Banyuwangi dan NTB Siapkan Kembangkan Pariwisata Halal

Sabtu, 03 September 2016 - 10:38 WIB | Dilihat : 918
Banyuwangi dan NTB Siapkan Kembangkan Pariwisata Halal Seminar Wisata Halal di ITB Bandung, Jumat (02/09/2016)

Bandung (SI Online) - Membangun dan mengembangkan pariwisata halal tidak bisa hanya sekedar menunjukkan brand halal saja melainkan harus diimplementasikan dalam segala aspek kehidupan. Masyarakat dunia khususnya dari Timur Tengah sudah mengetahui bahwa Indonesia adalah Negara yang jumlah penduduknya mayoritas muslim.

"Kita perlu hati-hati jangan sampai branding halal malah memutarbalikan bahwa sebenarnya daerah kita tidak atau belum halal,”ungkap Muhammad Yanuar Bramuda, Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Banyuwangi saat menjadi pembicara Seminar Pariwisata Halal di Aula ITB Bandung, Jumat (02/9/2016).
 
Ia menambahkan untuk mewujudkan konsep tersebut Pemerintah Daerah yang didukung penuh Kepala Daerah dan masyarakatnya harus bisa memetakan serta merumuskan standarisasi halal bagi turis baik domestik maupun dalam negeri. Karena dua aspek inilah yang akan menentukan berhasil tidaknya daerah mengusung wisata halal.
 
“Alhamdulillah untuk Banyuwangi sendiri telah terjalin sinergi antara pemerintah yang didukung penuh pak Bupati dengan masyarakat sehingga dalam aplikasinya tidak ada pertentangan dengan masyarakatnya sendiri,”imbuhnya.
 
Ia memberikan contoh keberpihakan Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas yang mendukung wisata halal dengan memberikan kebijakan konsep pariwisata yang mendukung wisata halal sekaligus melestarikan budaya lokal dengan tidak merubah alam, tidak hiruk pikuk, tidak diijinkan karaoke, diskotik, lokalisasi,  pasar modern serta mengatur berdirinya mall.
 
“Sekali lagi alhamdulillah masyarakat mendukung karena kalau kebijakan bersumber dari aspirasi bawah maka insya Allah tidak akan terjadi gesekan dalam pelaksanaannya,”imbuhnya.
 
Yunuar juga menambahkan Bupati sendiri telah mengelurkan larangan pendirian hotel di dekat pantai yang diganti dengan penginapan rumah warga (home stay) sehingga turis bisa berbaur dengan masyarakat dan tidak melakukan tindakan asusila yang melanggar norma agama dan sosial.
 
“Investor tidak kita larang akan tetapi jika ingin membangun mall maka harus minimal 10 kilometer dari kota. Dengan begitu kita tetap melindungi pasar tradisional namun tidak melarang investor, geliat ekonomi masyarakat tumbuh,”ujarnya.
 
Hal yang sama juga diungkapkan Gubernur Nusa Tenggara Barat Dr. K.H. TGH. Muhammad Zainul Majdi, M.A yang menyampaikan bahwa NTB memulai mengimplementasikan pariwisata halal seiring dengan keluarnya Pergub Wisata Halal pada tahun 2015, dan diperkuat pada tahun 2016 dengan perda tentang Wisata Halal.
 
“Tahun 2016 ini sudah 500 hotel dan resotoran di NTB yang memiliki sertifikasi halal. Targetnya 2017 mendatang sudah ada 2.000 hotel dan restoran yang akan memiliki sertifikasi halal,”ungkap Gubernur yang akrab dipanggil Tuan Guru Bajang ini.
 
Gubernur yang pernah menjadi santri ini juga menjelaskan mengapa harus menerapkan wisata halal?. Sebab langkah tersebut bukan untuk menutup pasar yang sudah ada (turis non muslim) namum juga membuka pasar baru yang belum ada yakni turis muslim. Ia  menjelaskan apa Dampak sertifikasi halal impact-nya pada daerah yang menerapkan seperti  NTB.
 
"Tahun lalu NTB mendapatkan award -Best destination dan best Hallal destination- yang mana berkat award ini meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan domestik dan mancara negara untuk pergi ke NTB, " imbuhnya.
 
Menutur Tuan Guru Bajang hal ini adalah dampak baik atau berkah yang didapat karena menerapkan pariwisata halal dan ikhtiar atau upaya yang sesuai kehendaki Allah Swt. Ia justru menyampaikan harapannya bahwa sebaiknya daerah-daerah yang menerapkan pariwisata halal adalah daerah yang sudah berkembang pariwisatanya.
 
"Bandung, Jakarta, Banyuwangi dan daerah lainnya harusnya lebih maju dan berkembang karena mempunyai SDM yang handal, melek teknologi dan mempunyai semangat keislaman yang tinggi,” pungkasnya.
 
Seminar ini diprakarsai oleh Pusat Kajian Halal ITB yang bekerjasama dengan masjid Salman dan Kementerian Pariwisata serta LPPOM MUI Pusat. Dalam seminar ini juga digelar workshop tentang sertifikasi makanan halal, biro pariwisata, spa halal serta hotel syariah.  
 
rep: suwandi
red: shodiq ramadhan
0 Komentar