Era Mulkan Jabariyyan: Islam Menjadi Pesakitan

Kamis, 14 Januari 2016 - 19:23 WIB | Dilihat : 6152
Era Mulkan Jabariyyan: Islam Menjadi Pesakitan Ilustrasi : Hura-hura perayaan malam Tahun Baru di Jakarta

 

Tiap bulan Desember melintas hingga memasuki Januari, saat itulah posisi Islam berubah statusnya di NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) yang semula Islam secara formal diakui sebagai agama dominan dan dipeluk hampir 90% rakyat Indonesia bahkan dibanggakan sebagai negara Islam terbesar di dunia, namun mendadak-sontak saat Desember masuk, maka posisi Islam itu berubah drastis. Posisi Islam yang dominan berubah seolah-olah menjadi penganut agama yang minoritas, bahkan posisi Islam dan umat Islam seperti pesakitan.
 
Betapa tidak, umat Islam dengan ajaran agamanya, Jihad, itu, bukan sekadar dicurigai saat bulan Desember datang, di mana orang  Kristen hendak merayakan hari raya Natal dan Tahun Baru, bahkan Islam dan umat Islam ditempatkan sebagai ‘penjahat kambuhan’ yang siap hendak meledakkan gereja-gereja dengan bom. Opini seperti ini disebarluaskan oleh media sekuler, dimiliki non-Islam yang kini menguasai Indonesia hampir 95%. Dan ironisnya opini menyesatkan itu diantisipasi oleh pemerintah sejak 15 tahun terakhir ini—di era reformasi—dengan kebijakan membentuk pasukan pengamanan di seluruh Indonesia dalam status kesiagaan penuh, dengan kode perintah Siaga III, Siaga II, hingga Siaga I. 
 
Lebih ironis lagi ormas Islam tertentu, ikut ‘Menabuh Gong” memperkuat rekayasa menempatkan Islam sebagai pesakitan itu, dengan ramai-ramai menyatakan mendukung pengamanan gereja, ikut menjaga gereja di malam Natal dan Tahun Baru dengan membentuk pasukan pengamanan swasta. Suasana pun tercipta dengan sempurna  yakni di satu sisi, posisi Kristen  dianggap sangat terancam dan perlu dilindungi oleh negara. Sebaliknya posisi Islam dan umat Islam, menjadi pesakitan atau ‘Penjahat Kambuhan’ yang selalu datang tiap bulan Desember, harus diamankan, jika perlu ditangkap.
 
Serentak bersamaan suasana mencekam itu sudah dibangun,  diikuti pula pembentukan resmi gelar pasukan keamanan yang diberi sandi Operasi Lilin yang dipimpin oleh Kapolri juga Panglima TNI dan diekspose televisi dengan penayangan barisan pasukan yang seolah-olah siap berangkat perang. Maka, menjadi-- seolah-olah—nyata pula ancaman itu. Tiap akhir tahun datang, maka diperlukan pembentukan pasukan pengamanan dengan biaya luar biasa besarnya itu. Tatkala Natal dan Tahun baru berhasil dilewati tanpa insiden apapun, maka aparat keamanan itu pun berbangga diri dan menyatakan telah berhasil meredam acaman kaum ekstremis. Rasa bangga itu juga dilontarkan ormas Islam tertentu tadi yang ikut-ikut mengamankan gereja di seluruh Jawa, bahkan ikut pula mengubah nyanyian gereja dengan irama dan logat menjadi seperti pujian-pujian para santri di langgar-langgar kepada Rasulullah Muhammad Saw. Naudzubillahi min dzalik. 
 
Sayangnya rekayasa suasana yang amat menusuk sanubari umat Islam ini tidak mendapat respons yang sepadan dari umat Islam. Bahkan serenceng tokoh umat pimpinan Ormas Islam terbesar malah ramai-ramai menyakinkan umat Islam jika ingin memberi ucapan selamat Natal—yang resmi diharamkan MUI itu—kepada orang Kristen hukumnya halal. Sikap melawan syariat ini justru dilontarkan oleh Ketua PBNU Said Aqil Siradj, mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Din Syamsoeddin dan Syafi’i Maarif. Innalillahiwainnailaihiraajiun.
 
Suasana yang amat menyesatkan ini dikomentari H. Munarman, SH pada rapat rutin redaksi Suara Islam, sebagai pelecehan yang luar biasa kepada Islam dan umat Islam. Munarman mensinyalir rekayasa seperti ini dibentuk secara sistematis oleh golongan non-Islam sejak era reformasi berlaku di Indonesia.Suasana ini disebut mantan Ketua YLBHI (Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia) ini, seolah-olah negeri ini sudah menjadi negeri Nasrani. 
 
Suasana yang penuh rekayasa ini pernah dikomentari H.Tabrani Sabirin, mantan Ketua Majlis Tablig dan Dakwah Khusus PP Muhammadiyah ini, yang katanya Indonesia saat ini benar-benar sudah menjadi NKRI, bukan Negara Kesatuan Republik Indonesia, tapi NKRI Negara Kristen Republik Indonesia.
 
Komentar alumnus Al Azhar University, Kairo, itu dijadikan cover pada Suara Islam sekitar Desember 2010 yll. Saat itu Tabrani yang sedang mengantarkan tamu dari Timur Tengah yang sedang berkunjung ke Indonesia, sang tamu terheran-heran di berbagai lokasi ia melihat suasana gereja dan Natal yang dominan di mana-mana, mulai di Bandara Soetta, hotel, stasion kereta, mal-mal dan toko-toko di mana karyawannya mengenakan topi sinteklas dan lagu gereja dikumandangkan sepanjang hari. Sang tamu bertanya apakah semua itu dilakukkan orang-orang Kristen? Bukankah penganut Kristen di Indonesia minoritas tak lebih dari 10% saja, mengapa menjadi terbalik menjadi seolah-olah orang Kristen yang 90% ? Tabrani mengaku gelagapan menjawab pertanyaan itu. Jawabannya adalah orang Nasrani menguasai bidang-bidang yang sangat strategis, yakni media massa (hampir 95%), ekonomi-perdagangan (juga 95%), serta menguasai pos-pos kekuasaan di pemerintahan. Akibatnya mereka pun membuat rekayasa seperti yang terlihat dii permukaan dalam kerangka program Kristenisasi, hendak menjadikan umat Islam terbesar di dunia ini murtad berganti Kristen. Dengan keterangan ini Sang tamu dari Timur Tengah pun geleng-geleng kepala penuh “takjub” mendengar fakta yang terjadi.
 
Era Mulkan Jabariyyan
 
Suasana di mana posisi umat Islam teraniaya seperti itu, ditengarai oleh Ustaz Hijrah Dahlan yang biasa disapa Abu Saad—yang juga anggota Dewan Redaksi Suara Islam-- sebagai datangnya Era Mulkan Jabariyyan seperti sudah disebut dalam Hadts Rasulullah Saw yang sahih. 
 
Era seperti ini menurut Abu Saad hanya menjadi rentetan fase dari era Kenabian Muhammad Saw hingga akhir zaman. Setelah era kenabian datanglah era Khilafah Minhaj Nubuwah,di mana para khilafaurrasyidin membawakan kekuasaan mengikuti cara-cara Rasulullah Saw, setelah itu datang era Mulkan Adhan di mana muncul penguasa-penguasa Islam para khilafahnya dengan ketat menerapkan syariat Islam namun dengan cara-cara yang dianggap kejam, setelah itu datanglah seperti dirasakan saat ini era Mulkan Jabariyyan, di mana umat Islam diperhinakan oleh penguasa-penguasa yang sangat zalim lagi kejam kepada orang Islam. 
 
Pada era Mulkan Jabariyyan ini menurut Abu Saad kini berlaku seperti di Indonesia umat Islam walau jumlahnya terbesar tapi penguasanya memperlakukan sangat kejam.  Orang Islam memberikan toleransi sangat luar biasa kepada orang Nasrani, sehingga orang Nasrani bisa menjabat sebagai gubernur, menteri-menteri strategis, di Indonesia, yang tidak mungkin diberikan di daerah-daerah dominan Nasrani seperti di NTT, Papua, Manado dan lain-lain bahkan di negara-negara Barat seperti di AS dan Eropa niscaya mustahil ada orang Islam terpilih menjadi presiden. Toleransi umat Islam Indonesia sangat luar biasa berlebih diberikan golongan Nasrani, namun orang Islam tetap dituduh selalu bertindak intoleran. 
 
Kata Abu Saad orang Nasrani malah bertindak sangat keji kepada umat Islam, sehingga mereka berani membunuhi orang  Islam di Ambon Maluku dan mengobarkan pembunuhan dan perang kepada umat Islam dimulai sejak Hari Raya Idul Fitri 1999, sepanjang dua tahun. 
 
Hal yang sama juga diulangi pada peristiwa Tolikara Papua pada Idul Fitri 2015 yang  lalu di mana shalat Idul Fitri dibubarkan, Kelompok Gereja Injil di Indonesia, masjid dan rumah-rumah orang Islam pun dibakar. Pemerintah membela orang Nasrani dalam kasus Tolikara dan meminta umat Islam yang ada di Tolikara agar tahu diri dan menghormati budaya lokal. Dan Presiden Joko pun malah menerima para pendeta Tolikara di Istana Negara dengan jamuan kehormatan, sebaliknya ketika terjadi peristiwa pembakaran gereja di Singkil Aceh, beberapa bulan kemudian, karena jelas-jelas melanggar SKB pendirian bangunan rumah ibadah, maka puluhan pemuda Islam pun ditangkap dijebloskan ke penjara seraya muncul pernyataan pemerintah, agar umat Islam Aceh menjaga toleransi  dan memberi kesempatan agama lain. 
 
Inilah era dimana orang Islam justru dinegerinya sendiri dianaiaya oleh penguasa yang mengaku Islam, era Mulkan Jabariyyan. Fase berikutnya akan datang kembali era Khilafah ala Minhajin Nubuwah, dan sesudah itu akan datang akhir zaman (Kiamat) ditandai munculnya Imam Mahdi, Nabi Isa. Pertanyaannya apakah ISIS di Irak dan Suriah yang akhir-akhir ini namanya menggoncangkan dunia itu bisa dikatakan khilafah minhaj nubuwah ? Banyak  tokoh Islam meragukanISIS sebagai khilafah dimaksud, bahkan muncul kecurigaan ISIS menjadi rekayasa Yahudi Israel dan AS. Ada saja yang sudah melakukan spekulasi Kiamat benar-benar datang dalam waktu 30 tahun ke depan.
 
Walau isyarat perkembangan zaman itu dengan sangat rinci telah dikemukakan dalam ajaran Islam, namun orang Islam sedkitpun tidak pernah menjadikan dasar pijakan, khususnnya untuk membuka pintu kesadaran dan mempersiapkan diri menuju alam akherat yang semakin menyongsong kehidupan manusia dewasa ini. 
 
Fenoma pemimpin Islam sendiri yang justru larut ‘bercengkerama’ dengan orang Nasrani pun kini diikuti umatnya, karena dipandu mengucapkan Natal adalah halal, mereka pun gila-gilaan menyambut Tahun Baru. 
 
Dikabarkan para Pemda ikut membiayai pembakaran petasan bernilai ratusan juta yang musnah dibakar hanya sepanjang satu jam saja. Ada yang mengabarkan petasan yang dibakar di Balikpapan, Kalimantan Timur saja menghabiskan dana Rp3,5 milyar rupiah, Kepala Pengelola TMII (Taman Mini Indonesia Indah)  dengan bangga diwawancara TV ia akan membakar kembang api di langit atas TMII senilai 85 juta rupiah. Katanya tidak bisa disamakan dengan yang akan dibakar di Ancol pusat perayaan tahun baru yang katanya juga akan dibakar petasan bernilai milyaran rupiah. 
 
Penulis menandai dengan cermat kegilaan rakyat Indonesia yang sebagian besar Muslim ini dalam larut membakar petasan di tahun baru dalam 10 tahun terakhir, menjadi-jadi. Tatkala jam menunjukkan pukul 23.30, maka bunyi petasan di udara pun mulai gemuruh, tanpa jeda terus meletus hingga makin menggila tatkala jarum jam menunjukkan pukul 24.00, diiringi jeritan histeris di mana-mana, tiupan terompet sekencang-kencangnnya, dan letusan petasan-kembang api akan terus  berlangsung sampai pukul 24.30. Demikian yang terjadi di Jakarta, Surabata, Yogya, Semarang, Bandung Palembang, Riau, bahkan sampai di pelosok-pelosok pedesaan dan tubir-tubur gunung dan jurang secara bersamaan.
 
Peringatan di internet dan media sosial bahwa peringatan Tahun Baru adalah perilaku orang  Pagan Romawi pada 45 sebelum Nabi Isa lahir, mereka  mengagungkan Dewa Janus, sehingga memutuskan nama Januari sebagai tahun depan dan melihat tahun di belakangnya. Orang Yahudi meniup terompetnya, dan orang Majusi menyalakan api seperti petasan dan mercon untuk diledakkan, dan orang  Islam melakukan semua yang dilakukan oleh orang Majusi, Yahudi dan Nasrani sekaligus. Namun peringatan di orang bijak melalui media sosial itu ternyata tidak digubris umat Islam di Indonesia, juga umat Islam di Abu Dhabi yang sekitar malam Tahun Baru yang lalu sebuah hotel raksasa bintang lima pun ludes terbakar, di tengah kegilaan peringatan Malam Tahun Baru. 
 
Buat umat Islam di Indonesia fenomena latah yang dilakukan ikut merayakan Natal dan Tahun Baru, sejatinya membuka potret diri sendiri sebagai umat yang cenderung mengidap gejala penyakit jiwa inferiority-complex,  yang disebut kolonial Barat Nasrani sebagai bangsa Inlander. Perilaku itu rupanya masih melekat kuat  dijadikan karakter yang tentu sangat memalukan bahkan memperhinakan diri sendiri. Kini kecenderunngan itu malah membantu posisi Islam dan umat Islam menjadi pesakitan di negerinya sendiri. Wallahu a’lam bissawab! [ASA]
0 Komentar