Jangan Berharap Kematian karena Sakit dan Musibah yang Diderita

Sabtu, 23 Juli 2016 - 08:25 WIB | Dilihat : 1872
Jangan Berharap Kematian karena Sakit dan Musibah yang Diderita Ilustrasi sakit
 
 
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ - رضى الله عنه - قَالَ النَّبِىُّ - صلى الله عليه وسلم - « لاَ يَتَمَنَّيَنَّ أَحَدُكُمُ الْمَوْتَ مِنْ ضُرٍّ أَصَابَهُ ، فَإِنْ كَانَ لاَ بُدَّ فَاعِلاً فَلْيَقُلِ اللهم أَحْيِنِى مَا كَانَتِ الْحَيَاةُ خَيْرًا لِى، وَتَوَفَّنِى إِذَا كَانَتِ الْوَفَاةُ خَيْرًا لِى » .
 
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallama telah bersabda : “Janganlah salah seorang di antara kalian mengharap-harap kematian dikarenakan musibah yang dideritanya. Apabila ia melakukannya juga maka katakanlah :
 
اللهم أَحْيِنِى مَا كَانَتِ الْحَيَاةُ خَيْرًا لِى، وَتَوَفَّنِى إِذَا كَانَتِ الْوَفَاةُ خَيْرًا لِى » .
 
Allaahumma ahyinii maa kaanatil-hayaatu khairan lii wa tawaffanii idzaa kaanatil-wafaatu khairan lii: “Ya Allah hidupkanlah aku selama hidup itu sebagai kebaikan bagiku dan wafatkanlah aku jika kematian itu sebagai kebaikan bagiku.” [HSR. Al Bukhari rahimahullahu no. 5671, Maktabah Syamilah]
 
Diriwayatkan oleh Al-Imaam Al-Bukhaariy rahimahullah :
 
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدٍ حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ يُوسُفَ أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ أَبِي عُبَيْدٍ اسْمُهُ سَعْدُ بْنُ عُبَيْدٍ مَوْلَى عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَزْهَرَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَتَمَنَّى أَحَدُكُمْ الْمَوْتَ إِمَّا مُحْسِنًا فَلَعَلَّهُ يَزْدَادُ وَإِمَّا مُسِيئًا فَلَعَلَّهُ يَسْتَعْتِبُ
 
Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullaah bin Muhammad, telah menceritakan kepada kami Hisyaam bin Yuusuf, telah mengkhabarkan kepada kami Ma’mar, dari Az-Zuhriy, dari Abu ‘Ubaid -namanya adalah Sa’d bin ‘Ubaid maula ‘Abdurrahman bin Azhar-, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam telah bersabda, “Janganlah salah seorang dari kalian mengharap kematian. Jika ia orang yang baik maka kemungkinan kebaikannya akan ditambah. Sedangkan jika ia orang yang jahat maka kemungkinan ia bisa memohon taubat.” [Shahiih Al-Bukhari no. 7235]
 
قَالَ النَّوَوِيّ : فِي الْحَدِيث التَّصْرِيح بِكَرَاهَةِ تَمَنِّي الْمَوْت لِضُرٍّ نَزَلَ بِهِ مِنْ فَاقَة ، أَوْ مِحْنَة بِعَدُوٍّ ، وَنَحْوه مِنْ مَشَاقّ الدُّنْيَا , فَأَمَّا إِذَا خَافَ ضَرَرًا أَوْ فِتْنَة فِي دِينه فَلا كَرَاهَة فِيهِ لِمَفْهُومِ هَذَا الْحَدِيث , وَقَدْ فَعَلَهُ خَلَائِق مِنْ السَّلَف
 
An-Nawawiy rahimahullah berkata, “Pada hadits ini terlihat jelas bahwa dimakruhkan mengharap kematian dikarenakan mudharat yang menimpanya atau penderitaan karena perbuatan musuhnya, dan yang sejenisnya dari kerasnya kehidupan dunia. Sedangkan jika seseorang mengkhawatirkan kerugian atau fitnah kepada (kelangsungan) agamanya, maka tidak makruh (mengharapkan kematian). Inilah yang dipahami dari hadits ini. Begitu pula beberapa salaf telah melakukannya.” [Syarh Shahiih Muslim no. 2680]
 
Dari hadits diatas terlihat jelas bahwa Islam memakruhkan seseorang untuk mengharapkan kematian, karena jika ia ternyata ditakdirkan Allah untuk berumur panjang maka ia akan mendapat banyak kesempatan untuk menimba ilmu dan beribadah, dan dari situ ia akan banyak memberi manfaat kepada kaum muslimin dan menjadi muslim yang shaalih, serta ia juga akan mendapat banyak kesempatan untuk bertaubat dari kesalahan-kesalahannya kepada Allah Ta’ala.
 
Wallahu a'lam
 
AbuMiqdam
Komunitas Akhlak Mulia
0 Komentar