Inilah Keistimewaan 10 hari Pertama di Bulan Dzulhijah

Ilustrasi: Jamaah haji menuju Jabal Rahmah

 

SI Online - Kita akan sambut kedatangan Hari Raya Idul Adha, puncak di Bulan Dzulhijjah yang menyimpan hari-hari emas, yang amatlah sayang jika dilewatkan. Hari-hari tersebut, keseluruhan terutama terdapat pada  sepuluh hari pertama, yaitu mulai tanggal satu hingga sepuluh di bulan Dzulhijjah ini.
 
Sepuluh hari pertama dalam bulan Dzulhijjah, ternyata dapat mengalahkan keistimewaan yang dibawa oleh sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan.  Simak Alquran Surat Fajr : (1) Demi Fajar. (2) Demi sepuluh malam yang pertama. (3)  Demi malam  yang genap dan ganjil. (4) Demi malam yang sedang berjalan. 
 
Sejumlah Ulama ahli tafsir menyebutkan, jika ‘Wau’ dalam setiap mengawali ayat-ayat  tersebut merupakan sumpah (demi). Yakni ketika Allah, sudah menggunakan sumpah tersebut berarti informasi yang hendak datang setelahnya,  adalah sangatlah penting. Kemudian sepuluh malam yang dimaksud sebagai sepuluh malam yang berakhir pada hari raya Idhul Adha. Maka para ulama ahli tafsir sepakat, jika hari raya Idhul Adha sejatinya lebih utama jika dibandingkan dengan hari raya Idhul Fitri. Maksudnya, didalamnya terkadung pahala yang amat besar.
 
Karena, setelah shalat Iduh Fitri, tidak ada  ibadah atau amalan khusus yang mengikuti atau yang  diperintahkan  untuk dilaksanakan. Berbeda dengan Shalat Idhul Adha, setelahnya terdapat anjuran untuk melaksanakan beberapa amalan ibadah khusus lainnya. Salah satunya adalah pelaksanaan ibadah qurban. Hal tersebut sebagaimana dimaksud dalam sebuah ayat dri Alquran : “Laksanakan Shalat dan sembelihlah hewan qurban, demi mencari ridha dari Rab-mu (QS. Al Kautsar : 2)
 
Sebagian ulama kemudian menyebutkan, sepuluh malam dalam bulan Dzulhijjah lebih afdal jika dibanding dengan sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan. Padahal, sepuluh malam terakhir dalam bulan Ramadhan terdapat satu malam yang didalamnya terdapat  Lailatul Qadar----yaitu malam dengan kemuliaan yang setara dengan seribu bulan atau 83 tahun dan empat bulan. Artinya, jika ada hamba Allah yang melakukan suatu amal ibadah dan amal kebaikan, bertepatan dengan turunnya malam kemuliaan--- Lailatul Qadar, maka tersedia pahala lebih baik dari pahala kebaikan selama seribu bulan.
 
Lailatul Qadar, terjadi hanya dalam satu malam hingga terbitnya fajar, yaitu diantara malam-malam ganjil dalam sepuluh malam terakhir Ramadhan. Lain halnya dengan sepuluh hari dan malam-malam  selama sepuluh hari awal bulan Dzulhijjah. Kita diperintahkan menggelar peribadatan dan amal kebaikan selama sepuluh hari penuh siang dan terutama malam. 
 
Keutamaan peribadatan dalam sepuluh hari pertama, pada siang dan terutama malam di awal bulan Dzulhijjah, disebutkan oleh Nabiullah Saw, memiliki keutamaan yang setara dengan jihad, yang mengorbankan jiwa dan harta benda di medan peperangan.
 
Simak hadits yang diriwayatkan Allahuyarkham Imam Al Bukhari, yang artinya;  “Dari Ibnu Abbas RA, bahwa Nabi Saw bersabda : Tidak ada hari dimana amalan shalih pada saat itu lebih dicintai oleh Allah. Hari –hari itu adalah sepuluh hari dari awal Bulan Dzulhijjah. Mereka kemudian bertanya, Tidak juga jihad  fi sabilillah? Beliau menjawab ; Tidak juga jihad fi sabilillah.  Kecuali orang yang keluar (berjihad) dengan segenap jiwa dan hartanya, kemudian tidak kembali dengan suatu apapun,” (HR Al Bukhari, Ahmad dan At Turmudzi).
 
Dapat direnungkan. Betapa besar orang mendapat pahala setara dengan orang yang mati sahid yang telah mengeluarkan  segenap jiwa dan seluruh hartanya untuk keperluan ke medan perang.
 
Karenanya, amal ibadah dan kebaikan yang dilakukan malam-malam dalam sepuluh hari pertama di Bulan Dzul Hijjah yang setara dengan jihad fi sabilillah,  menjadikan  lebih utama daripada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan---sekalipun salah satu malam diantaranya terdapat Lailatul Qadar. Karena :
 
1. Orang yang mendapatkan Lailatul Qadar wafat, jenazahnya masih harus dimandikan. Sedang orang yang mati sahid, Allah telah menganggapnya suci dan jenazah tidak perlu dimandikan.
 
2. Orang yang mendapatkan Lailatul Qadar, masih tetap mendapatkan fitnah kubur. Sedang orang yang mati sahid, tidak terdapat pertanyaan apapun di alam kubur.
 
3. Orang yang mendapatkan Lailatul Qadar, saat dibangkitkan di padang Mahsyar, dalam yaumul hisab; amalannya baik dan buruknya tetap ditimbang. Sedang orang yang mati sahid, tidak melalui timbangan amalan demikian, karena semua dosanya telah dimaafkan.
 
4. Orang yang mendapatkan Lailatul Qadar, belum memperoleh jaminan dapat memberikan syafaat kepada 70 orang yang dikenal---kerabat atau orang Muslim lainnya. Sedang orang yang mati sahid, dapat memberikan syafaat kepada kerabat yang dikenal dan  Muslim lainnya.
 
5. Orang yang mendapatkan Lailatul Qadar, belum mendapat jaminan masuk surga. Sedang orang yang mati sahid, sudah mendapatkan jaminan masuk surga seperti yang disebut di akhir QS. Al-Fajr (30). Waad khulii jannatii : Masuklah kamu ke dalam surga-Ku..
 
6. Orang yang mendapatkan Lailatul Qadar belum mendapat gambaran bagaimana nasibnya ketika harus melewati Sirathalmustaqim, sedang orang yang mati sahid pasti, menjadi golongan pertama yang melewati sirathalmustaqim secepat kilat, dengan wajah memancarkan sinar terang seperti bulan purnama.
 
7. Orang yang mendapatkan Lailatul Qadar, belum mendapatkan jaminan akan memperoleh derajad tinggi di surga. Sedang orang yang mati sahid, mendapat jaminan akan langsung masuk surga tertinggi, firdaus.  
 
Semoga Allah memberikan kemudahan dan keringanan untuk melaksanakan sejumlah ibadah di sepuluh hari-hari awal bulan Dzulhijjah yang ternyata merupakan hari-hari emas yang dipenuhi dengan pahala yang setara dengan jihat fi sabilillah. Amin.
 
rep : muhammad halwan/dari berbagai sumber

 

Komentar

Belum ada komentar
Nama

Email


security image
Kode
Komentar