Hukum Membuat Patung

Jumat, 18 Maret 2016 - 16:50 WIB | Dilihat : 2020
 Hukum Membuat Patung Ilustrasi : Patung Arjuna di Kabupaten Purwakarta yang terbakar. (foto: viva.co.id)

 

Assalamualaikum wr wb. Bagaimana hukum membuat dan memasang patung menurut syariat Islam?. Terima kasih. 
 
Ahmad Syakur, Cikarang, Bekasi.

Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh
Jumhur ulama dari kalangan mazhab Hanafiyah, Syafi’iyah dan Hambali berpendapat haram membuat shuroh (gambar atau patung), baik itu gambar tiga dimensi (patung), begitu pula gambar selain itu. 
 
Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya pembuat gambar ini akan disiksa pada hari kiamat. Dikatakan pada mereka, “Hidupkanlah apa yang telah kalian ciptakan (buat).” (HR. Bukhari dan Muslim)
 
Dalam riwayat lain disebutkan, “Sesungguhnya orang yang peling berat siksanya di sisi Allah pada hari kiamat adalah al mushowwirun (pembuat gambar).” (HR. Bukhari dan Muslim).
 
Dikecualikan untuk mainan anak-anak, sesuatu yang dianggap remeh (dihinakan), begitu pula sesuatu yang sifatnya temporer (tidak permanen) seperti jika dibuat dari manis-manisan dan adonan roti.  Dalilnya adalah  ‘Aisyah dahulu pernah memiliki mainan berupa kuda yang memiliki sayap. Sampai-sampai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah tertawa karena melihat ‘Aisyah seperti itu sampai kelihatan gigi geraham beliau. (lihat HR. Imam Bukhari No. 6130) 
 
Selain haram membuatnya, umat Islam juga dilarang untuk memasang patung di rumahnya. Rasulullah Saw bersabda, “Sesungguhnya malaikat tidak akan masuk rumah yang di dalamnya ada patung.” (HR. Bukhari-Muslim)
 
Para ulama berkata, “Malaikat tidak mau masuk ke rumah yang di dalamnya ada patung, karena pemiliknya menyerupai orang kafir. Orang-orang kafir itu memasang patung di rumah mereka dan mengagung-agungkannya. Maaikat benci perbuatan ini, dan tidak mau masuk ke dalam rumah tersebut bahkan menjauhinya.”
 
Maka, Islam pun mengharamkan orang Muslim bekerja sebagai pembuat patung, meskipun dia bekerja untuk orang non Muslim.
 
Rasulullah Saw bersabda, “Sesungguhnya di antara orang yang paling berat siksanya pada hari kiamat ialah orang yang menggambar gambar-gambar ini.” Dalam sebuah riwayat dikatakan, “Orang-orang yang menandingi ciptaan Allah.” (Muttafaq ‘alaih)
 
“Barangsiapa membuat gambar (patung) maka pada hari kiamat nanti Allah akan memaksanya agar meniupkan ruh padanya, padahal sealamanya ia tidak akan dapat meniupkan ruh itu padanya.” (HR. Bukhari)
 
Maksud hadits ini, dia kan dituntut untuk menghidupkan patung tersebut. Tuntutan ini sebenarnya hanya untuk menghina dan menyatakan ketidakmampuan, sebab dia tidak mungkin bisa melakukannya.
 
Menurut Syaikh Dr Yusuf Al-Qaradhawi, di antara rahasia diharamkannya patung –dan ini bukan alasan hukum satu-satunya sebagaimana anggapan sebagian orang – adalah untuk menjaga tauhid dan menjauhkan umat dari menyerupai kaum penyembah berhala yang membuat patung-patung dan berhala itu, kemudian mereka mengagungkan dan berdiri di depannya dengan penuh khusyu’.
 
Sensitifitas Islam dalam melindungi tauhid dari segala bentuk penyerupaan terhadap penyembahan berhala telah mencapai puncaknya. Tindakan hati-hati dan sensitif yang diambil oleh Islam ini merupakan tindakan yang benar. Dalam hal ini, di antara umat-umat terdahulu ada yang membuat patung-patung orang yang sudah meninggal dan orang-orang saleh mereka untuk mengenang mereka. Tetapi setelah waktu berlalu, mereka menyakralkannya sedikit demi sedikit, sehingga akhirnya dijadikan tuhan-tuhan yang disembah selain Allah, diharapkan, ditakuti, dan dimintai keberkahan, sebagaimana terjadi pada kaum Wad, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq, dan Nasr.
 
Karena itu, tidak heran jika Islam yang dasar-dasar syariatnya mengambil tindakan preventif terhadap semua jalan kerusakan, menutup semua celah yang menjadi tempat masuknya kemusyrikan yang nyata atau yang tersembunyi ke dalam akal dan hati, atau perbuatan menyerupai para penyembah berhala dan pemeluk agama yang melampaui batas.
 
Sementara itu, rahasia diharamkannya patung bagi pembuatnya karena si pembuat patung tersebut dapat terperdaya, sehingga dia merasa seolah-olah mampu menciptakan sutu makhluk yang tadinya belum ada, atau dapat menciptakan makhluk hidup dari tanah.
 
Diceritakan bahwa salah seorang pemahat patung membuat patung dalam waktu yang lama. Setelah selesai, dia berdiri di hadapannya dengan mengagumi setiap bagian dan potongannya, sehingga seolah-olah dia hendak berkata dengan sombong, “Hai patung, berbicaralah… Berbicaralah…!”
 
Oleh karena itu Rasulullah Saw bersabda, “Sesungguhnya orang-orang yang menciptakan patung-patung ini akan disiksa pada hari kiamat, seraya dikatakan kepada mereka, “Hidupkanlah apa yang kamu ciptakan itu!” (Muttafaq ‘alaih). Wallahu a’lam bissawab. 
 
0 Komentar