Gafatar, Baju Baru Pengikut Nabi Palsu Moshaddeq

Sabtu, 30 Januari 2016 - 22:16 WIB | Dilihat : 4879
Gafatar, Baju Baru Pengikut Nabi Palsu Moshaddeq Ilustrasi : Nabi palsu Ahmad Moshaddeq

 

Gafatar diyakini sebagai baju baru aliran sesat Al-Qiyadah Al-Islamiyah pimpinan nabi palsu Ahmad Moshaddeq.
 
Bermula dari menghilangnya seorang dokter muda, Rica Tri Handayani (28) bersama anak balitanya Zafran Alif Wicaksono, sejak akhir Desember 2015 lalu, nama organisasi Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) kemudian mencuat. Pasalnya, organisasi itulah yang berada di balik hilangnya dr Rica dan balitanya. 
 
Belakangan, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Kalimantan Barat secara resmi mengeluarkan fatwa sesat untuk Gafatar. Kepada para anggota Gafatar, MUI menyerukan supaya mereka kembali kepada ajaran Islam (ar-ruju’ ila al-haqq). Pernyataan MUI itu tertuang dalam fatwa dengan nomor 01/MUI-Kalimantan/I/2016, tertanggal 25 Januari 2016. 
 
"Ajaran Gafatar telah menodai dan mencemari agama Islam, karena ajarannya menyesatkan dengan mengatasnamakan Islam," ungkap Ketua Komisi Fatwa MUI Kalbar, Wajidi Sayadi, Selasa (26/01/2016).
 
Menanggapi fatwa sesat MUI ini, Ketua umum Gafatar periode 2011-2015 Mahful Tumanurung menyebut bila MUI salah alamat. Sebab, kata dia, ajaran-ajaran Gafatar bukanlah bagian dari agama Islam sehingga tidak bisa dikatakan menyimpang. 
 
“Kami menyatakan sikap telah keluar dari keyakinan atau paham keagamaan Islam mainstream dan tetap berpegang teguh pada paham Millah Abraham sebagai jalan kebenaran tuhan, seperti yang telah diikuti dan diajarkan oleh para nabi dan rasul Allah,” kata Mahful dalam jumpa pers di gedung LBH Jakarta, Jl Diponegoro, Jakarta Pusat, Selasa (26/01/2016). 
 
Menurut dia, Gafatar diilhami dari ajaran-ajaran para nabi sebagaimana yang diyakini agama Islam. Namun, Gafatar tidak hanya mengakui kesucian Alquran, tapi juga Taurat dan Injil. 
 
Mahful melanjutkan, Gafatar menjadikan pendiri gerakan Al-Qiyadah Al-Islamiyah, Ahmad Moshaddeq, sebagai sumber inspirasi. "Apa salahnya kami pilih beliau, kami tidak percaya sama alim ulama," kata lelaki yang mengaku alumni UIN Syarih Hidayatullah, Jakarta itu. 
 
Ajaran Millah Abraham juga memercayai bila Moshaddeq adalah Al-Masih Al-Maw'ud, mesias yang dijanjikan untuk umat penganut ajaran Ibrahim/Abraham meliputi Islam (bani Ismail) dan Kristen (Bani Ishaq), menggantikan Nabi Muhammad Saw.
 
Menurut Direktur Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam (LPPI) Jakarta HM Amin Djamaluddin, Gafatar adalah nama (baju) baru dari Al-Qiyadah Al-Islamiyyah dan Komar (Komunitas Millah Abraham), setelah “nabi” Ahmad Moshaddeq ditangkap dan divonis oleh Pengadilan Negeri Jakarta Selatan dengan hukuman empat tahun penjara pada 23 April 2008. Moshaddeq sebelumnya menyerahkan diri ke Polda Metro Jaya pada 29 Oktober 2007. 
 
Berdasarkan dokumen-dokumen yang dimilikinya, Amin menyebutkan pengubahan nama dari Al-Qiyadah menjadi Komunitas Millah Abraham dilakukan dalam rapat pengurus lengkap, pada Sabtu, 12 September 2009 di Jalan Raya Puncak KM 79, Cisarua, Bogor, Jawa Barat. 
 
“Dalam pengarahan ketuanya pada saat itu dikatakan, ‘12 September 2009 ini adalah sebuah saah baru, sejarah baru dan catatlah peristiwa ini baik-baik,” tulis Amin dalam artikelnya artikelnya berjudul “Proses Lahirnya Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar)” yang dipublikasikan di blog LPPI.     
        
Dengan mereka berganti nama (baju) dari Al-Qiyadah Al-Islamiyyah menjadi Millah Abraham, akhirnya mereka bisa leluasa dan bebas mengembangkan organisasinya di seluruh Indonesia. Mereka hanya merubah namanya saja, akan tetapi ajarannnya masih tetap sesat, karena mengikuti ajaran ”nabi” Moshaddeq.
 
Perjalanan Millah Abraham ternyata tidak mulus. Pada Kamis 26 April 2012, Gubernur Aceh mengeluarkan SK larangan untuk Millah Abraham di seluruh wilayah Aceh dengan SK Gubernur No. 9 tahun 2011. Hal ini membuat mereka harus berganti nama lagi dari Millah Abraham menjadi Gafatar (Gerakan Fajar Nusantara). Dengan nama baru ini, mereka melakukan kegiatan sosial di mana-mana di seluruh Indonesia.
 
Mengenai interaksinya dengan pengikut Gafatar, Amin bercerita, pada Kamis, 7 Juni 2012, sebuah harian yang terbit di Depok, Radar Depok, memuat wawancara jarak jauh dengan dirinya. Amin mengaku saat itu sedang pulang kampung ke Udik Bima, NTB. 
 
“Saya tidak bisa mendengar suara wartawan tersebut, karena suara handphone-nya putus-putus. Dia bertanya tentang Gafatar yang kegiatannya luar biasa di Depok. Saya jawab kalau Gafatar itu pada intinya masih tetap mengikuti ajaran yang bersumber dari Ahmad Moshaddeq,” ceritanya. 
 
Kepada sang wartawan, Amin juga menyebutkan bila Moshaddeq berasal dari Pesantren Al-Zaytun NII KW-9, Al-Qiyadah Al-Islamiyyah dan juga Millah Abraham. Lalu hasil wawancara tersebut dimuat di koran itu pada Jumat, 8 Juni 2012.
            
Setelah menurunkan berita hasil wawancara dengan Amin itu, sejumlah pimpinan Gafatar mendatangi kantor redaksi Radar Depok dan mereka memrotes keras berita tersebut. Radar Depok akhirnya kembali menghubungi dirinya. Sayangnya, Amin masih di kampung, belum pulang ke Jakarta.
            
“Setelah saya tiba di Jakarta, pada Senin 11 Juni 2012, datanglah beberapa orang pengurus Gafatar ke kantor LPPI di Jalan Tambak No. 20B Jakarta Pusat. Ketua DPD Gafatar Jawa Barat, Ir. La Ode Arsam Tira protes dan marah-marah kepada saya. Saya hanya mendengarkan dan diam saja saat Ir. Laode marah-marah,” ingatnya.
            
Amin melanjutkan, setelah kemarahan. Laode mereda, ia lalu mengambil buku-buku asli tulisan Moshaddeq dan buku tulisan Ketua Umum Gafatar, Mahful Muis Hawari berjudul “Teologi Abraham Membangun Kesatuan Iman, Yahudi, Kristen dan Islam.” “Saya menilai buku ini merupakan missi Yahudi untuk menghancurkan Islam dari dalam,” tandasnya.
 
Amin juga mengaku menunjukkan buku-buku karya Moshaddeq seperti “Eksistensi dan Konsekuensi Sebuah Kesaksian”, “Al Masih Al Maw’ud & Ruhul Qudus dalam Perspektif Taurat, Injil dan Al-Qur`an”, dan juga “Ruhul Qudus yang Turun kepada Al Masih Al Maw’ud.” 
 
Menurut Amin, dalam buku itu, tepatnya pada halaman 191, 192 disebutkan hampir seluruh Pengurus Gafatar telah berbaiat kepada ”nabi” Moshaddeq.
 
Setelah mereka melihat buku-buku asli tersebut, lanjut Amin, terutama buku tulisan ketua umumnya, mereka kaget bukan kepalang. “Saya katakan pada La Ode, buku tulisan Ketua Umum Gafatar ini berisi misi Yahudi, yaitu untuk menyesatkan umat Islam, sama dengan misinya Millah Abraham,”tegasnya
 
Kepada para pengurus Gafatar Jawa Barat itu, Amin juga mengaku memperlihatkan susunan pengurus Gafatar lengkap dengan foto-foto mereka dengan latar foto berwarna oranye serta nomor urut baiat mereka kepada Moshaddeq.
 
“La Ode yang tadinya marah-marah pada saya, akhirnya dia berkata, ”Pak Amin ini orang tua kita, tempat kita bertanya berbagai masalah agama,” sambil memegang bahu saya. Setelah itu mereka pulang,” kenangnya.  
 
[shodiq ramadhan/LPPI-Jakarta]

 
0 Komentar