Mengapa Islam Terus Menerus Kalah?

Senin, 01 Februari 2016 - 10:13 WIB | Dilihat : 6426
Mengapa Islam Terus Menerus Kalah? Ilustrasi

Pertanyaan judul di atas bisa dilanjutkan lagi. Mengapa Allah Swt, saat ini tidak memenangkan Islam dan umat Islam ? Pertanyaan seperti ini seharusnya bisa dijadikan bahan introspeksi, bahkan otokritik bagi umat Islam. 

Argumentasi dan dalih-dalih segudang bisa saja diajukan, misalnya umat Islam saat ini tidak menguasai dunia ekonomi dan perdagangan di Indonesia. Ekonomi di Indonesia saat ini justru dikuasai golongan minoritas non-Muslim. Data yang valid bisa dikemukakan bahwa kekayaan negara lebih 50% dikuasai/dimiliki oleh 1% penduduk super-kaya yang non-Muslim. Tambahkan lagi, uang yang saat ini berada di perbankan dalam bentuk deposito, 80%-nya dimiliki oleh 0,08% golongan super-kaya yang niscayahampir seluruhnya terdiri non-Muslim dan bukan pribumi. Kesenjangan sangat ‘jomplang’. Namun jika argumentasi klasik itu kembali ditanyakan, mengapa umat Islam yang mayoritas di Indonesia ini membiarkan ekonomi dan kekayaan negara dikuasai non-Muslim?
 
Jika merujuk pada sejarah bangkitnya Islam sejak awal dipimpin langsung oleh Rasulullah Muhammad Saw, ‘modal-perjuangan’ yang dimiliki Rasulullah Saw justru dimulai dari yang kecil, minoritas namun bisa mengalahkan rival dan lawan-lawannya. Pada momentum Perang Badar, pasukan yang dipimpin Rasulullah jumlahnya hanya sepertiga lawannya kaum kafir Qurays. Toh pasukan Islam berhasil menang dengan gilang-gemilang.
 
Kekalahan bahkan kehinaan umat Islam hari ini, sesungguhnya sudah pernah disinyalir dan diperingatkan oleh Rasulullah Saw, ”Kelak engkau akan menjadi kelompok yang terhina dan dikalahkah!”, dan Sahabat pun bertanya, “Pada saat itu, ya Rasulullah, apakah jumlah umat Islam sangat kecil sehingga dikalahkan dan diperhinakan? Lalu Rasulullah Saw pun menjawab,” Jumlah kalian saat itu bukan kecil malah sebaliknya, sangat besar (mayoritas), namun posisi umat Islam bagaikan buih di samudera yang memenuhi permukaannya, dan terus diombang-ambingkan oleh riak dan gelombang,” ujar Nabi Muhammad Saw. Peringatan ini telah menjadi kenyataan.
 
Dalam peta yang lebih lebar, umat Islam di negeri ini dikalahkan dalam dunia politik. Di era reformasi yang mulai digelar Pemilu terbuka pada 1999, partai-partai Islam dikalahkan partai-partai nasional-sekuler, setelah Pemilu digelar berurutan pada 2004, 2009, dan 2014 posisi partai Islam semakin ‘sayup-sayup’ eksistensinya. Bahkan Pemilu yang terakhir pada 2014 diprediksi partai Islam seperti PKS—karena terakhir tokohnya ditangkap  kasus korupsi—akan tidak mampu lolos dari persyaratan Parliement Thresholds. 
 
Prediksi rekayasa ini tidak terbukti. PKS, sebaliknya berhasil mempertahankan suaranya bahkan lebih besar daripada Pemilu 2009 sebelumnya, walau jumlah kursi tetap.Partai berbasis dukungan umat Islam seperti PAN dan PKB, dianggap bukan murni sebagai partai Islam karena asasnya bukan asas Islam.O pini yang hendak dikembanngkan agar umat Islam tidak lagi berpikir untuk berjuang melalui partai Islam, karena kepentingan Islam sudah diperjuangkan oleh partai partai nasional-sekuler. Isu seperti ini niscaya menyesatkan dan akan menyeret umat Islam sebagai rakyat terbesar semakin ‘keblinger’ memilih partai apa saja sama saja. Diteruskan dengan isu yang lebih menyesatkan, lebih baik memilih pemimpin non-Muslim tapi bebas dari tindak korupsi.
 
PDIP dan Mudahnya Lupa Ingatan
 
Relevan dengan topik yang kini dibahas, yakni mengapa umat Islam kalah ?, secara bersamaan PDIP (Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan) justru dengan bangga memamerkan kemenangannya pada event Rakernas (Rapat Kerja Nasional) dan HUT PDIP ke-43, pada 10 Januari 2016 di Jakarta. Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputeri, dengan rasa percaya diri yang berlebih, merinci situasi mutakhir partainya saat ini yang menang dalam Pemilu DPR, DPRD, Pilpres, dan yang terakhir menang dalam Pilkada yang digelar serentak seluruh Indonesia. 
 
Ungkapan kemenangan dan kekuasaan yang dimiliki ini tergambar dalam suasana Rakernas yang juga dihadiri Presiden Joko dan Wakil Presiden Jusuf Kalla, serta belasan menteri, yang mengikuti pidato Megawati dengan sangat takzim. Lebiih dari itu, Megawati di depan Presiden Joko dan Wakil presiden JK beserta jajaran menterinya, mengkritik lantang dan terang-terangan kebijakan presiden dan wakilnya yang justru ia usung pada Pilpres 2014. Mega menyebut pemerintahan Presiden Joko kehilangan haluan lalu ia mengusulkan memasukkan kembali GBHN (Garis Besar Haluan Negara) yang notabene kebijakan di era  Presiden Soeharto. Mega menyebut kebijakan pemerintah Presiden Joko maju-mundur seperti tarian Poco-Poco. 
 
Kritik yang lebih keras dan menohok pada pidato Mega, saat ia menyebut tata kelola BUMN (Badan Usaha Milik Negara) yang dinilainya telah diperlakukan seperti korpoasi swasta. Semua orang yang mendengar juga rakyat yang mengikuti siaran langsung TV, mengerti arah kritik Megawati ditujukan kepada menteri BUMN, Rini Soemarno yang sebelumnya oleh Pansus Pelindo DPR yang dipimpin Rieke Dyah Pitaloka dari Fraksi PDIP telahmerekomendasikan kepada pemerintah agar memecat menteri BUMN itu. Bukan main sangat berkuasanya PDIP dengan kemenangannya yang telak di segala lini.
 
Padahal kemenangan PDIP seperti itu justru terjadi atas dukungan umat Islam. Tanpa dukungan—pemilih-- umat Islam niscaya kemenangan yang menyeluruh itu tidak mungkin terjadi. Pada Pemilu 1955, umat Islam melalui Partai Masyumi masih  mengimbangi kekuatan PNI. Walau PNI memenangi Pemilu I 1955, tapi kursi di Parlemen/Konstituante saat itu jumlah yang diperoleh PNI dan Masyumi sama persis. Kelebihan kemenangan PNI tidak bisa mencapai satu kursi. 
 
Mengapa umat Islam mendukung PDIP saat ini? Padahal PDIP hampir tidak pernah membela aspirasi Islam bahkan sebaliknya selalu menentang aspirasi Islam. Mengapa umat Islam begitu mudahnya melupakan peran PDIP di setiap penyusunan UU di DPR puluhan tahun terakhir ini selalu saja bertabrakan dengan aspirasi Islam.  Ingat pada 1974-an PDI saat itu berlawanan dengan aspirasi Islam, masalah UU Perkawinan, juga pada 1978 PDI bersama Fraksi Gokar ingin menjadikan Aliran Kepercayaan (kebatinan) sebagai agama di Indonesia. Perdebatan keras antara PDI dengan Fraksi Islam PPP, soal eksistensi Departemen Agama yang cenderung hendak dihapuskan. Lagi soal pelajaran agama di sekolah agar diberikan sesuai dengan agama peserta didik ditentang PDI, karena mereka setuju anak-anak Islam yang sekolah di lembaga sekolah Kristen tidak harus diwajibkan diberi pelajaran agama Islam. Missi Kristenisasi didukung oleh PDI.Di era reformasi PDIP menolak RUU Pornografi dan Pornoaksi yang sangat didukung umat Islam. Apakah semua ini dilupakan umat Islam yang kini mendukung PDIP ?Ya memang semua itu begitu mudah dilupakan.
 
Kini para pendukung PDIP terdiri umat Islam begitu ‘gandrung’ kepada PDIP. Jika di awal reformasi mereka simpati kepada PDIP yang telah ‘dianiaya’ Orde Baru, Soeharto, maka mereka ramai-ramai pada Pemilu 1999 memilih PDIP sehingga PDIP menang pada Pemilu pertama reformasi itu di atas 32% suara. Saat itu muncullah politisi-poiltisi PDIP yang semula terdiri para makelar di terminal bus kini berubah drastis masuk ke gedung DPRD sebagai anggota lengkap dengan busana jas dan dasi. 
 
Beberapa tahun kemudian muncul penangkapan besar-besaran anggota DPRD dari PDIP sebagai pelaku korupsi ‘berjamaah’. Runtuhlah kehormatan PDIP yang belum 5 tahun menjadi penguasa baru pemenang Pemilu 1999. Umat Islam pendukung PDIP pun ramai-ramai meninggalkan PDIP pada Pemilu 2004, sehingga suara PDIP pun merosot drastis dari semula 32% tinggal hamp[ir separohnya sekitar 18% saja. Partai Demokrat yang didirikan Susilo Bambang Yudhoyono—yang notabene anak buah Mega—mengganti PDIP, juga SBY pun dipilih menjadi presiden secara langsung, dan pada Pemilu berikutnya 2009, SBY pun terpilih kembali. PDIP pun terpuruk dalam kekalahan, namun sejalan dengan pendukungnya  yang mulai lupa akan sepak-terjang PDIP—swebagai pelaku korupsi berjamaah-- dan kini gencar berkampanye sebagai oposisi, pada Pemilu 2014 pun melejit lagi mengusung Capres Joko Widodo dan Jusuf Kalla sebagai Wapres, mereka pun tampil kembali sebagai pemenang, dan dalam Pilpres mengalahkan Prabowo Subianto.
 
Kini setelah pelantikan Presiden Joko sejak Oktober 2014, selang pemerintahan Presiden Joko berumur lebih satu tahun, Megawati dengan PDIP nya acapkali justru bertabrakan dengan pemerintahan presiden Joko. Apa yang sedang terjadi ?Megawati pada Rakernas PDIP mulai mengutip kembali Ajaran Bung Karno seperti Marhaenisme. 
 
Ketokohan Soekarno memang menjadi senjata ampuh untuk membujuk pendukung PDIP agar tetap setia untuk terus mendukungnya. Barangkali Megawati pun mulai khawatir perjalanan pemerintahan Presiden Joko yang mulai goyah,sewaktu-waktu bisa roboh. Ia ingin lepas tangan dan ia pun mengkritik Presiden Joko sekeras-kerasnya. Sementara untuk membujuk pendukungnya ia ingatkan agar setia kepada Ajaran Bung Karno. 
 
Bagi pendukung PDIP ini, sedangkan kepada sepakterjang PDIP pasca Pemilu 1999 sebagai pelaku korupsi berjamaah saja, sudah banyak dilupakan, apalagi untuk mengetahui siapa sebenarnya Soekarno. Soekarno yang sesungguhnya—terlepas jasa besarnya sebagai proklamator—adalah tokoh yang penuh kelemahan. Soekarno tidak pernah disinggung hakikatnya pelanggar HAM, tatkala ia menjebloskan lawan-lawan politiknya ke dalam penjara tanpa diadili sampai lebih lima tahun. 
 
Tokoh-tokoh Masyumi dan PSI, seperti Soebadio Sastrosatomo, Syahrir, Anak Agung Gede Agung, Mochtar Loebis (PSI) dan Natsir, Sjafruddin Prawiranegara, Prawoto Mangnkusasmito, Moh.Roem, Yunan Nasution, Isa Anshari dan lain-lain (Masyumi) dipenjara mulai 1960 dan baru dibebaskan 1966 setelah Soekarno jatuh dari kekuasaannya dan PKI dibubarkan. 
 
Soekarno pun pernah menaikkan bendera putih -- menyerah kepada Belanda--di Istana Kepresidenan di Jogjakarta, dan eksistensi Indonesia bisa bertahan karena Sjafruddin Prawiranegara memimpin PDRI (Pemerintahan Darurat Republik Indonesia) di Payakumbuh Sum-Bar dan Jendral Soedirman keluar dari ibukota Jogjakarta memimpin Perang Gerilya.
 
Soekarno tokoh yang tidak konsisten jika sudah menyangkut urusan kepentingannya dengan kaum wanita. Soekarno berpollemik  dengan M. Natsir soal poligami yang dihalalkan dalam Islam,  seolah-olah ia membela kepentingan kaum wanita dan menolak melakukan poligami. Tapi apa yang terjadi? Soekarno yang menolak dan menentang poligami tapi dia adalah pelaku poligami yang amat getol, sebaliknya Natsir yang membela ajaran Islam berkaitan dengan Poligami, Natsir sendiri tidak pernah beristri dua. Perempuan yang pernah dinikahi Soekarno tercatat hampir sepuluh orang. Dalam kasus ini Soekarno adalah tokoh yang sangat tidak konsisten. 
 
Menokohkan Soekarno sebagai tokoh yang berlebihan kiranya justru bagai akan merendahkan martabat Soekarno jika orang tahu riwayat sesungguhnya dari padanya. Dengan meletakkan Soekarno tanpa sikap kultus individu, hakikatnya justru akan menempatkan Soekarno sebagai tokoh—tak terelakkan—yang berjasa besar kepada republik ini. Jadi jika umat Islam tidak ingin terus-menerus menderita kekalahan, jangan mudah lupa dan pelajarilah fakta dari  sebuah peristiwa dan sejarah dengan seksama, kata para cerdik-pandai. Wallahu a’lam bissawab! [ASA]
 
0 Komentar