Top

Pemerasan dan Eksploitasi Terus Terjadi di NKRI

Sabtu, 05 Maret 2016 - 08:36 WIB | Dilihat : 1765
 Pemerasan dan Eksploitasi Terus Terjadi di NKRI Presiden Jokowi saat groundbreaking Kereta Cepat Jakarta-Bandung. (foto: liputan6.com)

 

Istilah “Exploitation de L’homme par L’homme” amat populer dan acapkali dikemukakan oleh Bung Karno di dalam pidatonya yang berapi-api. Maknanya  berkenaan dengan pemerasan bahkan penghisapan (eksploitasi)  dari manusia yang satu kepada manusia yang lain. 
 
Biasanya pembahasan topik ini berkembang kepada topik selanjutnya yakni : Exploitation de Nation par Nation, yang diterjemahkan sebagai penindasan dan penjarahan satu bangsa kepada bangsa  dan bangsa-bangsa lain.Dengan kata lain berlanjut pada kegiatan kolonialisme atau penjajahan.Sungguh ironis hal ini kini tetap terjadi di NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia).
 
Dalam konteks kekinian atau hari-hari ini,  dalam kehidupan bangsa Indonesia, di era pemerintahan Presiden Joko dan JK, ternyata upaya Exploitation de  L’homme par L’homme bahkan Exploitation de Nation par Nation malah merajalela melebihi yang sudah-sudah dialami bangsa Indonesia. Hanya saja praktik kolonialisme itu, dilakukan  dengan cara yang berbeda  yakni bukan secara fisik hadir di bumi Nusantara-Indonesia. Pasukan militer menguasai teritorial negeri ini, bahkan memerintah negeri ini secara paksa seperti terjadi pada penjajahan Portugis, Inggris, Belanda dan Jepang sepanjang 350 tahun. Skenario baru digelar kini dengan cara yang sophisticated. Namun intinya negeri bernama NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) ini, habis-habisan tetap dihisap harta yang ada di dalam bumi yang dikandungnya bahkan menghisap segalanya yang dimiliki bangsa Indonesia secara fisik dan psykhis.
 
Seorang pengamat kebudayaan, Indra Tranggono dengan amat jeli mengamati praktik eksploitasi bangsa Indonesia ini dengan istilah : Bermacam Pisau Untuk Indonesia (Kompas 3 Februari 2016), yang lebih menyoroti eksploitasi yang berlaku di dalam negeri (sesama bangsa) dengan tulisannya antara lain : “Di negeri ini peradaban rentan robek setiap saat. Para perobek peradaban bisa pengutil duit negara, pemburu rente politik/kekuasaan, penjual regulasi,pemasok Narkoba, pedagang kedangkalan di layar televisi, pengecer pasal-pasal hukum, dan para komprador………. Kurang kuatnya penyelenggara negara menjadikan Indonesia terlalu seksi untuk dijarah, disakiti, dibodohi, ditipu, dikhianati, dilecehkan, diperas, dieksploitasi, dan dimodifikasi baik dengan cara kasar, brutal, maupun elegan alias kejam, tetapi santun. Indonesia juga terlalu indah dan merangsang, untuk dilucuti, dijebol, dibongkar, dan dibentuk sesuai impian, selera, citraan, dan ideologi para ideologi, demagog, juragan politik dan pedagang….” 
 
Pengamatan itu kurang fokus kepada pelaku eksploitasi yang nyata-nyata didalangi oleh asing atau Barat, tetapi hanya menyebut pelaku di dalam negeri yakni komprador. Di era teknologi komputer yang amat canggih, saat ini bagai segalanya tidak ada yang bisa ditutupi. Apalagi sejumlah kejahatan raksasa dalam kerangka penjarahan misalnya kepada NKRI ini, belakangan justru dibeberkan dan dibongkar oleh pelakunya sendiri. 
 
Adalah John Perkins yang menulis buku “Confession of an Economic Hit Man”, Pengakuan Seorang Ekonom Perusak (terbit 2004), disusul buku lanjutannya pun diterbitkan pada 2007 berjudul : The Secret Hystori of The American Empire, Economic Hit Men, Jakal and Truth About Global Corruption di terbitkan versi Indonesia diberi judul : Pengakuan Bandit Ekonomi, Kelanjutan Kisah Petualangan John Perkins sebagai Bandit Ekonomi di Indonesia dan Dunia Ketiga. Membaca dua buku karya Perkins ini,  bagi siapa saja yang nuraninya masih hidup niscaya dibuat bergidik. Operasi Perkins bersama tim bandit ekonominya sejak 1970-an di negara-negara Dunia Ketiga mulai Amerika Latin, Asia dan Afrika termasuk Indonesia, berdampak sangat mengerikan. Jutaan rakyat di berbagai negara mati  kelaparan secara mengerikan. Bahkan Perkins juga mengaku  bahwa tim bandit ekonomi ini juga  beroperasi membunuh seorang presiden yang menghalang-halangi operasi mereka(yakni Presiden Panama Omar Torrijos dan Presiden Equador Jaime Roldos, juga menghancurkan Presiden Guatemala yang terpilih, Jacobo Arbenz yang semula rakyat sudah siap-siap menikmati  perubahan revolusionernya  di mana tanah rakyat Guatema dikuasai 70% oleh 3% saja penguasa dan pengusaha di sana). Bahkan Perkins sendiri mengaku sangat ngeri melihat akibat dari semua operasi yang ia tebarkan termasuk di Indonesia yang menyebabkan jutaan manusia tewas sangat mengenaskan. 
 
Karena merasa berdosa besar, Perkins pun memutuskan membeberkan seluruh operasi  Bandit Ekonomi di Dunia Ketiga yang pernah ia tebarkan bersama timnya. Nurani kemanusiaan seorang Perkins bergejolak, setelah merasakan penjarahan demi penjarahan di berbagai negara itu, disadari hal itu untuk dipersembahkan sepenuhnya untuk negara yang ‘menitahkannya’ yakni Amerika Serikat. Intinya kata Perkins penduduk sejagad raya harta miliknya 25% dijarah oleh AS dan dipersembahkan untuk kepentingan AS yang rakyatnya berjumlah hanya 5% saja dari jumlah manusia sejagad raya.Operasi Bandit Ekonomi ini hakikatnya merupakan kolonialisme gaya baru yang jauh lebih keji katimbang praktek penjajahan fisik yang berelaku sejak abad Pertengahan dan berakhir sekitar Perang Dunia II -1940-an.
 
Perkins membongkar secara terang-terangan alat operasi Bandit Ekonomi ini antara lain lembaga keuangan : Bank Dunia dan IMF yang keduanya sejatinya mutlak ditunggangi dan dimiliki oleh AS. Kasus Indonesia yang bangkrut pada 1997-1998 melalui program IMF dan Bank Dunia yang memaksa Indonesia agar berhutang luar biasa besar, berujung malapetaka krisis multi-dimensi dengan korban jutaan manusia mati kelaparan. Sementara beberapa negara yang nekad menolak program IMF, justru selamat dari krisisi berkepanjangan, seperti : Singapura, Malaysia, Thailand, dan Korea Selatan.
 
Tidak Menjadi Pelajaran
 
Kendati dua buku karya John Perkins itu beredar luas di Indonesia dan sudah  diterjemahkan dalam bahasa Indonesia pula, namun cerita yang amat gamblang dan faktual telah membuat kehancuran NKRI itu, sama sekali tidak pernah dijadikan rujukan dan menjadi pelajaran. Sangat ironis, sekaligus menjadi bukti kebenaran sinyalemen belakangan bangsa Indonesia bangsa pelupa, bahkan bangsa yang kadar intelektualnya tak pernah beranjak dari tingkat kebodohan.
 
Dalam kerangka  exploitation de L’homme par L’homme dan Exploitation de Nation par Nation, belakangan beredar kecurigaan kini ikut ‘beroperasi’ menjarah Indonesia justru dilakukan bangsa Timur sendiri, dalam hal ini isu mengarah peranan China yang banyak menggalang kerjasama dengan pemerintahan Presiden Joko.
 
 Proyek Kereta Api Cepat Jakarta-Bandung dicurigai sebagai alat eksploitasi, karena proyek ini dirasakan dipaksakan bukan sesuatu yang dibutuhkan bangsa Indonesia. Jadi KA Cepat itu untuk siapa? Hari-hari ini saja penduduk Bandung dibuat jengkel dengan membeludaknya pengunjung asal Jakarta ke Bandung setiap Jumat sore-Sabtu- Minggu dan hari-hari libur nasional. Seluruh jalanan kota Bandung pun macet total. Lagipula orang Jakarta selama ini tidak kesulitan menuju Bandung melewati berbagai jalur yakni melalui Bandara Halim Perdanakusumah, Stasiun KA Gambir, Jalan Raya Bogor-Puncak-Cianjur-Bandung, Jalan Raya Bogor-Sukabumi-Cianjur-Bandung, Jalan Jakarta-Purwakarta-Bandung, Jalan Arteri Jakarta-Purwakarta-Subang-Bandung, Jalan Tol Jagorawi-Puncak –Cianjur-Bandung, Jalan Tol Cikampek-Cipularang-Bandung, Jalan Tol Cipali-Majalengka-Jatinangor-Bandung, dan Cibubur-Jonggol-Cianjur-Bandung, dan Jakarta-Purwarkarta-Subang-Lembang-Bandung. Lalu untuk apa dibangun Kereta Cepat? 
 
Mengapa tidak dibangun jembatan Selat Senda menghubungkan Jawa-Sumatera yang telah dirancang sejak lama. Atau membangun kereta cepat Jakarta-Surabaya. Dicurigai biaya pembangunan Kereta Cepat Jakarta Bandunng yang mencapai hampir Rp80 Trilyun itu dikritik sangat mahal karena China juga membangun Kereta Cepat di Iran dengan jarak lima kali lebih panjang tapi nilai proyeknya hanya separuh peroyek Kereta Cepat Jakarta Bandung. Kendati demikian deras kritik itu, tampaknya pemerintahan Presiden Joko tidak peduli dan jalan terus. Ada apa ?
 
Kecurigaan hubungan Pemerintahan Presiden Joko dengan China mencuat sejak kunjungannya ke China menghadiri Konferensi Apec awal Januari 2015.Disusul kunjungan partai politik PDIP ke jajaran Partai Komunis China. Kini pun berbagai proyek Cina di Indonesia Timur  dikembangkan dan dirancang penguasa Peng-Peng (Penguasa-Pengusaha). Berbagai pabrik semen digalang berdiri di Banten dan Papua dengan mengerahkan tenaga kerja /buruh asal China. Kerjasama dengan perusahaan minyak raksasa China Sonangol dihebohkan di awal pemerintahan Presiden Joko, hingga kini tidak terdengar kelanjutannya. Yang terus terdengar bus-bus Trans Jakarta yang hampir semuanya didatangkan dari China terus dikabarkan selalu terbakar saat dioperasikan, juga menyusul geger dan kontroversial berkaitan kereta api cepat yang akan dibangun China di Indonesia, tiba-tiba muncul berita jalan kereta cepat di China sendiri tiba-tiba ambrol.
 
Menyusul isu posisi Amerika di Indonesia kini benar-benar telah digantikan oleh China dan hal ini menyebabkan Amerika juga Jepang  ‘cemburu’ berat. Nasib Indonesia tampaknya hanya selalu dijadikan sapi perah bahkan penjarahan tak berkesudahan. Exploitation de Nation par Nation tetap berlangsung di negeri ini: Innalillahiwainnailaihiraajiun ! [ASA]
0 Komentar