Ustaz Abu Bakar Baasyir, Pelatihan Militer di Aceh, dan Revisi UU Terorisme

Sabtu, 30 Januari 2016 - 15:50 WIB | Dilihat : 2867
Ustaz Abu Bakar Baasyir,  Pelatihan  Militer di Aceh, dan Revisi UU Terorisme Sekjen FUI KH M Al Khaththath (kedua dari kanan), Ustaz Abu Bakar Baasyir, dan Habib Rizieq Syihab bersama tim TPM di PN Cilacap, Selasa (26/01)


KH Muhammad Al Khaththath
Sekjen Forum Umat Islam (FUI)
 
 
Selasa pagi itu (26/01) jalan akses jalan menuju Kantor Pengadilan Negeri Cilacap diblokir dengan kawat berduri layaknya akan terjadi perang saja. Seribu enam ratus personil polisi baik dari Polres Cilacap, Brimob Purwokerto,hingga Densus 88 dari Jakarta lengkap dengan peralatan tempurnya memenuhi ruas jalan menuju pengadilan, di halaman pengadilan, hingga di dalam gedung pengadilan yang akan memeriksa PK (Peninjauan Kembali) perkara Ustaz Abu Baka Ba’asyir yang kini sedang menjalani vonis 15 tahun Pengadilan Negeri Jakarta Selatan atas dakwaan terlibat dalam kasus Terorisme yakni Pelatihan Militer di Janto Aceh pada bulan Februari 2010.  Ratusan jamaah umat Islam memenuhi tenda yang disediakan di halaman depan sebelah kiri PN Cilacap  untuk menyaksikan jalannya sidang melalui layar TV. Jamaah umat Islam yang bersimpati kepada Ustaz Abu juga memenuhi bagian luar pagar PN Cilacap.  Sedangkan di dalam ruang sidang dipenuhi oleh perwakilan jamaah yang ada di luar.   
 
Sebagai Sekjen FUI yang punya hubungan dekat dengan banyak tokoh alhamdulillah saya  bisa masuk ruang sidang dan mengikuti jalannnya sidang hingga selesai menjelang pukul 16.30 wib. Di saat-saat skors sidang saya beramah-tamah dengan Ustaz Abu dan para saksi yakni dari LP Nusa Kambangan dan saksi dari Jakarta yakni Imam Besar FPI Habib Rizieq Syihab dan Presidium MERC Dr Joserizal Jurnalis, Sp.OT. Kepada Ustaz Abu saya menyampaikan ucapan simpati dan harapan agar bersabar menghadapi masalah ini: Shabran Jamiilan!  Ustaz Abu tersenyum mengulangi kata-kata tersebut. Dan beliau memberikan kata-kata taushiyyah dalam menghadapi jalan hidup seperti ini.  
 
Saat itu ingatan saya melayang pada tahun 2002 ketika Ustaz Abu mulai dikaitkan dengan kasus terorisme. Yakni ketika saya sebagai pimpinan HTI diundang dalam pertemuan khusus para tokoh di Mabes Polri. Saya satu meja dengan Adhyaksa Dault yang waktu itu menjadi Ketua KNPI dan Hidayat Nurwahid sebagai Presiden Partai Keadilan. Pertemuan khusus di Aula Utama Mabes Polri itu hanya diikuti oleh para Jenderal Polisi, sejumlah Menteri Kabinet Megawati, dan seorang Pimpinan DPR, serta para tokoh umat Islam dan OKP yang diundang. Pertemuan yang dipimpinan oleh Menkopolkam waktu itu SBY khusus hanya memberikan briefing dengan presentasi tentang masalah terorisme di Indonesia. Disebut-sebut tiga nama yang menjadi tokoh yang diposisikan sebagai teroris pada waktu itu adalah nama Ustaz Abu Bakar Ba’asyir, Hambali, dan Imam Samudera.   
 
Sebelumnya dimedia sering kita baca silang pendapat antara Wapres Hamzah Haz dan SBY tentang keberadaan teroris di Indonesia.  Pertemuan hari Sabtu pagi itu terjadi tepat seminggu sebelum meledaknya Bom Bali I yang meledak hari Sabtu, 12 Oktober 2002. Ledakkan yang luar biasa besar menewaskan ratusan orang dan membuat kerusakan yang besar. Setelah ledakan tersebut SBY bertanya siapa bilang tidak ada teroris di Indonesia? 
 
Maka lanjutannya dapat diduga yakni penangkapan Imam Samudera, Ustaz Abu, dan Hambali. Imam Samudera dihukum mati, Hambali dibawa ke Guantanamo, dan Ustaz Abu ditangkap di Indonesia dan terus-menerus langganan keluar masuk penjara. Sebab kasus terorisme begitu dibuka dengan ledakan Bom Bali 1 hingga hari ini episodenya tak pernah berhenti. Namun dengan kegigihan para penasihat hukum yang tergabung dalam TP ABB/TPM beliau akhirnya dibebaskan murni  dalam sidang PK.  
 
Namun pelatihan militer di Janto Aceh tahun 2010 kembali menjerat beliau.  Dalam sidang PK kemarin terungkap dari pernyataan saksi pimpinan pelatihan militer Abu Yusuf bahwa Ustaz Abu tidak terlibat sama sekali. Penanggung jawab pelatihan tersebut adalah Dul Matin.  Abu Yusuf juga mengatakan bahwa pelatihan militer itu adalah hanyalah sekedar melaksanakan ibadah i’dad berdasarkan QS. Al Anfal ayat 60 dan lokasi pelatihan jauh dari pemukiman penduduk dan tidak menror seorang penduduk pun. Demikian juga kesaksian Joko Prestyo yang menjadi instruktur pelatihan tersebut juga menyatakan bahwa pelatihan militer itu sama sekali tidak ada keterkaitan dengan Ustaz Abu. Abdullah Sonata yang menjadi pemasok senjata dalam pelatihan tersebut juga menyatakan bahwa pelatihan itu tidak terkait dengan Ustaz Abu.  Sonata mendapat order senjata dari Dul Matin. Sonata juga menyatakan bahwa senjata-senjata organik Polri itu diperoleh dari mantan anggota Polri Sufyan Tsauri.  
 
Anehnya justru Ustaz Abu yang dianggap sebagai dalang Pelatihan militer tersebut dan ditangkap. Kesaksian Imam Besar FPI lebih dalam mengorek keterlibatan Sufyan Tsauri yang merekrut 10 personil FPI Aceh dan melatih mereka menembak di Mako Brimob Kelapa Dua. Sehingga menjadi pertanyaan desersi polisi kok masih bisa  melatih di Mako Brimob? Lalu Sufyan Tsauri lah yang mengajak orang-orang yang berlatih di Janto, tapi lalu pulang ke Jakarta.  
 
Sehingga menjadi mengherankan kok yang disasar justru Ustaz Abu, bukan Sufyan Tsauri yang diekplor lebih dalam tentang keterlibatan berbagai pihak dalam kasus pelatihan militer di Aceh.   
 
Satu hal yang cukup menarik dalam pengadilan PK kemarin adalah ungkapan Penasihat Hukum Ustaz Abu yakni Mehendradatta, SH., MH dari TPM bahwa Ustaz Abu divonis dengan Undang-undang Teorisme dalam kasus Pelatihan Militer di Aceh. Namun baru-baru ini Mabes Polri mengajukan Revisi UU Terorisme yang salah satu poinnya adalah memasukkan pasal Pelatihan Militer sebagai Tindak Pidana Terorisme. Artinya, Pelatihan Militer dalam UU Terorisme hari ini yang belum direvisi tidak termasuk pasal pelatihan militer. Kalimat Mahendradatta sangat penting mudah-mudahan bisa menghasilkan pembebasan Ustdaz Abu bila pengadilan tidak diintervensi. Semoga!
0 Komentar