Sesungguhnya Dunia Itu Terlaknat !!

Selasa, 01 Maret 2016 - 21:11 WIB | Dilihat : 3429
Sesungguhnya Dunia Itu Terlaknat !! Istighosah jelang ujian nasional. (foto: tribunnews.com)

Sejak ujian nasional (UN) dilakukan dengan system CBT, ujian melalui komputer. Semenjak peraturan SNMPTN diganti menjadi setiap sekolah yang berakreditasi A hanya boleh mengikut sertakan 75% saja dan lebih  sedikit jika berakreditasi B ataupun C. Ditambah berita terbaru lagi, urutan yang boleh ikut SNMPTN akan ditentukan oleh Dinas, panitia program. Semenjak itulah seluruh murid bertambah galau dan merasa give up, merasa dirinya tak mampu.

Puluhan siswa dan siswi mati gantung diri karena tak lulus UN. Puluhan jiwa menjadi gila karena tak lulus SNMPTN. Para suami malah menghabiskan uang untuk berfoya-foya sedangkan anak dan istri terbengkalai. Sampai pejabat berani melegalkan segala cara demi memenuhi kebutuhan pribadi. Apa yang kalian banggakan ? 
 
Bukan UN saja yang berat, tapi dunia luar bahkan lebih berat dari proyek pemerintah itu. Tak perlu mempersiapkan UN yang ujung-ujungnya pasti akan lulus, tapi fikirkan apa yang bisa memperbaiki akidah kita. Persiapan akidah yang matang dapat membentengi diri dari dunia sekarang.
 
Sesungguhnya dunia itu terlaknat !. Sekarang didalamnya hanyalah permainan dan hura-hura. Pemerintah dengan enaknya menjadikan pelajar sebagai umpan, sebagai kelinci percobaan demi proyek proyek besar. Menguasai segala penjuru aspek pemerintahan, menciptakan pemikiran kapitalisme. Berujung hanya uang, uang dan uang. Kemudian memenuhi ruang-ruang hotel tanpa memikirkan perkembangan rakyat.
 
Mirisnya lagi pelajar terpaksa mau diatur oleh sang petinggi, mengangguk lemah tak berdaya. Mereka bisa apa?. Semua sudah dikuasai para petinggi, menutup celah sampai yang terkecil. Kurikulum sekarang adalah kurikulum penjajah. Mengikuti segala yang dibilang oleh mereka sampai-sampai jauh dari agama. Tak mendengar hukum-hukum Allah, bahkan melupakannya.
 
Beban moral tertanam lamat-lamat dalam jiwa pelajar. Tidak ada lagi penciptaan jiwa seperti para Mujahid dahulu.
 
Hebat, para petinggi telah merasa hebat, tapi apa yang kalian banggakan?. Sungguh kita begitu kecil di hadapan-Nya.Jika dihembuskan setitik udara pada kita, hancurlah kaum ini. Kapal yang besar saja bisa terbang bebas ketika air tsunami menghantam. Bagaimana kita?.
 
Berlomba-lomba masuk kampus terfavorit agar terlihat keren dan bergengsi. Melihat betapa kerennya fasilitas yang tersedia, kantin penuh makanan mahal, tersedia wi-fi disegala sisi, parkiran penuh dengan mobil, ataupun ada kafenya. Tak pernah terlintas untuk mencari tahu asal-usul dosennya, mata kuliah yang akan dipelajari, kakak lating, prospek kerja setelah kuliah dan hal-hal yang menjurus kedunia lainnya.
 
Sekarang apa yang kalian cari?. Ketahuilah kita tidak membawa pulang gedungnya, tidak ada yang bisa kita banggakan ketika para tetangga bertanya tentang ilmu namun tak bisa kita jawab. Sungguh sangat memalukan, kuliah itu penentu surga dan neraka. Sekarang tinggal kita yang memilih.
 
Anggap saja penjajah sudah mendiami Indonesia selama 350 tahun, walaupun faktanya tidak. Kesamaan genetik telah tertanam jelas dalam diri, merusak pemikiran dan jiwa. Sedangkan mereka semakin maju, kita tetap berada pada zona nyaman. Plagiator tingkat ulung, bak burung beo yang hanya bisa ikut-ikutan saja. 
 
Secara tidak langsung kita telah digenggam oleh dunia, apa yang terjadi didunia itulah yang menjadi panutan. Kembali melihat kurikulum kita, tidaklah sedikitpun norma-norma pembentukan akhlak baik untuk pelajar. Orang-orang hebat yang baru muncul malah dijadikan rujukan. Alhasil meninggalkan Alquran dan Hadis. 
 
Lebih-lebih setelah ada penelitian barulah beribadah, contohnya baru naik haji setelah penelitian bahwa Mekkah adalah pusat dunia. Barulah baca Alquran setelah penelitian kesehatan bagi yang membaca Alquran di waktu Maghrib. Atau jangan-jangan keislaman kita juga setelah penelitian?.
 
Sekarang pertanyaannya, apa yang telah kita beri untuk Islam?. Pikirkanlah anak-anak muda ! Pikirkan hujjah yang bisa kita banggakan dihari akhirat nanti. Loyalitas tidak akan menyelamatkan kita diakhirat. Kemewahan dunia? malaikat akan tertawa jika kita menyebutkannya. Lalu apa? selama hidup didunia, apa yang telah kita beri untuk Islam?. Seberapa mulia dan seberapa besar yang telah kita berikan?.
 
Pasti ada segelintir orang sadar akan terlaknatnya dunia ini. Namun ada kiranya kita terpecah wahai saudaraku seiman. Di manakah kalian yang ingin menata kembali Islam di Indonesia bahkan didunia ?. Kita harus berjamaah, kita bangun kurikulum Islam yang menjunjung tinggi akhlak baik. 
 
Seperti dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi, "Hendaklah kalian berpegang pada jamaah, karena sesungguhnya setan bersama yang sendirian. Dan setan lebih jauh dari dua orang. Barangsiapa yang menghendaki tengah-tengah surga hendaknya berpegang pada jamaah “
 
Seberapa kuatnya tekat kita, tak akan bisa terjalankan jika kita sendiri. Jadi para pemuda dan pemudi marilah kita berkumpul !. “Allah tidak mengubah suatu kaum, sebelum kaum tersebut mengubah dirinya sendiri “. Tahukah kalian Jepang bisa maju karena terinspirasi dengan kata-kata ini. Kenapa kita tidak??
 
Yakinlah, Allah tidak akan menghinakan kita baik di dunia maupun akhirat. Wallahu a’lam. 
 
Salam ukhuwah. 

C  Syafira A
Siswi MAS YAPENA
 
0 Komentar