Begini Khalifah Umar Membangun Keharmonisan Rumah Tangga

Ilustrasi: Rumah tanga yang harmonis
SI Online - Membangun keharmonisan rumah tangga bukanlah perkara mudah. Mewujudkannya tidak cukup hanya berlandaskan cinta dan limpahan materi semata. 
 
Melihat fenomena yang terjadi saat ini, terdapat pergeseran nilai mengenai arti penting ikatan sebuah pernikahan. Sebagian dari pasangan suami isteri menganggap bahwa perceraian merupakan sebuah jalan pintas dan solusi pamungkas untuk keluar dari permasalahan rumah tangga yang sedang mereka hadapi.
 
Islam memandang kehidupan rumah tangga sebagai sumber ketentraman, keamanan dan keselamatan. Dalam hal ini memandang hubungan suami isteri sebagai sarana penyempurnaan ibadah, pertumbuhan cinta, pemupukan kasih sayang dan kebahagiaan. 
 
Jika terdapat perselisihan atau permasalahan rumah tangga antara suami dan isteri, terutama karena perbedaan sifat atau karakteristik yang tidak disukai antar keduanya, Islam menyerukan agar ikatan perkawinan tidak sampai terputus. Allah SWT berfirman :
 
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.” (Al-Baqarah : 216)
 
Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW bersabda :
 
“Janganlah hendaknya seorang laki-laki mukmin membenci isterinya orang yang beriman. Bila ada perangai yang tidak disukai dia pasti ridha (senang) dengan perangai yang lain.” (HR.Muslim)
 
Hadits tersebut menunjukan bahwa, seorang suami diperintahkan untuk memperlakukan isterinya secara makruf, walaupun terdapat perangai atau sifat dari sang isteri yang tidak disukai suami. Hal ini juga dapat diperuntukan bagi seorang isteri. 
 
Hendaknya pasangan suami isteri mampu bersikap saling memahami, menghargai, juga menghormati hak dan kewajiban masing-masing sesuai dengan syariat Islam sebagai salah satu kunci keharmonisan rumah tangga.
 
Diriwayatkan bahwa seseorang datang kepada Khalifah Umar ra. Untuk mengadukan tingkah laku isterinya terhadap dirinya. Sambil menunggu keluarnya sang khalifah, orang tersebut berdiri di depan pintu rumah Umar ra. Dari depan pintu tersebut ia mendengar isteri Umar yang sedang melontarkan kata-kata kesal dan memarahinya, sedangkan Khalifah Umar diam saja tanpa menjawab.
 
Orang tersebut memutuskan untuk meninggalkan rumah Umar dan berkata dalam hatinya : “Kalau Umar yang berwatak keras lagi seorang Amirul Mukminin saja sikapnya demikian, lalu bagaimana dengan aku?”.
 
Umar ra. Keluar dan melihat orang tersebut sedang pergi meninggalkan rumahnya. Dipanggilnya orang itu dan ditanyai : “Apa hajat Anda?”. Orang tersebut menjawab : “Ya, Amirul Mukminin, Saya datang untuk mengadu kepada Anda tentang perilaku isteri saya yang suka membantah omongan dan memarahi saya. Tetapi dengan tidak saya duga, saya juga mendengar isteri tuan melakukan hal yang sama. Oleh karena itu saya hendak pulang kembali.”
 
Umar berkata : “Wahai saudaraku, aku menahan diri dan bersabar karena dia mempunyai hak terhadapku. Dia yang memasak makananku, yang membuat roti, mencuci pakaianku, yang menyusui anak-anakku, yang semua itu bukan kewajibannya; lagipula hatiku tenteram kepadanya dan menjadi tercegah dari perbuatan haram. Oleh karena itu aku bersabar.” Orang tersebut berkata : “Ya Amirul Mukminin begitu pula isteri saya.”
 
Melihat kisah tersebut di atas, terdapat teladan dan hikmah yang ada di dalamnya. Bagi suami atau isteri, diharapkan memiliki kesadaran bahwa kita tidak akan dapat menemukan pasangan hidup yang sempurna dan ideal sesuai dengan kaca mata kita. 
 
Olehkarena itu, penting mengedepankan sikap sabar, saling menghargai, menghormati, memahami, serta terus belajar mengenali setiap karakter masing-masing, sebagai perekat menjalani kehidupan berumah tangga.
 
(Yunita Nurwidiya)

 

 

Komentar

Belum ada komentar
Nama

Email


security image
Kode
Komentar