 
 
“Sejumlah bukti akan terus dihimpun, untuk memperkuat jika memang harus menetapkan sebuah fatwa sesat,” ungkap KH. Abdusshomad, Ketua MUI Jawa Timur. 
 
rep : muhammad halwan/dbs 
0 Komentar