Prioritas Jihad bil Maal

Rabu, 28 September 2016 - 20:40 WIB | Dilihat : 1268
Prioritas Jihad bil Maal Irfianda Abidin, Ketua Umum Komite Penegakkan Syariat Islam Sumatera Barat
Alhamdulillah, pada Sabtu, 17 September lalu, saya bertemu dan ngobrol dengan Mas Nurbowo, salah satu redaktur Tabloid Suara Islam (SI), di Hotel Nabawy 2 di Jl Veteran Kota Padang.
 
Saat itu saya ungkapkan bahwa saya akan memperpanjang kontrak iklan di Tabloid SI untuk setahun ke depan. Itu bukan untuk gagah-gagahan, melainkan sebagai syiar agar jihad melalui media massa ini juga harus didukung dengan serius.
 
Saya yakin, Tabloid SI ini salah satu media perjuangan atau jihad Islam. Menurut Syaikh Dr Yusuf Qaradhawi dalam Kitab Fiqhuz-Zakah, beberapa bentuk jihad masa kini yang harus mendapat alokasi zakat antara lain: Mendirikan unit usaha di bidang percetakan, baik berupa surat kabar, majalah tabloid, maupun brosur-brosur, untuk menangkis berita-berita dari luar yang merusak dan memutarbalikkan fakta kebenaran Islam, membuka tabir kebohongan musuh-musuh Islam, serta menjelaskan Islam yang sebenarnya.
 
Saya juga ungkapkan kegundahan saya, mengapa untuk jihad yang serius seperti perjuangan lewat media massa ini, selalu saja terkendala masalah keuangan (maal). Padahal, potensi kekayaan umat Islam sangat besar.
 
Maaf kalau saya cerita sebagai contoh, saya sangat sedih mendengar adik saya akan menikahkan anaknya dengan biaya Rp 4 Milyar. Bahkan menurutnya, angka sebesar itu termasuk kecil untuk ukuran lingkungannya. Masya Allah, coba kalau uang sebanyak itu untuk membiayai penerbitan SI.
 
Wakil Ketua Umum Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), Zainulbahar Noor, mengatakan, potensi zakat Indonesia mencapai Rp 217 triliun per tahun. "Nilainya hampir 10 persen dari APBN kita," kata Zainul seperti dikutip laman tempo.co (7/6/2016). Itu baru zakat, yang besarannya antara 2,5 sampai 10 persen saja. Belum lagi infak dan sedekah, yang besarannya bisa jauh melampaui prosentase zakat.
 
Potensi raksasa zakat itu menunjukkan bahwa banyak orang Islam yang super kaya. Misalnya, dari daftar 50 orang terkaya Indonesia tahun 2015 yang dirilis Majalah Forbes, setidaknya 5 di antaranya adalah pengusaha muslim.
 
Harus Kaya
 
Menjadi kaya itu manusiawi. Bagi kaum muslimin, bahkan bercita-cita dan berusaha menjadi orang kaya itu suatu keharusan. Karena dengan itulah kita dapat bebruat lebih banyak untuk perjuangan agama ini.
 
Bayangan enaknya jadi orang kaya, empat belas abad yang lalu pernah dikemukakan beberapa sahabat di hadapan Khalifah Umar bin Khattab. Waktu itu Umar naik mimbar dan bertanya kepada jamaah, ‘’Kemukakan keinginan kalian.’’ Aku mengandaikan mendapat rumah yang dipenuhi dirham, lalu aku infakkan fi sabilillah, jawab seseorang. ‘’Utarakan keinginan kalian,’’ kata Umar lagi. ‘’Aku mengandaikan mendapat rumah yang dipenuhi emas, lalu aku infakkan fi sabilillah,’’ jawab seorang lainnya. ‘’Sampaikan keinginan kalian,’’ kata Umar lagi. ‘’Aku mengandaikan mendapat rumah yang dipenuhi permata, lalu aku infakkan fi sabilillah,’’ jawab seorang lagi. ‘’Apalagi selain itu?’’ kata orang-orang ketika Umar mengulangi pertanyaannya (Imam Bukhari dari Zaid bin Aslam, dalam Tarikh As Saghir: 29).
 
Cita-cita untuk kaya sehingga dengannya dapat berbuat kebajikan lebih banyak, bukan angan-angan sia-sia. Bahkan meski masih sebatas keinginan, ia sudah menjadi ‘’sesuatu’’ di hadapan-Nya. Sebagaimana dikatakan Nabi Muhammad saw: ‘’.... menanti-nanti (mengharap-harap) kelapangan (sehingga dengannya dapat berbuat kebajikan) adalah suatu ibadah’’ (HR Bukhari). 
 
Dalam penguasaan Muslim, dunia mestinya menjadi jembatan menuju akhirat, dan bukan penghambat. ‘’Dunia adalah ladang akhirat,’’ kata Nabi. Sofyan Tsauri berkata, ‘’Harta di zaman kami adalah senjata kaum beriman". Sedangkan Abu Ishaq as Sabi'i berkata, kaumnya dulu memandang keluasan harta benda sebagai penolong agama. (Mukhtashar Minhajul Qashidin, 185).
 
Maka Nabi Muhammad menegaskan, sebaik-baik kekayaan adalah di tangan Muslim yang dermawan. Misalnya, demi mendengar Aisyah berkata, ‘’Abdurrahman bin Auf masuk ke surga dengan merangkak,’’ Bin Auf yang saudagar kaya raya menghabiskan sebagian besar hartanya di jalan Allah. 
 
Ketika wafat, Bin Auf mewasiatkan 50.000 dinar untuk diberikan kepada para veteran Badar. Masing-masing pahlawan mendapat jatah 400 dinar (sekitar Rp 935 juta). 
 
Jihad bil Maal
 
"Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu'allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana." (Qs. at-Taubah: 60)
 
Sebagian ulama memahami bahwa jihad di jalan Allah mencakup jihad dengan senjata dan jihad dengan ilmu, seperti menerangkan kebenaran Islam, dan kebatilan orang-orang kafir dan musyrik. Begitu juga mencakup gerakan dakwah dengan tujuan menegakkan kalimat Allah.
 
Firman Allah SWT: “Maka janganlah engkau taati orang-orang kafir dan berjuanglah terhadap mereka dengannya (al-Qur’an) dengan (semangat) perjuangan yang besar“ (Qs al-Furqan: 5). Menafsirkan ayat ini, Ibnu Abbas berkata: “Maksudnya adalah (berjihad) dengan al-Qur’an” (Tafsir Ibnu Katsir: 3/311).
 
Berkata Ibnu Taimiyah  dalam Minhaj as-Sunnah an-Nabawiyah (8/86):  “Surat ini (al-Furqan) turun di Mekkah, sebelum Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam berhijrah ke Madinah, dan sebelum diperintahkan berperang, dan sebelum diijinkan berperang. Maka, maksud jihad (pada ayat di atas) adalah jihad dengan  ilmu, hati, penjelasan dan dengan dakwah, bukan dengan berperang“.
 
Jihad bil Maal diperkuat dengan wasiat Rasulullah SAW: “Perangilah orang-orang musyrik dengan harta, jiwa dan lisan kalian“ (HR Abu Daud, no:  2504).
 
Syaikh Muhammad bin Ibrahim Ali Syekh dalam Majmu’ Fatawa-nya (4/142) mengatakan antara lain: “Di sini ada masalah penting bahwa zakat sah jika diberikan untuk penguatan dana kegiatan dakwah kepada Allah dan dalam rangka mengungkap kekeliruan dalam pemahaman agama. Ini semua termasuk dalam katagori jihad dan  termasuk hal-hal penting di jalan Allah.’’
 
Sekali lagi, penerbitan media massa Islam seperti Tabloid SI ini, adalah bagian dari jihad modern. Maka ia harus didikung dengan jihad bil maal. Mari!
 
 
Irfianda Abidin
Ketua Umum Komite Penegakkan Syariat Islam Sumatera Barat dan Datuk Penghulu Basa Majelis Tinggi Kerapatan Adat Alam Minangkabau  
 

 

0 Komentar