Mujahadah Para Sahabat dan Ulama Patut Dicontoh

Senin, 11 Januari 2016 - 20:54 WIB | Dilihat : 2903
Mujahadah Para Sahabat dan Ulama Patut Dicontoh Ketua Pembina Pondok Pesantren Mahasiswa Ulil Albaab UIKA Dr. Ahmad Alim, Lc. MA
Bogor (SI Online) - Dalam kajian subuh di Masjid Al Hijri Kampus Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor, Senin (11/1/16), Ketua Pembina Pondok Pesantren Mahasiswa Ulil Albaab UIKA Dr. Ahmad Alim, Lc. MA menjelaskan bahwa meneladani kesungguhan para sahabat Nabi dan ulama adalah kewajiban.
 
Dalam kajian rutin itu dibahas hadits-hadits bab mujahadah (berusaha keras) dari kitab Riyadus al-Shalihin, karya imam Al-Nawawi. Disebutkan dalam satu hadits kisah salah seorang sahabat Nabi Muhammad, Anas bin Nadhor, paman dari sahabat Anas bin Malik.
 
Suatu ketika Anas bin Nadhor mendatangi Rasulullah untuk meminta maaf karena absen pada perang Badar. Lantas ia pun berjanji kepada Rasulullah untuk berjuang gigih di perang Uhud dan mencita-citakan syahid di peperangan itu.
 
Sahabat Anas bertemu Sa'ad bin Muadz dan berkata kepadannya, "Wahai Sa'ad bin Muadz, sungguh aku telah mencium bau harum surga dari bukit Uhud," ia pun bergerak maju ke depan peperangan tanpa rasa takut akan kematian.
 
Ketika peperangan telah usai, Anas bin Malik mendapati pamannya telah syahid, dengan kondisi tubuh yang penuh luka. Tidak terbayangkan, sekitar 80 luka bekas tusukan tombak dan goresan pedang menghujam Anas bin Nadhor. Hingga tak ada seorang pun dari kalangan sahabat mengenali jasad tersebut, kecuali saudaranya, itupun melalui jarinya.
 
"Ini adalah bukti mujahadah para Sahabat Rasulullah, keseriusan mereka dalam berazam patut untuk dicontoh," tegas Ustaz Alim sambil menjelaskan QS al-Ahzab ayat 23 tentang kejujuran niat dan mujahadah para sahabat Nabi.
 
Setelah menceritakan kisah sahabat Anas bin Nadhor, Ustaz Alim menambahkan kisah Imam Malik, salah satu Imam besar empat Madzhab yang diakui di dunia Islam.
 
Ketika Imam Malik di dalam majelis ilmu, tiba-tiba mukanya memerah sehingga para muridnya mengira bahwa beliau sedang marah. Usai majelis, Imam Malik ditanya oleh muridnya, "Wahai guru, kenapa raut wajah guru tadi memerah seolah sedang marah?" Beliau menjawab, "Wahai murid-muridku, saya tadi sedang menahan rasa sakit akibat gigitan kalajengking," demi mengajarkan ilmu, imam Malik rela menahan sakit tanpa memotong penjelasannya mengenai agama ini.
 
"Masya Allah, bagaimana mujahadah para ulama kita dalam mengajarkan dan mencari ilmu, mereka rela menahan sakit demi amanah keilmuan Islam tersampaikan," tuturnya.
 
"Kisah keteladanan orang terdahulu, para sahabat Nabi dan ulama Islam harusnya ditiru dan diikuti oleh pemuda zaman sekarang, bukan malah mengekor dengan budaya Barat yang tidak baik," harap Zamzam salah seorang mahasantri PPMS Ulil Albaab.
 
Di akhir kajian, Ustaz Alim berpesan bahwa, "kita dalam menjemput hidayah dan mencari rizki itu harus proaktif," pungkasnya.
 
kontributor: ahmad nuzul hidayat
red: adhila
0 Komentar