Mempertahankan Identitas Muslim di Tengah Derasnya Fitnah

Kamis, 04 Februari 2016 - 07:09 WIB | Dilihat : 5984
Mempertahankan Identitas Muslim di Tengah Derasnya Fitnah
Bagi orang yang berakal, hidup di dunia ini tak bisa semaunya. Segala sesuatu ada aturan dan rambu-rambunya termasuk dalam ranah kehidupan beragama. Seseorang tak bisa memilih sembarang agama. Hanyalah Islam satu-satunya agama yang sempurna dan diridhai oleh Allah Subhanahu wata’ala, Rabb alam semesta. Allah Subhanahu wata’ala berfirman:
 
إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ ۗ
 
“Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam.” (Ali Imran: 19)
 
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا ۚ
 
“Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kalian agama kalian, telah Kucukupkan kepada kalian nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu sebagai agama bagi kalian.” (al-Maidah: 3)
 
Manakala seseorang mencari agama selain Islam, maka tidak diterima amalannya di sisi Allah Subhanahu wata’ala, dan di akhirat kelak, termasuk orang-orang yang merugi. Allah Subhanahu wata’ala berfirman:
 
وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ
 
“Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi.” (Ali Imran: 85)
 
Bisa jadi, ada orang non muslim ada yang mendebat hal ini, adakah monopoli dalam kehidupan beragama?! Jawabannya adalah firman Allah Subhanahu wata’ala,
 
فَإِنْ حَاجُّوكَ فَقُلْ أَسْلَمْتُ وَجْهِيَ لِلَّهِ وَمَنِ اتَّبَعَنِ ۗ وَقُل لِّلَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ وَالْأُمِّيِّينَ أَأَسْلَمْتُمْ ۚ فَإِنْ أَسْلَمُوا فَقَدِ اهْتَدَوا ۖ وَّإِن تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا عَلَيْكَ الْبَلَاغُ ۗ وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِالْعِبَادِ
 
“Kemudian jika mereka mendebat kamu (tentang kebenaran Islam), maka katakanlah, ‘Aku menyerahkan diriku kepada Allah dan (demikian pula) orangorang yang mengikutiku’. Dan katakanlah kepada orang-orang yang telah diberi al-Kitab (Yahudi dan Nasrani) dan kepada orang-orang yang ummi (orang musyrik Arab yang tidak tahu tulis baca), ‘Apakah kamu (mau) masuk Islam?’ Jika mereka masuk Islam, sesungguhnya mereka telah mendapat petunjuk, dan jika mereka berpaling maka kewajiban kamu hanyalah menyampaikan (ayat-ayat Allah). Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.” (Ali Imran: 20)
 
Tak mengherankan apabila Allah Subhanahu wata’ala berwasiat kepada para hamba-Nya agar istiqamah di atas agama Islam sampai titik darah penghabisan. 
 
Hal ini sebagaimana dalam firman-Nya,
 
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ
 
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa dan janganlah sekali-kali meninggal dunia kecuali dalam keadaan memeluk agama Islam.” (Ali Imran: 102)
 
Mahasuci Allah yang telah memilihkan agama Islam sebagai agama yang terbaik bagi para hamba-Nya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,
 
وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَخْتَارُ ۗ مَا كَانَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ ۚ
 
“Dan Rabb-mu menciptakan segala apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka.” (al-Qashash: 68)
 
Dengan demikian, identitas muslim adalah sebuah kehormatan. Sungguh bahagia orang yang mendapatkan hidayah Islam dalam hidupnya. Kenikmatan sepanjang masa yang tidak dapat dirasakan oleh semua orang. Sungguh berbeda kondisi orang yang mendapatkan hidayah Islam dengan yang tidak mendapatkannya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,
 
أَفَمَن شَرَحَ اللَّهُ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ فَهُوَ عَلَىٰ نُورٍ مِّن رَّبِّهِ ۚ فَوَيْلٌ لِّلْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُم مِّن ذِكْرِ اللَّهِ ۚ أُولَٰئِكَ فِي ضَلَالٍ مُّبِينٍ
 
“Apakah orang-orang yang Allah lapangkan dadanya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Rabbnya (sama dengan orang yang membatu hatinya)? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah, mereka itu dalam kesesatan yang nyata.” (az-Zumar: 22).
 
Wallahu a'lam bishawab
 
Abu Miqdam
Komunitas Akhlaq Mulia
0 Komentar