Satgas Masjid Pengawal Akhlak Bangsa

Minggu, 31 Juli 2016 - 11:10 WIB | Dilihat : 1747
Satgas Masjid Pengawal Akhlak Bangsa Ilustrasi: Masjid Agung Al Azhar Jakarta Selatan


KH Muhammad Al Khaththath
Sekjen FUI
 
Dalam silaturrahim dan bukber Kapolda Metro Jaya bersama pimpinan Ormas Islam pada Ramadhan lalu Irjen Pol Mochgiyarto sempat menyampaikan persoalan tawuran yang menjadi keprihatinan beliau. Volume tawuran akhir-akhir ini semakin meningkat hingga menimbulkan korban tewas, bahkan di malam-malam Ramadhan.
 
Menanggapi hal itu saya menyampaikan usul agar Kapolda mengundang para ulama, guru agama, rohis SMA, pengurus Lembaga Dakwah Kampus (LDK), dan pengurus DKM dan Remaja Masjid dalam suatu semiloka yang menghasilkan kesadaran tentang pentingnya ukhuwah Islamiyah dan perlunya ketertiban masyarakat. Dalam semiloka itu perlu dibuat program bersama yang efektif dalam menanggulangi tawuran.  
 
Sangat bagus jika dalam semiloka tersebut dihasilkan misalnya program satgas yang dibentuk dengan basis masjid. Jadi di setiap masjid dibentuk Satgas yang dilatih oleh Polsek setempat  mengenai tata cara pencegahan dan mengatasi tawuran serta protap pengamanan lingkungan secara umum.   
 
Satgas yang dibentuk di masjid itu dikolaborasikan dengan kepengurusan RT/RW. Satgas masjid adalah berasal dari jamaah masjid yang merupakan warga dari lingkungan RT/RW setempat.  
 
Misalnya saja, jika suatu masjid berjamaah satu lingkungan RW, dimana tiap RW terdapat 10 RT, dan tiap RT beranggotakan 50-100 KK, maka bisa dibentuk anggota satgas 10 orang tiap RT dengan koordinator satu orang dan Pembina Ketua RT. Maka kita dapat total satgas Masjid 100 orang dengan satu koordinator dengan Pembina Ketua DKM dan Ketua RW.   
 
Tupoksi Satgas Masjid selain membantu Kepolisian dalam hal menjaga keamanan lingkungan dan terutama mengatasi tawuran anak-anak remaja, anak sekolah, maupun tawuran antar kampung, juga adalah untuk menjadi penyangga jamaah. Ya para anggota Satgas justru harus menjadi jamaah inti untuk memakmurkan masjid. Mengamalkan firman Allah SWT: 
 
Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari Kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, Maka merekalah orang-orang yang diharapkan Termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. At Taubah ayat 18).
 
Dalam kerangka itu pula, Satgas Masjid juga berfungsi sebagai penggalang jamaah. Kalau tiap anggota Satgas dari 100 anggota Satgas Masjid mengajak satu orang tetangga sebelah rumahnya, maka insyaallah masjid di lingkungannya makmur, karena ada sekitar 200 orang yang sholat berjamaah.   
 
Selain itu, tupoksi anggota Satgas Masjid juga adalah penggalang ukhuwah Islamiyyah.  Bila ada salah seorang jamaah tidak hadir sholat jamaah subuh di masjid, maka anggota Satgas Masjid yang terdekat rumahnya wajib menengok yang bersangkutan di rumahnya untuk mengetahui keadaan yang membuatnya udzur. Bila jamaah tidak datang karena sakit, maka dibantu pengobatannya.  Jika jamaah yang tidak datang ke Masjid karena sarung satu-satunya terkena najis ompol anaknya, maka jamaah seperti ini diberi solusi dengan menyumbangkan sarung kepadanya. Sarung sumbangan jamaah kepada jamaah yang perlu sarung tambahan. Dari jamaah untuk jamaah. Ya inilah ukhuwah yang riil. Termasuk di antara ukhuwah yang riil itu adalah pengambilan zakat dari yang kaya untuk diberikan kepada jamaah yang miskin. Satgas Masjid bisa melaksanakan tugas mulia mengambil zakat dari yang kaya dan mengembalikannya kepada jamaah yang miskin. Ketika Rasulullah Saw. mengutus Mu’adz bin Jabal r.a. sebagai Wali (Gubernur) di Yaman yang penduduknya mayoritas Nasrani, beliau saw. berpesan kepada Wali Yaman itu agar mengajak penduduk Yaman bersyahadat, melaksanakan sholat jamaah, dan membayar zakat, yang diambil dari yang kaya dan dikembalikan kepada  yang miskin (lihat HR. Bukhari dalam Sahih Bukhari Juz 2/130).
 
Satgas juga bertugas mengajak dan mengumpulkan anak-anak muda di masjid tiap malam Ahad.  Perlu dibuatkan acara yang menarik bagi anak-anak muda sehingga tiap malam Ahad bisa kumpul bahkan mabit di masjid. Tiap malam ahad itulah anak-anak muda diberikan taushiyah-taushiyah yang meningkatkan kesadaran beragama mereka. Mungkin bisa dibuat acara nonton bareng film-film Islami seperti Ar Risalah, Umar bin Khaththab, Sholahuddin Al Ayyubi, atau Muhammad al Fatih dll.  
 
Satgas Masjid juga bisa ditugasi untuk mengambil shadaqah “jimpitan” beras ibu-ibu yang dikumpulkan dari tiap kali mau menanak nasi. Beras dikumpulkan di masjid dan dipergunakan untuk memberi makan jamaah yang lapar, atau Ibnu Sabil yang kehabisan bekal. Di malam Ahad itu beras bisa dimasak untuk makan malam para remaja.   
 
Sambil keliling mengambil beras pada malam ahad, dari rumah ke rumah, anggota Satgas Masjid yang ditugaskan untuk untuk itu juga melihat keamanan lingkungan.  Jika Satgas Masjid menemukan anak remaja di jalanan sedang mabuk minum miras, maka Satgas Masjid wajib menghentikannya dan membawanya ke Masjid. Orang tua yang bersangkutan dipanggil dan diminta menandatangani pernyataan bersedia menitipkan anaknya untuk dibina akhlaknya  dalam pengajian anak muda di masjid.  Kalau tidak bersedia diserahkan saja ke Polsek.  Dengan demikian Satgas Masjid bisa mengawal akhlak bangsa.  
 
Dengan gambaran tupoksi seperti di atas insyaallah Stagas Masjid Pengawal Akhlak Bangsa (SMPAB) betul-betul bisa mencegah dan mengatasi tawuran bahkan mengokohkan stabilitas masyarakat. Wallahua’lam!
 
0 Komentar