Ideologi Tuhan Allah Yang Maha Kuasa

Selasa, 31 Mei 2016 - 07:55 WIB | Dilihat : 2498
Ideologi Tuhan Allah Yang Maha Kuasa Dari kiri ke kanan: Sekjen FUI KH M Al Khaththath, Menhan Jenderal (Purn) Ryamizard Ryacudu dan Ketua PPAD Letjen (Purn) Soerjadi di Balai Kartini, Jakarta. (foto: detik.com)


KH Muhammad Al Khaththath
Sekjen FUI
 
Dalam acara Silaturrahim dengan para pimpinan Ormas Keagamaan dan Kepemudaan serta para purnawirawan TNI/Polri di Balai Kartini Jakarta 20 Mei lalu Menhan Jenderal (Purn) Ryamizard Ryacudu menyampaikan pandangannya bahwa ideologi-ideologi selain Pancasila itu buatan manusia, baik komunisme maupun liberalisme. Sedangkan Pancasila adalah dari Tuhan Yang Maha Esa.  
 
Penyataan tersebut sangat penting disampaikan kepada para hadirin yang memiliki suasana kebatinan anti kebangkitan PKI. Namun saya kira di luar akan ada kecaman atau cibiran kepada Menhan. Paling tidak itu terlihat dari pernyataan Tamrin Tamagola yang berada dalam posisi pro PKI dalam diskusi di sebuah TV swasta melawan kelompok anti PKI. Dengan nada melecehkan, cendekiawan yang pernah diadili masyarakat adat Dayak dan dipaksa mencabut hasil penelitiannya tentang komunitas Dayak itu mempertanyakan Pancasila buatan Tuhan.  
 
Saya tidak yakin apakah Menhan punya argumentasi yang pas untuk menghadapi pertanyaan orang-orang model Tamrin tersebut. 
 
Sebagai orang yang puluhan tahun bergelut dalam soal-soal perjuangan dan gerakan umat Islam saya mencoba memikirkan hal itu. Apakah pernyataan Menhan itu bisa dimengerti atau ngawur saja?
 
Berbicara tentang wacana rumusan Pancasila, paling tidak ada dua mazhab yang berkembang di negeri ini. Pertama, mazhab yang menggunakan Pidato Bung Karno 1 Juni 1945 sebagai rumusan Pancasila yang benar. Rumusan Pancasila 1 Juni ini meletakkan Ketuhanan pada sila kelima.  
 
Terkesan tidak mengutamakan keberadaan dan kekuasaan Tuhan. Kalau anda melewati Sekretariat PDIP di jalan Diponegoro, kelihatan adanya tulisan dari penganut mazhab 1 Juni ini akan terus berjuang agar rumusan Pancasila 1 Juni diberlakukan.   
 
Mazhab kedua, kelihatan ini mazhab jumhur bangsa Indonesia, mengakui rumusan hasil perubahan dari Pembukaan UUD 1945 pada tanggal 18 Agustus 1945, sehari setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia. Rumusan Pancasila  18 Agustus 1945 sila pertama berbunyi : Ketuhanan Yang Maha Esa. Menurut catatan sejarah kalimat Ketuhanan Yang Maha Esa dalam perubahan sila pertama itu menggantikan kalimat : Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya. Pancasila 18 Agusutus 1945 ini sempat tidak berlaku setelah adanya UUD RIS dan UUDS 1950 dan berlaku lagi hingga hari ini sejak dekrit Presiden 1959.  
 
Dalam Pembukaan UUD 1945, para pendiri bangsa ini telah menetapkan bahwa dasar Negara dan pemerintahan bangsa Indonesia adalah Ketuhanan yang Maha Esa: "Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu pemerintah negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar negara Indonesia, yang terbentuk dalam suatu susunan negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasar kepada : Ketuhanan Yang Maha Esa,...." 
 
Ketika Presiden Sukarno mengeluarkan Dekrit Presiden tahun 1959, beliau memulai dengan kalimat : Dengan Rahmat Tuhan Yang Maha Esa. Siapa Tuhan yang Maha Esa, yakni satu-satunya Tuhan yang diakui oleh UUD 1945?  Jawabannya adalah pada alinea dalam Pembukaan UUD 1945 sebagai berikut: 
 
"Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya." 
 
Ya, Allah Yang Maha Kuasa dalam alinea tersebut tidak lain dan tidak bukan adalah nama dari Tuhan Yang Maha Esa.    
 
Keyakinan kepada Allah Yang Maha Kuasa, Tuhan Yang Maha Esa, adalah prinsip dasar ideologi yang diajarkan oleh Tuhan itu sendiri kepada manusia melalui para rasul di antara manusia yang dipilih oleh-Nya  untuk mengajarkan ideologi itu kepada umat manusia.  
 
Imam As Sa’dy menegaskan hal itu (lihat Faidlurahman Tafsir Jawaahiril Quran Juz 2/262) dalam menerangkan firman Allah SWT: “Dan aku telah memilih kamu (Nabi Musa a.s.), Maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan (kepadamu).  Sesungguhnya aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, Maka sembahlah aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat aku”.  (QS. Thaha ayat 13-14).  
 
Dengan demikian bisa kita mengerti pernyataan Jenderal Mizard memang ada dasarnya yang cukup kuat baik dilihat dari dalil konstitusi maupun dalil kitab suci Alquran.   
 
Kalau kita susun kembali pikiran kita tentang ideologi terkait peranan Tuhan maka ada tiga ideologi di dunia ini. Pertama, Ideologi Ketuhanan Yang Maha Esa yang menyatakan Tuhan itu ada dan Maha Kuasa untuk mengatur kehidupan manusia dan alam semesta.  Ini ada dalam Pembukaan UJUD 1945 dan Al Quran.  Kedua, ideologi yang menyatakan Tuhan itu ada tapi tidak berkuasa atas urusan dunia manusia.  Ini ada adalah faham ideologi sekularisme liberalisme yang sekarang menguasai dunia. Ketiga, ideologi yang menyatakan Tuhan itu tidak ada, apalagi berkuasa mengatur urusan manusia. Ini paham ideologi atheisme komunisme yang diadopsi PKI dan partai komunis yang ada di seluruh dunia.  
 
Sebagai warga NKRI dan sekaligus warga kerajaan Tuhan Allah Yang Maha Kuasa, selayaknya kita berpegang kepada ideologi yang pertama tersebut. Wallahua’lam!
1 Komentar