Cara Masyumi Melawan Komunisme

Senin, 20 Juni 2016 - 11:36 WIB | Dilihat : 4017
Cara Masyumi Melawan Komunisme Pertarungan antara Masyumi dengan PKI menjelang Pemilu 1955 melalui pamflet propaganda.

Hubungan baik tokoh Masyumi dengan PKI sama sekali tidak berpengaruh pada sikap partai terhadap Komunisme. Bagi Masyumi, PKI adalah partai yang harus dikalahkan.

 
Tahun 1957, sekitar 300 alim ulama Indonesia dalam muktamarnya di Palembang, memutuskan, ideologi Komunis-Marxis kufur hukumnya. Dus, haram bagi umat Islam untuk menganutnya. Karena itu, orang Islam yang menganut ideologi Komunis-Marxis dengan keyakinan dan kesadaran (i'tiqad) dinyatakan kafir. Dia tidak sah menikahi dan menikahkan orang Islam lain, serta jenazahnya haram disalati, dikafani, dan dimakamkan secara Islam. 
 
Sebelumnya, pada 27 Desember 1954, Masyumi dalam Muktamar VII di Surabaya telah mengharamkan Komunisme-Marxisme. Keputusan ini diambil setelah mengkaji falsafah Komunisme tentang agama, wanita, keluarga, pemilikan, dan ajaran politiknya. Misalnya seperti dikatakan Karl Marx dalam Zur Kritik der Hegelschen Rechtsphilosophie (hal 1844): Die religion ist der seufzer der bedrangten kreatur, das gemut einer herqlosen weit, wie sie der geist geistloser zustande ist. Sie ist das opium des volks. “Agama adalah keluhan makhluk tertindas. Ia adalah jiwa dunia yang tak mengenal belas kasihan. Ia adalah jiwa tak bersemangat. Agama tak lebih adalah candu masyarakat.” 
 
Juga Lenin dalam Ausgewahlte Werke (hal 281): De marxist moet materialits zijn dwz: dat wil zeggen vijand van religi. “Seorang Marxis mestinya menjadi seorang materialis, artinya musuh agama.” 

Manifesto Communist, antara lain menyatakan: Kaum komunis tidak perlu mengadakan ‘’sistem wanita milik bersama’’, sebab sistem ini hampir selamanya ada. Maka, Masyumi juga menilai Muslim yang meyakini Komunisme secara sadar dan sengaja, sebagai orang murtad. 
 
Sikap senada ditunjukkan para ulama Afghanistan, ketika Noor Taraki yang kadet komunis, memimpin revolusi berdarah menggulingkan Perdana Menteri Muhammad Daud, April 1978.  Ketika itu, selain mengharamkan paham komunis bagi umat Islam, para ulama Afghan juga mengeluarkan fatwa yang menyatakan Taraki telah kafir dan wajib diperangi.  
 
Empat Alasan
 
Firman Noor, Peneliti Pusat Penelitian Politik LIPI, dalam artikelnya di Republika (2/10/2015), menyebutkan, ada empat alasan mengapa Masyumi menetapkan komunisme itu haram. Pertama, komunisme adalah falsafah yang berdasarkan historic-materialism (faham kebendaan), dengan kata lain menolak ide bahwa dunia dan seluruh isinya adalah ciptaan Tuhan. Kedua, komunisme memusuhi agama dan memungkiri adanya tuhan.
 
Ketiga, komunisme melenyapkan ikatan keluarga dan menjadikan wanita miliki bersama. Keempat, komunisme pada dasarnya melenyapkan hak milik perseorangan atas alat-alat produksi dan kekayaan ("Putusan Madjlis Sjuro Pusat Masjumi tentang Hukum Islam terhadap Komunis").
 
Selain alasan tersebut, sikap anti-PKI Masyumi disebabkan kecenderungan PKI menonjolkan peran dan "kehebatan" tokoh-tokoh komunis internasional dan hubungan yang erat dengan Partai Komunis Uni Soviet atau Partai Komunis China. Ini mengkhawatirkan Masyumi akan kemungkinan Indonesia suatu saat menjadi negara satelit Uni Soviet atau RRC yang disebut Masyumi sebagai "imperalis komunis".
 
Sikap anti kepada komunisme juga karena Masyumi tidak setuju prinsip kediktaktoran proletariat sebagaimana yang diyakini PKI, yang secara mendasar tidak menghendaki adanya perbedaan. Semua yang dianggap lawan atau berbeda dengan kehendak kaum komunis akan disingkirkan. Sistem demokrasi yang diyakini Masyumi jelas bertolak belakang dengan konsep pemerintahan ideal PKI itu.
 
Sudut pandang PKI yang kaku dalam mengategorikan umat manusia menjadi kaum borjuis dan proletar juga berseberangan dengan Masyumi yang meyakini keberagaman manusia adalah kenyataan sebagai kehendak Sang Pencipta. Bagi Masyumi, PKI akan dengan sendirinya menempatkan manusia pada dua kutub yang saling berkonflik, yakni proletar dan borjuis, di mana yang terakhir akan dihabisi manakala kaum proletar yang diwakili kaum buruh dapat menguasai negara.
 
Langkah Konkret
 
Selain ajakan menolak komunisme, Masyumi juga melakukan langkah konkret untuk menghantam kaum komunis. Di beberapa daerah, kader dan simpatisan Masyumi kerap terlibat bentrok dengan kader dan simpatisan PKI. Bahkan pernah terjadi simpatisan Masyumi di Malang, Jawa Timur secara spontan membubarkan kegiatan kumpul-kumpul yang dilakukan pendukung PKI yang dianggap melecehkan umat beragama.
 
Pada Pemilu 1955, kontestasi yang kental terjadi di antara dua partai ini. Hampir dalam setiap edisinya, terutama menjelang Pemilu 1955, majalah Hikmah, Harian Abadi, dan media lain yang dikelola Masyumi membahas keburukan komunisme dan PKI.
 
Bagi Masyumi, kekalahan yang nyata dalam pemilu adalah jika komunis dapat berjaya. Salah seorang tokoh dan pengurus Masyumi menyatakan, jika di suatu daerah pemilihan NU keluar sebagai pemenang, Masyumi tidak merasa kalah. Bahkan dengan PNI pun Masyumi merasa setengah kalah.
 
Masyumi hanya merasa benar-benar kalah jika di wilayah itu dimenangi PKI. Sikap ini menunjukkan bahwa kader-kader Masyumi demikian anti-PKI. Sementara PKI, melalui kadernya, Dasuki, kerap mengatakan musuh PKI bukanlah umat Islam, musuh PKI adalah Masyumi.
 
Dalam pemerintahan, Masyumi menolak membentuk pemerintahan koalisi dengan kalangan komunis. Sikap ini demikian jelas dan tanpa kompromi hingga siapa pun yang akan melibatkan Masyumi sebagai mitra koalisi pemerintahan, tahu diri untuk tidak memasukkan PKI sebagai bagian pemerintahan. Tidak itu saja, pemerintahan Sukiman mengeluarkan kebijakan yang disebut sebagai "Razia Agustus 1951" menangkap belasan ribu orang yang dicurigai sebagai anggota komunis.
 
Masyumi juga kerap menyokong gerakan antikomunis. Dengan alasan ini, misalnya, beberapa orang pimpinan ikut serta ke dalam PRRI/Permesta. Sementara tokoh Masyumi KH Isa Anshary mendirikan Forum Anti Komunis pada 1953, yang demikian jelas menunjukkan sikap permusuhan dengan ajaran komunisme. Forum semacam ini ditanggapi oleh Ketua PKI Dipa Nusantara Aidit sebagai sebuah tindakan yang gila.
 
Namun demikian, ada beberapa kejadian yang juga menunjukkan sikap kenegarawanan antara tokoh teras Masyumi dan PKI. Natsir sebagai pimpinan Masyumi kerap terlibat perbincangan yang akrab dengan Aidit. Keduanya tidak canggung untuk menunjukkan sikap ramah di muka umum. Jika Aidit ke Sukabumi, dia kerap menyempatkan berkunjung dan menginap di rumah Isa Anshary yang adalah ketua Forum Anti Komunis.
 
Hal itu direkam Taufik Ismail dalam prosaliris bertajuk Muhammad Natsir dalam Kenangan, yang digubah 18 Juli 2008:
 
Bagi kita sulit memahami sikap terbukanya. Bersama dengan kawan segenerasinya, walau betapa besar beda pendapat dengan lawan politik, itu tidak menghalangi persahabatan sebagai manusia. Sehabis pidato politik panas tentang dasar Negara di Majelis Konstituante, Natsir dan Aidit duduk makan siang bersama menikmati sate ayam. Begitu pula Isa Anshary dengan Aidit, Muhammad Roem dengan IJ Kasimo.
 
Meski demikian, hubungan baik itu sama sekali tidak berpengaruh pada sikap partai ini terhadap PKI. Bagi Masyumi, PKI adalah partai yang harus dilenyapkan. Sikap itu tidak pernah bergeser hingga akhir hayat partai ini. 
 
(Nurbowo)
 
0 Komentar