Beradablah kepada Sahabat dan Ulama

Sabtu, 03 Januari 2016 - 00:09 WIB | Dilihat : 4175
Beradablah kepada Sahabat dan Ulama Perkumpulan para ulama (ilustrasi)
Hairul Qiram
Mahasantri Ulil Albab UIKA Bogor.
 
Salah satu ciri ahlus sunnah waljama’ah (Aswaja) yaitu kesucian serta kebersihan hati dan lisan mereka kepada para sahabat Rasulullah. Mencintai mereka (para sahabat) adalah salah satu bentuk ketaatan kepada Sunnah Nabi, sedangkan membenci mereka termasuk kedurhakaan. Rasul melarang keras seseorang mencerca dan mencacimaki para sahabat, kerena kedudukan mereka yang sangat mulia. Banyak sekali hadits dan perkataan ulama sunni melarang mencela mereka, di antara dalilnya sebagai berikut :
 
Rasulullah bersabda :
 
قَالَ النَّبِيُّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : لاَ تَسُبُّوْا أَصْحَابِيْ فَلَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَق مِثْلَ أَحَدٍ ذَهَبًا مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلاَ نَصِيْفَهُ

“Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam telah bersabda: ‘Janganlah kalian mencela para sahabatku. Seandainya salah seorang dari kalian berinfaq emas seperti gunung Uhud tidak akan menyamai satu mud (infaq) salah seorang dari mereka dan tidak pula setengahnya. [HR. Bukhari no. 3673, Muslim no. 2540]
 
Dalam hadist lain yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dijelaskan, Rasulullah bersabda: ”Hati-hatilah terhadap sahabatku, janganlah kalian menjadikan mereka sasaran cacian setelahku, siapa saja yang mencintai mereka maka berarti mereka telah mencintaiku dan barang siapa yang membenci mereka, maka berarti telah membenciku.”
 
Imam Abu Ja’far At Thahawi (w.321 H), menuntut supaya, “Kita mencintai para sahabat Rasulullah dan tidak berlebihan dalam mencintai salah seorang mereka, kita tidak berlepas diri mereka. Kita membenci orang yang membenci mereka (para sahabat) dan yang menyebut mereka tidak baik. Kita tidak menyebut mereka kecuali dengan kebaikan. Mencintai mereka adalah Agama, Iman dan Ihsan. Membenci mereka adalah kekafiran, kemunafikan, dan sikap melampaui batas. [Al Aqidah At thahawiyah dan syarahnya karya Ibnu Abi Al-‘Izz hal. 467]
 
Mencintai para sahabat Rasulullah sallallahu alaihi wasallam adalah adab yang mulia dan kewajiban bagi setiap Muslim untuk mengaplikasikannya. Membenci sahabat suatu kekafiran sebagaimana yang dipaparkan di atas. Para sahabat adalah, sebaik-baik generasi sepanjang zaman. Sebagaimana yang di sabdakan Nabi : “Sebaik-baik manusia adalah zamanku, dan kemudian setelahnya, dan kemudian setelahnya.” [HR. Bukhari 5/258-259 & Muslim 16/87-88]
 
Allah memerintahkan untuk selalu taat dan mengikuti kebenaran yang datang dari Nabi beserta para sahabatnya : ”Siapa saja yang menaati Allah dan Rasul, maka mereka itulah orang-orang yang akan bersama dengan kaum yang diberikan kenikmatan oleh Allah, yaitu para nabi, shiddiqin, syuhada’ dan shalihin. Dan mereka itu adalah sebaik-baik teman.” (QS. an-Nisaa’: 69-70)
 
Allah Berfirman pula : “Siapa saja yang menentang Rasul setelah jelas baginya petunjuk dan dia mengikuti jalan selain orang-orang yang beriman, maka Kami akan membiarkan dia terombang-ambing dalam kesesatan yang dia pilih, dan Kami akan memasukkannya ke dalam Jahannam, dan sesungguhnya Jahannam itu adalah seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. an-Nisaa’: 115).
 
Para sahabat Nabi Muhammad adalah salah satu cerminan masyarakat yang ideal, Islami dan generasi terbaik sepanjang sejarah peradaban Islam, karena mereka dibimbing langsung oleh sang pembawa Wahyu. Jika suatu masyarakat dan bangsa ingin menjadi cerminan, maka hendaklah mereka kita jadikan suri teladan dalam menapaki kehidupan ini.
 
Salah satu kunci keberhasilan dan kemajuan generasi para sahabat radihayallahu ‘anhum selain bimbingan dari Nabi adalah adab serta kecintaan mereka kepada Nabi dan sunnahnya. Mereka tidak pernah mencela sunnah yang telah di ajarkan Nabi kepada mereka, bahkan para sahabat ketika turun suatu perintah tidak ada pilihan bagi kecuali sami’na wa atho’na (kami mendengarkan dan kami taati). Itulah suatu keistimewaan yang membuat mereka mendapatkan gelar manusia terbaik, para sahabat telah di ridhoi Allah dan Allah pun meridhoi mereka. 
 
Allah tegaskan dalam beberapa ayat Alquran di antaranya :
 
وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar” (At taubah :100 )
 
Juga firman Allah yang artinya: “Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, Maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi Balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya).” (QS Al Fath: 18)
 
Jadi, seorang Muslim selain di tuntut untuk mencintai para sahabat kerena kedudukan mereka yang mulia juga tidak membenci mereka seperti syi’ah Rafidhah. Seyogyanya kecintaan kita kepada para sahabat Rasulullah menuntut pula agar senantiasa mencintai para Ulama Islam. menjaga Adad-adab dan tidak mencakimaki mereka. Sebab para ulama adalah pewaris perjuangan para Nabi dan sahabat-sahabatnya. “Ulama adalah pewaris para nabi.” (HR At-Tirmidz).
 
Ulama dalam Islam, adalah manusia yang dimuliakan Allah SWT kerena itu sejumlah malaikat, manusia, dan seluruh binatang di darat dan di laut telah memuliakan dan menghormati ulama, sebagaimana disabdakan Nabi Muhammad SAW: ”Muliakanlah para ulama, sesungguhnya mereka adalah orang-orang mulia yang dimuliakan oleh makhluk-makhluk mulia.” 
 
Ulama memliki kedudukan yang sangat terhormat dan derajat yang tinggi di sisi Allah. Alquran menyebutkan bahwa orang yang beriman dan berilmu (ulama) akan di angkat derajatnya beberapa derajat, sebagaimana firman-Nya: “Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis.” maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu.” maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu, dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Q.S. al-Mujadilah: 11).
 
Masih banyak lagi ayat-ayat yang menjelaskan kedudukan ulama dalam Islam. Sebenarnya yang menjadi kekhawatiran kita bersama bukan kurangnya ulama, akan tetapi lahirnya orang yang menjelma sebagai ulama (ulama su’) yang berfatwa dan melemparkan subhat pemikiran tanpa berdasarkan Ilmu, esensinya merusak cintra Islam beserta ulamanya, sehingga maraknya kejahilan dan kebodohan di tengah-tengah masyarakat kita. Akhirnya mereka yang di angkat sebagai pemimpin umat ini. Sebagaimana sabda Rasulallah SAW :

“Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan mencabutnya dari hamba-hamba. Akan tetapi Dia mencabutnya dengan diwafatkannya para ulama sehingga jika Allah tidak menyisakan seorang alim pun, maka orang-orang mengangkat pemimpin dari kalangan orang-orang bodoh. Kemudian mereka ditanya, mereka pun berfatwa tanpa dasar ilmu. Mereka sesat dan menyesatkan.” (HR. Al-Bukhari no. 100 dan Muslim no. 2673)
 
Pada hakikatnya seseorang yang telah mengeluarkan statemen yang merusak cintra Islam dan ulamanya adalah orang yang kurang beradab bukan Ilmu. Ketika masalah adab ini kita tuntaskan insya Allah, kita tidak akan lagi akan mendengar statemen yang meresahkan umat seperti, jilbab adalah budaya arab, ambil Islam buang arabnya, semakin panjang jenggot semakin goblok dan seterusnya. Sebab hal tersebut bentuk dari ketidak beradabnya seseorang kepada Islam, para sahabat dan ulama sebagai penyambung Risalah kenabian. 
 
Problem umat ini bukan pada Ilmu pengetahuan yang dimiliki, akan tetapi pada Adab, sebagai mana yang telah di ungkapkan Prof. Naquib Al attas dalam konferensi pendidikan Islam Internasional di mekkah tahun 1977. Bahwa, akar masalah umat Islam adalah "Loss of adab", hilang adab.” 
 
Hilangnya adab seseorang akan menghilangkan rasa cintanya dan wala’ (loyalitas) kepada Ulama termasuk para sahabat. Sehingga dengan mudahnya mencela bahkan merendahkan ulama-ulama Islam. Kalau sekiranya seperti itu realita di tengah-tengah masyarakat kita, maka tunggulah kehancuran dan kerusakan moral yang akan semakin meluas, sebab sumber teladan dan cerminan umat ini telah di rusak.
 
Seorang muslim yang baik akan selalu mencintai para sahabat dan ulama-ulama Islam meskipun kita berbeda mazhab fiqih dengan mereka, beradab kepada mereka hal yang paling urgen pula sehingga tidak asal berbicara mengkritisi secara frontal apalagi mencerca, Sebab seoarang Muslim yang cerdas adalah, berfikir terlebih dahulu sebelum berbicara sehingga ucapannya terukur. Wallahu A’lam Bissawab.
0 Komentar