Merindukan Hakim seperti Syuraih

Kamis, 28 Januari 2016 - 22:52 WIB | Dilihat : 2754
Merindukan Hakim seperti Syuraih
Simaklah kisah di bawah ini semoga kita bisa mengambil faedahnya, kelak ketika menjadi seorang hakim di negara yang konon katanya negara konstitusi (hukum), akan tetapi jauh rasanya dari semboyan di atas. Bahkan negara ini terancam sebagai negara yang akan binasa jika seperti itu tatanan hukum tanah air ini. 
 
Sebagaimana yang telah di sabdakan Nabi Muhammad SAW : ” Telah mengkhabarkan kepada kami [Ali bin Sa'id bin Masruq], dia berkata; telah menceritakan kepada kami [Yahya bin Zakariya bin Abu Zaidah] dari [Sufyan bin 'Uyainah] dari [Az Zuhri] dari ['Urwah] dari [Aisyah] bahwa pada zaman Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam ada seorang wanita yang mencuri, kemudian orang-orang berkata; "Kami tidak akan berbicara kepada beliau mengenainya, tidak ada seorangpun yang bias berbicara kepada beliau kecuali orang yang dicintai beliau yaitu Usamah. Kemudian Usamah berbicara kepada beliau. Beliau bersabda: "Wahai Usamah, sesungguhnya Bani Israil binasa karena kejadian seperti ini. Apabila ada orang mulia di antara mereka mencuri maka mereka membiarkannya tapi apabila ada orang rendah di antara mereka mencuri, mereka memotong tangannya. Sesungguhnya apabila dia adalah Fathimah binti Muhammad niscaya saya potong tangannya." {Hadits Imam An Nasa'i Nomor 4813}
 
Setiap pagi Syuraih bin Al-Harits Al-Kindi berangkat ke tempat kerjanya. Wajah dan sorot matanya tenang menyiratkan ke arifan pribadinya. Dari kearifannya itu pula keluar sikap dan pendiriannya yang teguh. Ia adalah seorang hakim yang disukai dan disegani masyarakat. 
 
Syuraih terbiasa menghakimi kalangan kaum muslimin maupun orang-orang bukan muslim. Di pengadilannya, Syuraih tidak membedakan antara pejabat atau rakyat kecil, kaya atau miskin, muslim atau bukan muslim. Jika ia bersalah tetap tidak boleh dibela. Semua orang mendapat perlakuan yang adil dan bijaksana. 
 
Hari itu Syuraih kedatangan Amirul mukminin, Umar bin Khaththab. Rupanya, Khalifah Umar sedang mendapat masalah dengan seorang pedagang desa. Keduanya menghadap Syuraih untuk mendapatkan keputusan atas perkara yang dihadapinya. Dengan wajah tenang dan berwibawa Syuraih memimpin sidang pengadilan. 
 
“Silakan Tuan pedagang, apa yang mau Anda sampaikan?” tanya Syuraih. 
 
“Pak hakim yang mulia, beberapa hari yang lalu Amirul mukminin membeli seekor kuda dari saya,” kata pedagang.  “Tapi kemarin, tiba-tiba ia ingin mengembalikannya lagi dan meminta ganti,” lanjutnya. 
 
Syuraih lalu berpaling pada Khalifah Umar. “Dan sekarang giliran Anda, ya Amirul mukminin,” kata Syuraih. 
 
“Aku ingin mengembalikan kuda itu padanya karena kudanya cacat dan berpenyakit sehingga larinya tidak kencang,” kata Umar bin Khaththab. 
 
“Bagaimana Tuan?” tanya Syuraih lagi. 
 
“Saya tidak akan menerimanya lagi karena saya sudah menjual kuda itu dalam keadaan sehat dan tidak cacat,” sahut pedagang kuda itu. 
 
Syuraih mendengarkan semua keterangan dari kedua pihak dengan seksama. Lalu, Syuraih pun bertanya pada Umar bin Khaththab. 
 
“Apakah ketika Amirul mukminin membeli kuda itu, keadaannya sehat dan tidak cacat?” tanya Syuraih seraya menatap Umar.  “Ya benar!” jawab Umar jujur. 
 
Hakim Syuraih pun memberi keputusan atas perkara itu. 
 
“Nah, kalau begitu, peliharalah apa yang anda beli. Atau bila ingin mengembalikannya kembalikanlah seperti ketika anda menerimanya,” tukas Syuraih dengan mantap. 
 
Hati Amirulmukminin merasa tidak puas. Kekecewaan memenuhi rongga dadanya. Hakim Syuraih berada dipihak pedagang desa itu. “Begitukah keputusanmu, Hakim Syuraih?” tanya Umar setengah memprotes keputusan itu. Syuriah menganguk pasti. Keputusannya tidak bisa diganggu gugat. 
 
Khalifah Umar merenung beberapa saat. Benar sekali apa yang dikatakan hakim itu. Syuraih telah memberikan keputusan yang bijaksana dan penuh keadilan. Dengan lapang dada, Umar dapat menerimanya. Jangan mentang-mentang ia pejabat lalu harus selalu dimenangkan perkaranya. Sementara nasib rakyat kecil tidak diperhatikan. 
 
Begitulah, orang-orang selalu mempercayakan perkaranya diputuskan oleh Syuriah. Pengadilanya adalah tempat mendapatkan tempat yang seadil-adilnya. 
 
Hingga pemerintahan Ali bin Abu Thalib, Syuriah tetap memangku jabatan hakim yang amat disegani dan dipercaya masyarakat kota Khuffah. 
 
Suatu hari, Khalifah Ali mendatangi Hakim Syuriah untuk mengajulkn perkara dengan seorang Yahudi.  “Ada masalah apa, ya Amirul mukminin?” tanya Syuraih. 
 
“Pak Hakim, aku mendapatkan baju perangku ditangan orang ini. Padahal, aku tidak pernah memberikan atau menjualnya pada siapapun,” sahut Khalifah Ali. 
 
“Bagaimana pendapatmu, wahai Tuan Yahudi?” tanya Syraih pada lelaki itu. 
 
“ Bukan! Ini baju perangku. Sebab, sekarang berada di tanganku.” Bantah orang itu tak mau kalah. Dengan bijaksana Syuraih menerima pendapat orang itu. Kemudian menoleh pada Khalifah Ali. 
 
“Bagaimana Anda yakin kalau baju perang itu milikmu?” tanyanya lagi pada Ali. 
 
“Aku yakin sekali. Karena satu-satunya orang yang memiliki baju perang seperti itu hanya aku. Baju perang itu terjatuh di suatu tempat. Dan kini, baju perang itu ada padanya. Bagaimana mungkin aku menjualnya di pasar?” 
 
“Aku tidak meragukan apa yang Anda katakan itu. Tapi Anda wajib mengajukan dua orang saksi untuk dijadikan saksi atas apa yang Anda akui itu,” kata Syuraih. 
 
“Baiklah, aku bersedia mendatangkan dua saksi,” kata Ali. 
 
Khalifah Ali begitu menyayangi baju perangnya. Karena baju itu, harta yang sangat berharga dan tinggi nilainya bagi Khalifah. Ia sangat berharap baju perangnya bisa dimilikinya kembali. 
 
“Pembantuku, Qanbar, akan kujadikan saksi. Dan satu lagi, Al-Hasan, anakku,” sahut Khalifah Ali bersemangat. Sudah pasti keduanya dapat dijadikan saksi atas kebenaran ucapannya. 
 
“Ya, amirul mukminin! Tidaklah sah kesaksian seorang anak terhadap ayahnya,” kata Syuraih mengingatkan ketentuan yang sudah ditetapkan Allah. 
 
“Subhanallah! Kesaksian Al-Hasan, salah seorang pemuda penghuni surga tidak diterima,” ucap Ali mengeluh sedih. 
 
“Betul! Aku hanya tidak membolehkan kesaksian anak pada ayahnya,” tegas Syuraih tak bergeming. Pendiriannya berdasarkan ajaran Allah. 
Walaupun itu menyangkut khalifah besar, seorang ayah dari pemuda penghuni sorga yang telah disabdakan Rasulullah. 
 
Khalifah Ali menarik napas berat mendengar keputusan Syuraih. Hatinya kecewa. Ia merasa kalah dan tak dapat memiliki baju perangnya kembali. 
 
“Aku tidak punya saksi lain. Jadi, baju perang ini memang milikmu,” kata Ali menyerahkan baju perangnya pada orang Yahudi itu. Ya! Jauh di lubuk hati Khalifah Ali mengakui kalau Hakim Syuraih sudah bertindak benar. Apa yang di tetapkan Allah harus ditegakkan. Tak terkecuali terhadap dirinya yang seorang Khalifah! 
 
“Ya amirulmukminin!” Tiba-tiba Yahudi itu bersimpuh di hadapan Khalifah Ali. 
 
“Memang betul! Baju perang ini milikmu! Hari ini, aku melihat seorang hakim yang begitu teguh menegakkan ajaran Allah. Ia memenangkan aku. Sungguh! Aku lihat Islam melakukan kebenaran! Saat ini juga aku akan menjadi penganut Islam.......,” kata orang itu. 
 
“Pak Hakim yang mulia, sebenarnya, aku telah memungut baju perang Amirul mukminin sewaktu terjatuh pada peperangan di Siffin!” sahut orang Yahudi itu mengakui yang sebenarnya. 
 
Mendengar perkataan orang itu, khalifah Ali berubah wajahnya. Ia segera merangkul lelaki itu seraya tersenyum bahagia. 
 
“Karena kau sudah masuk islam, maka kuhadiahkan baju perang itu kepadamu. Dan juga kuda ini,“ sahut Khlifah Ali dengan tulus. Sungguh mengagumkan keputusan yang diberikan Hakim Syuraih!.
 

Khairul Kiram
Mahasantri Ulil Albab UIKA Bogor
0 Komentar