Mengenal Suatu Kaidah yang Mengantarkan pada Kewajiban

Rabu, 13 Januari 2016 - 16:58 WIB | Dilihat : 3750
Mengenal Suatu Kaidah yang Mengantarkan pada Kewajiban Ustaz Ahmad Alim
Bogor (SI Online) - Dalam kajian rutin ba'da subuh di Masjid Al-Hijri II Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor, Selasa (12/1/16), Ustaz Ahmad Alim menjelaskan satu kaidah ushul fiqih yang banyak digunakan. Kaidah itu lafadznya sebagai berikut:
 
ما لا يتم الواجب إلا به فهو الواجب
 
Ma la yatimmu al-wajib illa bihi fahuwal wajib, artinya: apa saja itu yang tidak menyempurnakan suatu hal yang wajib kecuali dengan itu, maka sesuatu itu hukumnya juga wajib. "Jika sesuatu kewajiban tidak sempurna kecuali dengan sesuatu, maka sesuatu itu wajib juga hukumnya," terang Ustaz Alim.
 
Bahwa kaidah tersebut ketika dikaitkan dalam urusan al-'amr (perintah) dibagi menjadi 2 perkara, yaitu:
 
Pertama, semua perintah yang disyaratkan (مشروط) dan hal ini diukur dengan kemampuan/istitha'ah (الاستطاعة) contohnya:
Haji hukumnya wajib bagi yang mampu dan tidak wajib haji bagi yang tidak mampu. Karena syarat untuk haji adalah kemampuan seseorang, baik harta, fisik dan lainnya, maka syarat kemampuan tersebut wajib ada untuk kewajiban haji.
 
Kedua, semua perintah yang bersifat mutlak (مطلق) contohnya:
Wajibnya bersuci (baik itu dr hadas kecil maupun besar) untuk menunaikan shalat. Karena thaharah (bersuci) adalah diantara syarat sahnya shalat maka berwudhu itu menjadi wajib ketika utk menunaikan kewajiban shalat.
 
"Tapi ada sebagian orang yang menyelewengkan kaidah ini guna menuruti hawa nafsunya," terangnya. Contohnya sesorang yang berkata, "saya tidak bisa berpikir dalam menuntut ilmu jika tidak merokok, maka rokok wajib bagi saya."
 
Alasannya, "Karena menuntut ilmu itu wajib, dan merokok itu menunjang saya untuk menuntut ilmu, bahkan tidak bisa jika tidak merokok, maka hukum rokok jadi wajib karena menuntut ilmu itu wajib juga," terang Ustaz menjelaskan kekeliruan pemakaian kaidah itu.
 
Mengenai kaidah tersebut jika berkaitan dengan sifat juga dibagi menjadi 2 yaitu, 1) sifat wajibah, dan 2) sifat mandzubah (anjuran).
"Keharusan mendatangkan tuma'ninah (ketenangan/kekhusyu'an) ketika shalat, maka tuma'ninah sebagai sifat wajib yang harus ada hukumnya juga wajib," jelasnya.
 
Dan yang kedua, jika kaidah tersebut berkaitan dengan sifat Mandzubah (sunnah), contohnya:
Mengeraskan suara ketika talbiyah (لبّيك الله هما لبّيك)  hukumnya tidak wajib, akan tetapi dianjurkan, karena sifatnya anjuran jadi jika ditinggalkan (tidak mengeraskan talbiyah) itu tidak mengapa walaupun haji itu sendiri wajib. "Karena itu hanyalah penyempurna ibadah, bukan suatu keharusan," jelasnya.
 
Ustaz yang menjadi doktor termuda lulusan UIKA Bogor kembali mengingatkan, bahwa kaidah ini banyak sekali manfaatnya dan sering digunakan untuk menjawab persoalan yang ada.
 
"Intinya, harus digunakan dengan niat dan cara yang baik dan benar, tidak ngawur seperti masalah rokok di atas," pungkasnya.
 
kontributor: nuzul hidayat
red: adhila
0 Komentar