Wahai Ibu, Ini Alasan Engkau tak Perlu Berduka, Jika Mengalami Keguguran

Rabu, 13 Januari 2016 - 03:32 WIB | Dilihat : 3529
Wahai Ibu, Ini Alasan Engkau tak Perlu Berduka, Jika Mengalami Keguguran Ilustrasi: Wanita Menangis
SI Online - Mengandung seorang anak merupakan hal yang paling membahagiakan dan sangat diharapkan oleh setiap wanita yang berstatus sebagai istri. Upaya apapun akan dilakukan para wanita demi menjaga betul kandungannya agar sehat dan selamat hingga persalinan tiba.
 
Namun kita harus senantiasa menyadari bahwa Allah Subhanahu wa ta'ala yang berkuasa segalanya, termasuk menentukan takdir kelahiran seorang anak manusia dari rahim ibunya.
 
"Dia ciptakan dari air yang terpancar." (Ath-Thariq:6)
 
"... Sesungguhnya seseorang dari kalian dikumpulkan dalam perut ibunya... " (Muttafaq 'alaih)
 
Dalam Kitab Syarah Arba'in An-Nawawi dijelaskan, bahwasanya mengandung merupakan penghimpunan antara sperma laki-laki dan ovum, lalu anak diciptakan darinya sebagaimana dalil tersebut.
 
Bisa juga yang dimaksud ialah dihimpun dari badan seluruhnya. Sebab, konon sperma itu pada tahapan pertama berjalan di tubuh wanita selama 40 hari, yaitu masa-masa mengidam. Kemudian setelah itu ia berhimpun dengan lumpur bayi sehingga menjadi segumpal darah. 
 
Kemudian berlanjut pada tahap kedua, lalu membesar hingga menjadi segumpal daging yang disebut "Mudhghah". 
Lalu Allah Subhanahu wa ta'ala membuat pendengaran, penglihatan, penciuman, pengecapan dan membentuk usus-usus dalam rongganya. Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman,
 
"Dialah yang membentuk kamu dalam rahim sebagaimana dikehendaki-Nya." (Qs.Ali Imran:6)
 
"Kemudian dari segumpal daging, yang sempurna kejadiannya dan tidak sempurna kejadiannya." (Qs. Al Hajj:5)
 
Diciptakan dengan sempurna dan tidak sempurna yaitu cacat atau gugur. Ibnu Abbas mengatakan cacat penciptaan. Namun Mujahid mengatakan Gugur. Ibnu Mas'ud berkata:
 
"Ketika sperma telah menetap di rahim, maka malaikat memegang dengan telapak tangannya seraya berkata " Wahai Rabb, diciptakan dengan sempurna atau tidak sempurna/tidak diciptakan ? Jika Alloh mengatakan "Tidak diciptakan" maka ia (malaikat) membuangnya dari rahim berupa darah dan tidak menjadi janin. Jika mengatakan "diciptakan dengan sempurna" maka malaikat bertanya "wahai Rabb, laki-laki ataukah perempuan, menderita ataukah bahagia? Apa rizkinya? Kapan ajalnya ? Di bumi manakah ia akan mati ? Maka dijawab, "pergilah ke Ummul Kitab (Lauhul Mahfuzh), karena kamu akan mendapati semua itu di dalamnya. Ia pun pergi lalu mendapatinya dalam ummul kitab lantas mencatatnya. Semua itu tetap bersamanya hingga ia sampai pada kriteria terasebut. Karena itu, dikatakan "Kebahagiaan itu sebelum Kelahiran"
 
Ada yang perlu digaris bawahi dalam penjelasan hadits tersebut mengenai penciptaan yang tidak sempurna. 
Bisa jadi Allah Subhanahu wa ta'ala menakdirkan usia kandungan seorang wanita hanya berumur pendek sehingga keguguran terjadi. Di sinilah seorang wanita harus ikhlas dan tidak perlu bersedih karena banyak hadits terkait hal ini yang sangat menggembirakan hati orang yang mendengarnya. Antara lain, Mu'adz bin Jabal pernah menyampaikan bahwa Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam bersabda:
 
"Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya sesungguhnya bayi yang gugur benar-benar akan menarik ibunya dengan tali pusarnya ke surga bila ibunya rela dengan itu."(HR.Ibnu Majah)
 
Maksud dari hadits tersebut ialah ibunya bersabar kehilangan anaknya.
Dalam kitab An-Nihayah karangan Ibnul Atsiir Bab raghima, Ali bin Abi Thalib menuturkan bahwa Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam bersabda:
 
"Sesungguhnya bayi yang gugur benar-benar akan memprotes Rabbnya bila kedua orang tuanya dimasukkan ke dalam neraka. Hingga dikatakan kepadanya, "Wahai bayi yang gugur yang memprotes Rabbnya, masukkanlah kedua orang tuamu ke dalam surga. Ia pun menarik keduanya dengan tali pusarnya untuk dimasukkan ke dalam surga"
 
Jadi bagaimanakah seharusnya sikap kita wahai calon ibu yang kehilangan anaknya karena keguguran, selain dengan mengikhlaskan dengan penuh kerelaan.

(Maria Firdaus) 

0 Komentar