Boleh Memukul Anak, Tapi...

Rabu, 17 Februari 2016 - 18:45 WIB | Dilihat : 2865
Boleh Memukul Anak, Tapi... Ilustrasi: Memukul Anak

SI Online - Akhir-akhir ini sering kita saksikan berita kekerasan terhadap anak di bawah umur yang tidak jarang mengakibatkan anak mengalami depresi hingga mengakibatkan kematian. Mengapa dikatakan di bawah umur? Ini berkaitan dengan hadits Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam

"Perintahkanlah anak-anak kalian mengerjakan salat bila telah menginjak usia tujuh tahun dan pukullah mereka saat berusia sepuluh tahun karena meninggalkannya ... " (HR. Abu Dawud dan Ahmad)
 
Dari hadits di atas Rasulullah membolehkan memukul anak jika telah berusia sepuluh tahun, akan tetapi banyak kasus kekerasan yang terjadi justru pada anak berusia di bawah sepuluh tahun. 
 
Dibolehkannya menghukum anak dalam pendidikan Islam bukan untuk menyakiti, membalas atau hanya sekedar kepuasan hati, melainkan untuk memberikan bimbingan dan perbaikan. Karena itu, watak dan kondisi anak juga perlu diperhatikan sebelum menjatuhkan hukuman. 
 
Disamping itu, memukul anak diperbolehkan hanya jika anak tidak mengerjakan salat di usia yang telah menginjak 10 tahun. 
Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam bersabda,
 
"Jangan pukul dia, karena aku melarang memukul orang yang salat dan melihatnya mengerjakan salat sejak kami terima" (Shahih Adabil Mufrad, Al Albani 121)
 
Lalu apa syarat diperbolehkannya memberi hukuman kepada anak berupa pukulan ?
 
1. Pukulan tidak boleh dilakukan sebelum anak menginjak usia sepuluh tahun. 
 
Hal ini berkenaan dengan masalah meninggalkan salat, karena salat adalah rukun Islam paling besar sesudah membaca dua kalimat syahadat. 
 
Jadi, tidak diragukan lagi bahwa pelanggaran yang dilakukan bukan berkenaan dengan masalah meninggalkan salat, misalnya masalah menyangkut kehidupan, tingkah laku dan pendidikan, sang anak tidak boleh dipukul karena melanggarnya bila usianya belum mencapai sepuluh tahun.
 
2. Berupaya meminimalkan hukuman pukulan. 
 
Bila anak terlalu sering dipukul itu akan mengurangi keampuhan dan efektivitas hukuman pukulan, bahkan akan membuat anak terbiasa dengannya , kemudian akan membuatnya bertambah bodoh.
 
3. Hukuman pukulan hanya boleh mengenai kulit saja, tidak boleh melampauinya sampai menembus daging. 
 
Setiap pukulan yang melukai bagian daging atau merobek kulit, bertentangan dengan hukum Alquran
 
4. Sarana yang digunakan tidak boleh berupa cambuk yang keras atau yang ada pintalnya
 
5.Jangan emosi dan jangan memukul bagian sensitif. 
 
Memukul anak dalam kondisi emosi selain tidak bermanfaat, juga akan menimbulkan rasa antipati dan kebencian dalam diri anak. Selain itu, pukulan juga tidak boleh mengarah ke bagian yang sensitif seperti kepala, leher dan kemaluan. Karena jika pukulan diarahkan ke bagian tersebut akan menimbulkan cacat permanen pada diri anak, bahkan akan menghantarkan pada kematian.
 
Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam bersabda,
 
"Apabila seseorang di antara kalian memukul, maka hindarilah bagian wajah." (HR.Muslim, Abu Dawud dan Ahmad)
 
Dari penjelasan di atas, pukulan memang boleh dilakukan dengan syarat-syarat tersebut, namun bersabar serta menahan diri adalah lebih baik.
 
"Aisyah berkata : Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam tidak pernah memukul dengan tangannya, baik terhadap istri maupun pelayannya, kecuali berjihad di jalan Allah" (HR.Muslim)
 
Akhlak seperti ini hanya bisa dilakukan oleh mereka yang mempunyai ketabahan dan kesabaran tinggi. Untuk memacu agar kita mampu meredam kemarahan dan emosi terhadap anak, pelayan atau istri, hendaknya kita sebagai Muslim meneladani akhlak Nabi Saw.
 
Rasulullah Saw bersabda, 
 
"Seseorang yang kuat bukanlah orang yang dapat membanting orang lain, tetapi, orang yang kuat ialah yang mampu mengendalikan dirinya saat sedang marah." (HR. Bukhari)
 
Menghukum anak dengan pukulan bukanlah solusi dalam mendidik anak-anak, selain akan menimbulkan rasa sakit pada tubuh, hukuman dengan pukulan juga akan menimbulkan gangguan psikis anak. Dalam hal ini Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah-nya menyebutkan,
 
"Barangsiapa mendidik orang-orang yang menuntut ilmu dengan cara kasar dan paksaan, maka orang yang dididik akan dikuasai oleh serba keterpaksaan. Keterpaksaan akan membuat jiwanya merasa sulit dan sempit, cenderung pada sikap malas, mendorongnya untuk suka berdusta dan melakukan hal yang keji karena takut terhadap perlakuan suka memukul yang ditimpakan atas dirinya secara paksa. Pendidikan cara keras yang diterapkan terhadap dirinya mengajarinya untuk melakukan tipu muslihat dan penipuan hingga lama-kelamaan akan menjadi kebiasaan bagi yang bersangkutan. Akhirnya rusaklah nilai-nilai kemanusiaan yang seharusnya dijunjung tinggi olehnya."
 
Begitu besarnya bahaya hukuman pukulan yang dijatuhkan kepada anak, hingga dapat merusak moral mereka. Oleh karena itu wahai orang tua dan para pendidik, masihkah kita ingin memukul anak-anak kita, sebelum layak bagi kita memukulnya?
 
(Maria Firdaus)
0 Komentar