Mohammad Natsir : Pemerintah RI tidak Setuju Kristenisasi

Sabtu, 16 Januari 2016 - 15:07 WIB | Dilihat : 7161
 Mohammad Natsir : Pemerintah RI tidak Setuju Kristenisasi Mantan PM Mohammad Natsir

 

[Pidato sambutan tertulis mantan Perdana Menteri Mohammad Natsir pada Seminar Islam Internasional di Colombo Srilanka, Maret 1982. Judul tulisan ini dikutip dari pernyataan Jenderal Panggabean, Menteri Pertahanan RI yang bergama Kristen]
 
 
Assalamu’alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh
 
Pertama-tama saya ingin menyampaikan rasa menyesal yang sedalam-dalamnya, karena situasi yang tidak dapat saya hindari, saya tidak dapat hadir dalam dialog yang terhormat ini.
 
Izinkanlah saya pada permulaan kata-kata saya ini untuk menyampaikan rasa hormat saya terhadap semuangat yang tidak dapat dikalahkan dari para pemimpin baik pria maupun wanita, di pulau yang indah ini, yang perjuangan mereka yang terkenal untuk persatuan dan toleransi, telah menimbulkan perasaan bangga dalam diri kita semuanya.
 
Dengan mengingat kembali perjuangan Sri Lanka yang panjang, dan sesuai dengan tradisi Bersatu dalam Keagamaan, maka kitanya wajarlah kalau kita merasa bersimpati terhadap Pemerintah dan rakyat pulau ini, yang disebabkan oleh keramah-tamahan mereka yang hangat, dialog kita ini dapat berhasil baik.
 
Dengan memperhatikan sepintas lalu masalah-masalah yang terdapat dalam acara di depan kita, maka tampaklah bagi kita dengan jelas luasnya rentang dan banyaknya ragam pokok-pokok persoalan yang menjadi perhatian kita bersama, dan juga tampak bidang-bidang di mana kita mungkin melakukan kerjasama, yang mencakup demikian banyaknya proyek-proyek lapangan dan berbagai jenis kegiatan. Hal itu menimbulkan suatu perasaan senang pada kita, karena dapat merampungkan sesuatu, dan usaha yang tidak mengenal lelah yang dilakukan pada sponsor dialog ini telah membuat kita merasa bahwa kita telah mempunyai perlengkapan yang cukup untuk tinggal landas, dan memberikan sumbangan kita bagi peningkatan arti dialog ini.
 
Dengan tidak mengesampingkan pokok permasalahan yang terdapat dalam agenda, dan saya mengharap agar semuanya itu dapat diperbincangkan dengan baik, maka saya cenderung untuk berpendapat bahwa pada saat sekarang ini, kiranya akan baiklah bagi semua kita , jika kita meluangkan waktu untuk mempertanyakan dan meninjau kembali hasil dari usaha-usaha yang telah dilakukan dalam dialog-dialog yang terdahulu dan menguji kejujuran kita, sehingga dialog ini dapat menjadi sarana yang penuh arti.
 
Jika gagasan dialog itu dapat dipertahankan, dan menimbulkan harapan yang besar, maka ini adalah disebabkan karena ia dianggap sebagai usaha yang sungguh-sungguh untuk mencari alternatif yang benar terhadap dilema ketidak-harmonisan dan pertikaian yang tidak tertahankan yang ada sekarang ini.
 
Memang banyak hal-hal yang telah dilakukan untuk menunjukkan segi-segi persamaan tujuan dan maksud di antara kita, tetapi hal-hal yang harus dilakukan masih jauh lebih banyak lagi.
 
Untuk menyegarkan ingatan kita kembali, izinkanlah saya menunjuk kembali kepada hasil-hasil gemilang yang telah dicapai konferensi “Missi Kristen dan Dakwah Islam” yang telah diorganisir oleh Panitia Missi dan Penginjilan Dunia, Dewan Gereja Dunia, Jenewa, yang berlangsung di Chambesy, bulan Juni 1976, dengan berkonsultasi dengan the Islamic Foundation, Leicester, dan Pusat Studi Islam dan Hubungan Islam-Kristen, Selly Oak College, Birmingham. Tujuan konferensi itu adalah meningkatkan saling pengertian antara orang-orang Islam dan Kristen dan untuk mengkaji kemungkinan untuk mencari suatu MODUS VIVENDI yang akan dapat menjamin adanya kesejahteraan rohani bagi semua pihak.
 
Terutama saya menunjuk kepada alinea 6 dari Pernyataan Konperensi yang kata-katanya disusun sebagai berikut:
 
“Para peserta Kristen menyampaikan rasa simpati sebesar-besarnya kepada saudara-saudara mereka yang beragama Islam karena tindakan-tindakan yang secara moral salah, yang telah diderita oleh dunia Islam yang telah dilakukan oleh orang-orang Kolonial, neo-kolonial, serta kaki-tangan mereka. Konferensi ini sadar bahwa rasa curiga, tidak percaya dan ketakutan. Jangankan akan bekerjasama untuk kebaikan mereka bersama, maka orang Islam dan Kristen telah merasa terpisah dan asing satu dengan yang lain. Setelah kolonialisme yang berlangsung lebih dari seabad lamanya, di mana di saat itu orang-orang missi yang telah bekerja sama untuk kepentingan negara-negara kolonial, baik dengan disengaja atau secara tidak sadar maka orang Islam merasa enggan untuk bekerjasama dengan orang Kristen yang telah mereka perangi sebagai agen-agen para penindas mereka. Walaupun telah pasti bahwa waktunya telah tiba untuk membuka suatu halaman baru dalam hubungan ini, orang Islam masih saja merasa enggan untuk melakukan tindakan itu karena masih tetap saja curiga terhadap iktikad orang Kristen. 
 
Sebabnya karena memang telah menjadi kenyataan yang tidak dapat dibantah lagi bahwa masih banyak kebaktian missi Kristen dewasa ini yang dilakukan untuk maskud-maksud duniawi. Mereka mengambil keuntungan dan kebodohan kaum Muslimin, dari kebutuhan orang Islam terhadap layanan pendidikan, kesehatan, kebudayaan dan sosoal, dari ketegangan dan krisis politik yang dialami kaum Muslimin, dari ketergantungan ekonomi mereka, dari perpecahan mereka di bidang politik, dan dari kelemahan-kelemahan mereka pada umumnya; maka layanan-layanan missi ini telah digunakan untuk tujuan Kristenisasi, dengan pengertian memperbanyak jumlah anggota masyarakat Kristen dengan menggunakan alasan-alasan yang tidak spiritual. Baru-baru ini telah ditemukan adanya hubungan antara layanan missi dengan jawatan intel negara-negara besar. Hal ini telah memperkuat dan memperhebat situasi yang telah cukup gawat. Konperensi ini mencela sekeras-kerasnya semua penyalahgunaan diakonia (layanan) seperti itu.
 
Para peserta konferensi ini yang beragama Kristen atas nama ke-Kristenan menyatakan diri tidak mempunyai hubungan dengan layanan seperti itu yang telah merendahkan dirinya dengan mempunyai suatu tujuan lain selain dari agape (kecintaan kepada Tuhan dan tetangga). Mereka menyatakan bahwa setiap diakonia yang dilakukan untuk suatu tujuan duniawi adalah adalah suatu alat propaganda dan bukan merupakan pernyataan agape. Mereka sepakat untuk berusaha sekuat mungkin dan menggunakan segala sarana yang ada pada mereka untuk menjadikan gereja-gereja Kristen dan organisasi-organisasi keagamaan dasar dengan sebaik-baiknya akan situasi seperti ini.
 
Saya ingin menegaskan kembali bahwa bagi orang Islam Indonesia yang merupakan salah satu masyarakat Islam terbesar di dunia, yang tanpa mereka pelaksanaan secara universal dari hasil-hasil yang dicapai oleh dialog mana pun, sudah pasti akan dapat dipertanyakan, maka alinea yang saya kutip tadi di atas memang telah menimbulkan harapan dan dambaan untuk timbulnya suatu masa yang penuh saling pengertian dan saling memahami antara orang Islam dan Kristen di dunia umumnya dan di Indonesia khusunya.
 
Alinea itu juga memperlihatkan sepenuhnya kebijaksanaan dasar Pemerintah Republik Indonesia, yang telah mengambil prakarsa pada tanggal 30 Novemper 1967 mengadakan Konferensi Antaragama di Indonesia, yang berlangsung di Jakarta, tetapi malang sekali bahwa harapan dan dambaan kami itu tidak dapat direalisasikan karena penolakan dari pihak-pihak saudara-saudara kami yang beragama Kristen. Unsur yang paling utama dalam draft Piagam telah disusun sebagai berikut:
 
“…memberikan bantuan moral, spiritual dan material dan berlomba-lomba dalam mendorong orang-orang yang tidak ber-Tuhan untuk percaya kepada Tuhan YME, dan tidak menjadikan masyarakat-masyarakat beragama lain sebagai sasaran untuk menyebarluaskan agama mereka masing-masing.”
 
Saudara Ketua,
 
Walaupun orang Kristen tidak sesuai dengan draft itu, maka Menteri Pertahanan di waktu itu, Jenderal Panggabean yang juga seorang Kristen yang taat, telah menegaskan kembali dalam pertemuannya dengan para ulama di Aceh tanggal 28 Oktober 1974, bahwa Pemerintah Indonesai tidak menyetujui Kristenisasi.
 
Lagi pula, hubungan antara masyarakat Islam dan Kristen di Indonesia telah memburuk sampai ke tingkat yang jauh. Marilah kita perhatikan langkah-langkah yang telah memburuk sampai ke tingkat yang jauh. Marilah kita perhatikan langkah-langkah yang telah diambil oleh Pemerintah Indonesia untuk menciptakan ketenteraman dan kestabilan antara berbagai masyarakat beragama. Hal ini dibuktikan oleh berbagai peraturan preventif yang telah dikeluarkan oleh Departemen Agama.
 
Bagi orang Islam Indonesia, agaknya konsensus etsi yang berupa Modus Vivendi seperti yang telah dikemukakan oleh Konferensi Chambesy tentang: “Missi Kristen dan Dakwah Islam” seperti yang telah diikuti di atas, adalah merupakan suatu janji. Kami akan menghormati segala kewajiban yang timbul sebagai akibat daripadanya, dan dalam melakukan hal itu, kami juga berharap pihak lain juga berlaku seperti itu pula.
 
Rev. J. Spencer Trimmingham, bekas Kepala Departemen Bahasa Arab dan Studi Islam di Universitas Glagsow, dalam bukunya yang berjudul Gerakan Kristen dan Islam di Afrika Barat, telah menyatakan:
 
“Kita harus ingat bahwa sikap orang Kristen terhadap Islam pada umumnya menentukan sikap orang Islam terhadap agama Kristen. Orang Kristen dan Islam, yang merupakan tetangga di bidang material, masih harus banyak mempelajari hal-hal yang berhubungan dengan perdamaian mereka.”
 
Saudara Ketua,
 
Saya memang percaya kepada kekuatan akal sehat, kepada kemampuan kita untuk melihat ke balik halangan-halangan sementara dan hambatan-hambatan psikologis sekarang ini, dan kepada memahami pandangan yang transendental bahwa pada dasarnya umat manusia ini adalah satu.
 
Dengan mengingat kembali kepada perdamaian yang telah dicapai antara saudara-saudara kita yang beragama Katolik dan Protestan, walaupun masih ada pertikaian-pertikaian yang belum seluruhnya dapat dihilangkan, tetapi jelas bahwa konfrontasi yang lama yang terdapat di antara mereka telah berubah menjadi perdamaian dan bahkan juga tingkah kerjasama yang lebih besar.
 
Dengan pertolongan Tuhan, tidak mustahil hal yang seperti itu juga akan terjadi antara orang Islam dan orang Kristen di masa-masa mendatang.
 
Itulah sebabnya saya berpendapat bahwa dalam proses dialog ini harus diberikan tempat yang penting bagi menegaskan kembali prinsip-prinsip Modus Vivendi yang telah dinyatakan dengan jelas sekali dalam Pernyataan Chambessy tentang “Missi Kristen dan Dakwah Islam”
 
Di pihak kami, terdapat orang-orang yang mempunyai harapan untuk umat manusia, yang melihat terdapatnya potensi yang amat besar dari keharmonisan kehidupan beragama, dalam menghadapi berbagai ketidakpastian yang terdapat di dunia.
 
Titik ini benarlah yang harus selalu kita jaga terus-menerus, karena harga yang harus dibayar dari kegagalannya mungkin berbentuk pepecahan yang telah pasti akan amat memperngaruhi dasar raison d.etre dari dialog kita ini sendiri di masa mendatang.
 
Pada akhirnya, saya mereka berkewajiban untuk meminta maaf kepada Saudara Ketua dengan sejujur-jurunya, atas kata-kata saya yang terus terang, saran saya yang bersahabat, dan lebih-lebih lagi, rasa hormat dan penghargaan saya yang setinggi-tingginya. Terima kasih.
 
Srilanka, 26 Maret 1982.
 
 
[Shaza Hanifah]
0 Komentar