Jokowi-Ahok Akan Tumbang

Selasa, 01 Desember 2015 - 17:36 WIB | Dilihat : 15109
Jokowi-Ahok Akan Tumbang Jokowi-Ahok (foto: liputan6.com)

 

HM Aru Syeif Assadullah
Pemimpin Redaksi Tabloid Suara Islam
 
Kalimat judul di atas, "Jokowi-Ahok Akan Tumbang", sangat kontroversial dan mengemuka dalam rapat redaksi Suara Islam pertengahan November 2015 yang lalu. Tentu saja prediksi ini membuat anggota redaksi terhenyak, apalagi yang menyampaikan prakiraan ini wartawan senior Amran Nasution, eks Redaktur Pelaksana Majalah Tempo yang sejak Suara Islam terbit 2006 Amran bergabung dan memperkuat jajaran keredaksian Suara Islam. Suasana politik-ekonomi-keamanan Indonesia hari ini, kata Amran sudah persis sama dengan suasana menjelang tumbangnya  Presiden Soeharto 1998.
 
Tapi mengapa prediksi tumbangnya Presiden Joko disejajarkan dengan nama Ahok? Tak bisa dipungkiri dua nama ini berangkat meniti karier politik tingkat tinggi di Indonesia sebagai pasangan bersama, sebagai calon gubernur DKI Jakarta dan mencapai sukses kemenangan gilang-gemilang. 
 
Sejak awal pula pasangan Jokowi-Ahok menebar janji bagi Jakarta, kemudian Indonesia—setelah Jokowi meraih jabatan sebagai Presiden RI—dengan janji yang luar biasa ‘muluk-muluk setinggi langit. Janji-janji kampanye itu sengaja dirancang dan dikobarkan oleh ‘otak intelektualnya’ dengan tujuan mengubah negeri Muslim terbesar di dunia ini dengan citra baru. Dan citra baru itu dengan ciri : warna Islam tidak boleh lagi menjadi yang dominan di negeri ini. 
 
Wakil gubernur di ibu kota Jakarta yang penduduknya 90% Muslim itu, boleh saja dijabat oleh Ahok yang non-Muslim bahkan keturunan Cina. Penduduk ibu kota pun ‘dibius’ oleh fantasi yang memabukkan, yakni : perubahan, bersih, jujur, sederhana, blusukan, itulah jargonnya.  Boleh saja ia non-Islam tapi kini ia memimpin Islam yang penting dia anti korupsi, dia jujur,dan berani. Boleh saja ia kafir, kini memimpin Islam yang penting dia anti korupsi. Perilaku rakyat ibukota yang ‘gelap-mata’ untuk mendukung Jokowi-Ahok ini, belakangan menjadi sikap dalam skala nasional dan menjadi panutan rakyat Indonesia secara keseluruhan.
 
Kenyataan itu melahirkan peringatan nyata dari tokoh-tokoh Islam, bahwa fantasi yang telah membius rakyat Muslim ibu kota itu tidak ada satu pun faktanya disandang Jokowi saat ia menjadi wali kota Solo, atau disandang Ahok saat ia menjadi bupati di Pulau Belitung. Fakta-fakta pun dibeberkan : Sejatinya Jokowi selama memimpin di Solo tidak bersih sebagaimana difantasikan. 
 
Begitu juga Ahok tidaklah jujur dan bersih sewaktu menjabat sebagai bupati di pulau Belitung. Rakyat tidak mau tahu, tidak peduli bahkan ketika peringatan ditebarkan lagi bahwa di balik naiknya  Jokowi-Ahok jika memenangkan kursi gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta, langkah kelanjutannya adalah mengincar kursi RI- 1 (Presiden RI) buat Jokowi, dan kursi B-1 (Gubernur DKI) buat Ahok.
 
Peringatan penuh perhitungan itu menjadi kenyataan. Hari ini malah mulai santer berita di media sosial, Ahok bukan saja mengincar kemenangan sebagai Gubernur DKI pada Pilkada 2017 yang akan datang, tapi setelah kemenangannya sebagai gubernur  (Pilkada 2017) maka jabatannya sebagai gubernur DKI ia pakai sebagai batu loncatan. Pada Pilpres 2019, Ahok akan tampil mendampingi Capres Jokowi. Ahok tampil  sebagai calon Wakil Presiden, dan berikutnya Ahok akan tampil sepenuhnya menggantikan Jokowi sebagai RI-1. Urut-urutan skenario ini hanya menjadi kelanjutan skenario sebelumnya, mengusung Jokowi sebagai walikota Solo, naik jenjang menjadi gubernur DKI dan menduduki kursi presiden RI. Kini giliran jejak itu akan dan harus diikuti oleh Ahok. UUD yang mensyaratkan presiden RI haruslah orang yang asli Indonesia atau pribumi tinggal dicarikan ‘tip-ex’ untuk menghapusnya. 
 
Saat ini wacana menuju RI-1 oleh pengusaha Harry Tanoesoedibyo pun sedang digencarkan dengan membentuk Partai Perindo dengan kampanye besar-besaran didukung media massa yangn dimiliki kelompok MNC. Naiknya oranng-orang keturunan Cina hendak menguasai NKRI, merisaukan umat Islam dan pemimpinnya  dengan cermin pada kejadian propinsi Melayu, Singapura, dikuasai oleh keturunan Cina saat ini, dan menjadi negeri yang terpisah dari negeri Muslim Malaysia.
 
Dari Mana Jokowi-Ahok Tumbang ?
 
Prediksi jatuhnya pemerintahan Presiden Joko setelah memerintah lebih setahun ini sangat gamblang bisa dibaca siapa saja asalkan mau menggunakan akal yang sehat. Untuk melihat indikasi kegagalan pemerintahan Presiden Joko-Jusuf Kalla, begitu mencolok telah terjadi, serangkaian kesalahan kebijakan yang sangat fatal. Pemerintahan Presiden Joko-JK  salah tatkala nekad menaikkan harga BBM awal pemerintahannya yang berakibat, bagai politik domino dengan efek negatifekonomi menjadi rangkaian ekonomiblunder yang semakin hancur dari hari ke hari. Presiden Joko mengumumkan hendak menghapus model penjatahan penduduk miskin dengan pembagian Raskin, berakibat beras melonjak harganya hampir dua kali lipat, dan tidak bisa diturunkan sampai hari ini. 
 
Dua kebijakan yang salah fatal BBM dan beras ini bagai menjadi boomerang ekonomi menghantam rakyat Indonesia dan dipaksa memasuki situasi ekonomi yang semakin menekan dan amat menyulitkan kehidupan.  Apalagi ditambah efek berikutnya,harga kebutuhan barang pokok, mulai daging, telur sampai  ayam, naik harganya sangat tinggi dan liar tidak bisa diturunkan sampai hari ini. Indikator ekonomi yang diukur melalui pertumbuhan ekonomi pun jauh dari target hanya mencapai 4,6%,  ditambah target pemasukan pajak 2015 yang hampir habis akhir 2015, jauh dari harapan alias merosot tajam. Padahal sektor pajak ini sudah digenjot habis-habisan dengan bentuk pajak yang progresif, pengampunan pajak bagi konglomerat, dan seterusnya, namun hasilnya tetap nihil, alias jauh dari target itu. Padahal politisi kritis di talk show melalui TV menyindir saat ini pemerintahan Presiden Joko ini sudah  tega menarik pajak buat orang mati, yang tidak dilakukan kolonial Belanda sekalipun.Yang lebih mematikan nisvaya pelambatan bahkan macetnya ekonomi nasional negeri ini diperparah jatuhnya nilai mata uang rupiah yang sampai hampir menyentuh Rp 15.000/dolar AS. Inilah pintu lebar tumbangnya pemerintahan Presiden Joko-Jk.
 
Janji kampanye Presiden Joko-JK, dirinci 100 janji kampanyenya yang serba fantastis itu, maka tidak 10% pun yang bisa diwujudkan. Semua serba ‘jeblog’ dan serba diingkari. Dan sekadar asal bunyi saat kampanye bahkan jelas-jelas hanya menipu rakyat Indonesia. Buku “100 Janji Jokowi-JK” yang diterbitkan Fadli Zon Library dijadikan catatan kritik yang telak dalam perdebatan  satu tahun Pemerintahan Jokowi-JK yang jeblog, oleh Ramson Siagian dari Partai Gerindra sehingga membuat pendukung Jokowi-JK terbata-bata menghadapi gugatan dan kenyataan kegagalan rejim Joko-JK ini.
 
Tak terelakkan kebanggaan para pendukung Jokowi-JK yang semula seringkali berlebihan dan tidak masuk akal, berbalik sebagian kecil mulai berani menyuarakan kritik dan berpuncak pada perombakan atau resuffle kabinet kerja Jokowi-JK. Ternyata perombakan kabinet ini tidak mengobati apapun. Yang dinilai lebih telak ‘menjatuhkan’ eksistensi pemerintahan Presiden Joko-JK, kenyataan rendahnya kewibawaan lembaga presiden dengan segala simbol dan atribut yang menyertainya di tangan rezim Presiden Joko. Ada foto yang beredar di media sosial tatkala Presiden Joko berdialog dengan Suku Anak Dalam di pedalaman Jambi. 
 
Dialog di atas tanah sambil duduk mencangkung justru diekspose sebagai ejekan, bukan sebaliknya terbangunnya citra sebagaimana dimaksudkan para pendukungnya, karena pertamakali Presiden RI langsung menyambangi Suku Anak Dalam dan berdialog. Kabar negatif malah santer mengemuka, misalnya perintah Presiden Joko agar aparat keamanan  segera menghentikan praktek illegal penambanngan emas liar Bukit Botak di Pulau Buru Ambon, ternytata tidak digubris. 
 
Beredar berita lagi ternyata Presiden Joko saat berkunjung ke Amerika tidak disambut standard penyambutan kepala negara selazimnya malah sebaliknya cenderung dilecehkan pemerintahan Barack Obama. Ketika muncul sessi tanya jawab Presdien Joko dengan wartawan dan masyarakat Indonesia direkam di You Tube, presiden setiap kali menghadapi pertanyaan rumit selalu melempar pertanyaan itu kepada para menterinya yang mendampingi untuk menjawabnya. Ini hanya menunjukkan Presiden Joko tidak menguasai persoalan negerinya, bahkan persoalan yang sangat elementer. Presiden tidak kapabel, dan presiden tidak mampu serta menguasai masalah bangsa dan rakyat Indonesia.
 
Kesan seperti ini, semakin mempertajam dugaan  jika berketerusan niscaya Presiden Joko akan runtuh pemerintahannya. Sejumlah media massa yang saat ini mencoba menutup-nutupi fakta kelemahan presiden Joko, tapi berlawanan dengan fakta dan kenyataan yang dirasakan rakyat Indonesia, niscaya opini yang digencarkan berlawanan dengan fakta, niscaya menjadi pengkhianatan pers tertentu itu kepada rakyat Indonesia. 
 
Ekonomi yang jelas-jelas rusak dan merugikan rakyat Indonesia sebaliknya justru ia sebut sebagai opini yang terus membaik, perkembangnan yang semakin kondusif. Semua menjadi omong kosong. Ia puji-puji kebijakan proyek kereta api super-cepat Jakarta-Bandung yang akan dibangun pemenanng proyek yakni, Cina membawa efek samping kecaman dari pemerintah Jepang tatkala rombongan pimpinan  DPR berkunjung ke Jepang. 
 
Begitu sambutan dingin Amerika tatkala Presden Joko berkunjung ke Amerika Serikat tak lain karena kebijakannya yang  pro Cina tapi meninggalkan semena-mena Amerika Serikat. Cara tegas pilihannya kepada Cina sangat merugikan hubungannya dengan Amerika dan Jepang.
 
Begitulah yang berkembang suasana pemerintahan Presiden Joko yang dinilai semakin rapuh dan diambang kejatuhan. Apalagi suasana politik di negeri ini semakin gaduh tatkala pendukung Presiden Joko, seperti Surya Paloh pimpinan Nasdem yang gembar-gembor hendak melakukan perubahan dengan istilah restorasi Indonesia, ternyata pimpinan puncak Nasdem, Rio Capella, Sekjen Nasdem kini dijebloskan ke bui karena korupsi. Baru seminggu usia pemerintahan Joko, Surya Paloh sudah menenteng-nenteng ke Istana Negara seorang konglomerat Cina  Sam Pa dari Cina, tapi ternyata kini Sam Pa ditangkap di Cina karena tuduhan mega korupsi.
 
Masih kurang lagi warna kegaduhan menyertai silang-sengkarut isi pemerintahan Jok saat ini diwarnai bencana demi bencana silih berganti bagai tak ada habisnya. Gunung-gunung berapi meletus di Sumatera Utara hingga Rinjanji di Lombok NTB, dan Gunung Bromo Jawa Timur. Kebakaran hutan di Sumatera, Sulawesi Jawa juga yang membunuh Orang Utan 40.000 ekor di Kalimantan, dengan kerugian trilyunan, sementara penyebab kebakaran terdiri pengusaha HPH (Hak Pengusahaan Hutan) dibiarkan terus membakar hutan dari tahun ke tahun. Begitu juga kecelakaan pesawat terbang jatuh juga helikopter, hingga kapal Ferry terus saja terkena musibah tenggelam, jatuh, bertabrakan. Fenomena seperti ini ditandai oleh ‘Wong Ndeso’ penyebabnya sederhana, yakni karena pemimpinnya , pemimpin di Indonesia saat ini tidak ‘Berkah’. 
 
Tentang kejatuhan Ahok sudah menjadi keniscayaan karena karakter dan performance-nya yang jauh dari adab Indonesia yang menjunjung sopan-santun sebaliknya Ahok justru berperilaku kasar, arogan, bahkan ‘jorok’. Itulah indikisasi kejatuhan yang sunatullah belaka. Wallahu a'lam bissawab !
0 Komentar