Pengusaha: Label Halal Mutlak untuk Tembus Pasar Global

Selasa, 09 Agustus 2016 - 19:40 WIB | Dilihat : 951
Pengusaha: Label Halal Mutlak untuk Tembus Pasar Global Label Halal MUI yang telah diakui dunia.

 

Jakarta (SI Online) - Pengusaha makanan dan minuman mengakui, label halal mutlak diperlukan bagi industri makanan dan minuman agar dapat tembus di pasar global.
 
"Hampir semua negara saat ini mensyaratkan adanya label halal pada kemasanan makanan dan minuman, sehingga kami juga mengaplikasikan pada seluruh produk kami," kata Direktur PT Mega Global Food Industry, Richard Cahadi yang perusahaannya merupakan produsen biskuit Kokola di Bintaro Tangerang Selatan, Senin (08/08/2016). 
 
Richard mengatakan awalnya kemasan halal ini hanya untuk pasar Indonesia saja, namun ternyata mitra kami di luar negeri juga meminta hal serupa.
 
Biskuit Kokola yang diproduksi di Gresik Jawa Timur ini, kata Richard sudah memiliki penggemar di luar negeri, sudah memiliki pasar di dalam negeri, pihaknya juga memperkuat pasar luar negeri.
 
"Bagi seluruh industri, baik dalam maupun luar negeri, pasar internasional penting. Untuk itu Kokola Group berniat makin memperkuat pasar internasional melalui berbagai langkah strategis," jelasnya.
 
Imbauan Presiden Joko Widodo bahwa Indonesia harus lebih aktif dalam kegiatan ekspor bukan hanya bahan mentah/komoditi saja, tapi juga ekspor berbentuk olahan pangan/olahan jadi. Hal ini yang kami pegang untuk pengembangan ke depannya, ujar Richard
 
Biskuit Kokola setelah dikelola generasi ketiga berhasil melakukan turnaround. Transformasi gaya manajemen kuno ke modern sukses dilakukan Richard Cahadi, 40 tahun, secara bertahap. 
 
Sejumlah terobosan pun dilakukan, sehingga Kokola yang awalnya hanya jago kandang di pasar Jawa Timur, kini menjadi perusahaan global di kategori snack. Tidak kalah dengan raksasa Mayora, Indofood atau Garudafood.
 
Namun, satu keunikan Kokola adalah fokus menggarap pasar biskuit dan wafer saja. Tidak seperti perusahan makanan lain yang merambah ke mana-mana produknya.
 
"Sejauh ini kami tidak terbawa arus ikut masuk ke pasar mie instan, minuman, permen, kacang atau snack yang lain. Kokola hanya fokus untuk produk-produk biskuit," kata Richard menegaskan komitmen perusahaan yang berumur 30 tahun itu.
 
Terobosan berikutnya, masuk ke pasar ekspor. Hal ini dilakukan sejak tahun 2006. Negara pertama ekspor biskuit Kokola adalah Australia. Setelah itu, ke rak-rak supermarket di Amerika Serikat, Eropa, China, Arab Saudi, Asia, Afrika dan lainnya. Semua itu terwujud berkat fokus perusahaan akan keamanan dan kesehatan produk yang kami hasilkan, kata Richard.
 
Untuk pasar Asia, semua negara sudah ditembus biskuit dan wafer Kokola, kecuali Jepang saja. "Nggak tahu kenapa lidah orang Jepang kok beda sendiri. Padahal, produk terbaru kami rasa maca atau green tea direspons antuasias oleh konsumen Korea, Taiwan dan China, tapi di Jepang susah masuknya," ujarnya.
 
Hingga kini Kokola sudah berhasil merambah pasar ekspor dengan komposisi 50 persen dan sisanya sebanyak 50 persen untuk domestik. Jumlah itu mengalami kenaikan dari sebelumnya. 
 
Adapun sertifikasi yang telah berhasil diperoleh antara lain: Food Safety ISO 22000, sertifikasi halal produk dan proses dari MUI (MajelisUlama Indonesia), BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan), BRC Global Food Safety (British Retail Consortium), Halal Process & Halal Product Certification) dari Majelis Ulama Indonesia.
 
red: abu faza
sumber: ANTARA
0 Komentar