Nasib Ahok Jelang Pilkada

Rabu, 09 Maret 2016 - 10:32 WIB | Dilihat : 7923
 Nasib Ahok Jelang Pilkada Ilustrasi

 

Wakil Ketua KPK Basaria Panjaitan  menyatakan  pembelian lahan Rumah Sakit Sumber Waras bukan korupsi. Berarti BPK salah.  Atau KPK mau selamatkan Ahok?
 
Tanpa prestasi yang luar biasa, Basaria Panjaitan menjadi polisi wanita pertama yang menyandang pangkat bintang dua alias inspektur jenderal . Wanita Batak kelahiran Pematang Siantar, Sumatera Utara, pada  1957 itu juga merupakan wanita pertama yang terpilih menjadi Komisioner KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi). Hebat sekali.
 
Tapi kalau diteliti, ternyata Basaria biasa-biasa saja.Tak ada prestasinya yang menonjol. Malah setelah berpangkat Birgjen, karirnya sebagai polisi seakan mentok. Dia sempat lima tahun dengan pangkat bintang satu. Tampaknya Basaria akan berahir di situ. Tapi tiba-tiba karirnya bersinar setelah kabinet baru dibentuk oleh Presiden terpilih Joko Widodo alias Jokowi.  Di dalam kabinet ada Luhut Panjaitan, saudara semarga Basaria, yang menjabat Menkopolhukam.
 
Bukan itu saja. Luhut adalah teman dekat keluarga Presiden Jokowi yang dulunya adalah pedagang mebel di Solo. Malah secara bisik-bisik sering terdengar berita bahwa Luhut Panjaitan-lah yang sesungguhnya mengendalikan pemerintahan sekarang. Mungkin kabar itu terlalu berlebihan. Tapi yang pasti: Luhut dan Jokowi memang  sudah lama punya hubungan  dekat.
 
Maka Oktober lalu, pangkat Basaria pun naik menjadi  Inspektur Jenderal Polisi. Belum cukup.  Hanya  dua bulan kemudian, Desember lalu, Basaria terpilih menjadi Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Dia jadii wanita pertama di Republik ini menjadi Wakil Ketua di lembaga pemberantas korupsi yang berdiri di zaman Kepresidenan Megawati Soekarno, permulaan tahun 2000-an.
 
Dengan konstelasi seperti itu, Basaria pun tampak punya pengaruh dan kuasa besar di KPK.  Buktinya, Basaria berani  membuat pernyataan pers untuk menyatakan bahwa tak ditemukan tindak korupsi dalam kasus pembelian lahan Rumah Sakit Sumber Waras oleh Pemda DKI Jakarta.
 
Untuk diketahui, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, Gubernur Jakarta, dianggap mengetahui dan terlibat dalam pembelian lahan yang menurut pemeriksaan BPK (Badan Pemeriksa Keuangan) merugikan keuangan Pemda DKI sebesar Rp 191 milyar. Dengan keterlibatannya dalam perkara korupsi itu, Ahok tentu terhalang untuk kembali mencalonkan diri sebagai Gubernur Jakarta. Malah salah-salah Ahok bias masuk bui. Kini Basaria Panjaitan menyelamatkannya.
 
Padahal kasus ini terbongkar berkat hasil pemeriksaan atau audit yang dilakukan BPK. Artinya, ini bukan kasus main-main. Bahkan Gubernur Ahok sendiri sempat diperiksa BPK pada 23 November 2015. Dari pemeriksaan itulah diketahui kalau Gubernur Ahok turut bertanggung jawab atas pembelian lahan oleh Pemda DKI dengan membesar-besarkan harga (mark-up) ini. Apalagi diketahui Gubernur Ahok kenal akrab dengan Nyonya Kartini Mulyadi, Ketua Yayasan Rumah Sakit Sumber Waras, pemilik lahan yang dibeli Pemda DKI untuk lokasi pembangunan Rumah Sakit Jantung.
 
CICIT AHOK SAMPAI KAWAN AHOK
 
Maka pada 7 Desember 2015, BPK menyerahkan kasus ini ke KPK. Perlu diingatkan, BPK merupakan satu-satunya auditor negara yang ditunjuk UUD 1945.
 
Pengurus KPK pada waktu itu sudah mempelajari perkara ini. Salah seorang  Wakil Ketua KPK bahkan  sempat mengungkapkan kepada Wakil Ketua DPR-RI Fadli Zon (sebagaimana diungkapkan Fadli Zon kepada pers), bahwa Gubernur Ahok  terlibat dalam korupsi jual-beli lahan Sumber Waras. Tapi Ahok belum sempat dinyatakan sebagai tersangka. Soalnya, masa jabatan pengurus KPK berakhir dan waktu itu  sudah dipilih pengurus KPK yang baru oleh DPR-RI.
 
Anehnya sekarang Wakil Ketua KPK yang baru Basaria Panjaitan berani menyatakan kepada wartawan bahwa tak ditemukan unsur korupsi dalam kasus lahan Rumah Sakit Sumber Waras. Artinya, Gubernur Ahok pun terbebas dari perkara korupsi. Artinya, Ahok bisa mencalonkan diri sebagai Gubernur Jakarta berkat  Basaria Panjaitan. Artinya lagi: Hasil pemeriksaan BPK salah.
 
Pertanyaannya sekarang: mengapa Basaria Panjaitan menyelamatkan Ahok? Apakah karena motif SARA (suku, agama, rasial, antar-golongan), atau motif lain?  Kebetulan Ahok mau pun Basaria Panjaitan sesama penganut Kristen? Tapi tampaknya ada alasan yang lain.
 
Tak boleh  dilupakan bahwa Ahok berteman dengan Presiden Jokowi. Keduanya adalah pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta terpilih dalam pemilihan kepala daerah (Pilkada) DKI Jakarta pada 2012. Jokowi sebagai Gubernur dan Ahok sebagai wakilnya. Jokowi dicalonkan Partai PDIP dan Ahok dicalonkan Gerindra.
 
Kemudian setelah Jokowi terpilih menjadi Presiden, Ahok pun naik menjadi Gubernur Jakarta. Maka dia pun mencari-cari alasan untuk mengundurkan diri dari Partai Gerindrai. Memang sebelumnya Ahok sudah beberapa kali bergonti-ganti partai. Tampaknya di mata Ahok partai-partai hanya dimanfaatkan sesuai keperluan dan keuntungan pribadinya.
 
Ada yang berpendapat bahwa Presiden Jokowi-lah (melalui teman dekatnya, Luhut Panjaitan) yang berjasa baik menyelamatkan Ahok dari jerat perkara korupsi pembelian lahan Rumah Sakit Sumber Waras yang sedang diusut KPK.
 
Kalau berita ini benar maka semua ini tak boleh dibiarkan. Korupsi adalah masalah besar yang sekarang menggerogotii bangsa ini. Rakyat miskin kesulitan mengais rezeki setiap hari hanya untuk memperoleh sesuap nasi, sementara para pejabat bermewah-mewah dengan uang jarahan korupsi. Dan ini semua terjadi ketika Indonesia digembar-gemborkan telah memasuki sistem negara demokratis.
 
Sudah bukan rahasia kalau pemiliihan Kepala Daerah mulai Bupati sampai Gubernur adalah ajang korupsi besar-besaran. Dana puluhan sampai ratusan milyat dihabiskan setiap calon dalam Pilkada, kalau mau terpilih. Dana itu untuk membiayai Tim Sukses, kampanya, dan bahkan untuk memberi amplop untuk rakyat pemilih. Oleh karena itu, hanya calon dengan dana besar dan sistem manajemen  yang lebih baiklah yang akan terpiliih.  Tanpa dana tak mungkin seseorang memenangkan Pilkada.
 
Apakah kasus Sumber Waras terjadi karena Ahok sedang bersiap-siap menghadapi pemilihan Gubernur Jakarta? Apalagi Ahok akan maju melalui jalur independen, bukan partai politik sebagaimana ketika dia dan Jokowi dulu terpilih. Maka Ahok pasti butuh dana yang lebih  besar. Cicit Ahok, Cucu Ahok, Anak Ahok, atau Kawan Ahok, atau apalah namanya, akan berkampanye memenangkan Ahok. Dan mereka yang belum berpengalaman itu semuanya pasti butuh dana yang lebih besar.

[AMRAN NASUTION]
0 Komentar