Subhanallah, Ustaz Hasan Mendadak Umroh Lalu Haji

Minggu, 15 November 2015 - 22:00 WIB | Dilihat : 3876
Subhanallah, Ustaz Hasan Mendadak Umroh Lalu Haji Ustaz Hasan Abwam, dai Dewan Dakwah di Gunung Kidul, Yogyakarta.

 

Medio Februari 2015, ponsel Ustadz Hasan Abwam menggaungkan nada panggilan dari nomor asing. Dai Dewan Dakwah yang bertugas di Kecamatan Panggang, Kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta ini segera membuka kontak.
 
"Assalamu’alaikum Ustaz," terdengar suara pria di ujung sinyal.
 
"Wa’alaikumusalam,” jawab Ustaz Hasan kalem.
 
“Apa kabar Ustaz? Ini Saya Sukar, suaminya Mini, muridnya Ustaz dulu di TPQ."
 
"Alhamdulillah sehat. Oh ya," balas Ustaz Hasan sembari mengingat-ingat siapa Mini yang disebut penelepon. Ah ya, memang ada salah seorang santrinya dulu yang bernama Mini. Anak itu kabarnya hijrah ke Jakarta. Dari radio dengkul yang dia dengar, Mini konon sudah menikah dengan seorang pengusaha cat yang sukses di Ibu Kota.
 
“Maaf, Sukar ini apakah suami Mini yang tinggal di Jakarta dan pengusaha cat ya?,’’ Ustaz Hasan memastikan.
 
"Benar Ustaz, saya Sukar, suami Mini. Sekarang kami tinggal di Jakarta.’’
 
"Oh, iya, iya. Sukar, bagaimana kabar kamu dan keluarga?“ Ustaz Hasan mulai mencair.
 
"Alhamdulillah, saya dan keluarga sehat Ustaz," jawab Sukar. Ia lalu melanjutkan, "Begini Ustaz, saya ada permintaan untuk Ustaz.”
 
"O, ada apa Kar?”
 
"Ustaz, bisa nggak Ustaz segera ke Jakarta untuk sebuah urusan penting?”
 
"Wah, kok mendadak begitu ya Kar? Ada urusan apa ya?“
 
"Maaf, ceritanay agak panjang. Nanti saya jelaskan kalau Ustaz sudah di Jakarta," jawab Sukar misterius.
 
"O, begitu....’’
 
Setelah diyakinkan Sukar, akhirnya Ustaz Hasan menggendong rasa penasarannya ke Ibu Kota. Berbekal catatan alamat dan nomor telpon Sukar, Ustaz asal Wonogiri ini meluruk ke Ibu Kota Jakarta menuju rumah bekas santrinya.
 
Mini dan Sukar ternyata tinggal di daerah Cipayung, Jakarta Timur. Dipandu lewat ponsel, akhirnya Ustaz Hasan sampai juga ke kediamannya.
 
Tiba di depan pintu sebuah rumah yang cukup besar, Ustaz Hasan memencet bel. Beberapa saat kemudian, muncul dari balik pintu pasangan tuan rumah sambil mengembangkan senyum lebar.
 
Demi melihat nyonya rumah, Ustaz Hasan ingat. Ini pasti si Mini.
 
‘’Assalamu’alaikum Ustaz,’’ sambut Sukar sambil menjabat dan memeluk tamunya. 
 
‘’Wa’alaikumsalam,’’ balas Ustadz Hasan. Ia juga menerima sungkem dari Mini yang dulu santrinya di Dusun Karang, Desa Girikarto.
 
Pertemuan guru dan murid berlangsung cukup mengharukan dan penuh kehangatan. 
 
"Bagaimana perjalanan dari Gunung Kidul ke sini Ustadz?" Sukar memulai pembicaraan.
 
"Alhamdulillah lancar,’’ jawab Ustaz Hasan. Karena rasa penasaran yang begitu besar, Ustaz Hasan kemudian langsung saja menanyakan urusan yang mengharuskannya ke Jakarta. ‘’Ya, Sukar dan Mini, jadi kira-kira urusan apa yang bisa saya bantu di sini?’’
 
Sukar dan istrinya tertawa kecil. ‘’Ustaz rupanya sudah penasaran ya dari kampung ya,’’ jawab Mini. ‘’Mbok, tolong buatkan Ustaz Hasan minuman,’’ serunya.
 
Bukan menjawab pertanyaan tamunya, Sukar malah ganti bertanya, "Ustadz Hasan ada paspor?’’
 
"Paspor?’’ Ustaz Hasan bingung. Jauh-jauh dari Gunung Kidul kok ditanyain paspor, batinnya.
 
Tapi Ustaz Hasan ingat, dia pernah dibuatkan paspor oleh Ustaz Nardi Sahuri, Ketua Dewan Dakwah Yogyakarta, empat tahun lalu. Sedianya, ia akan diberangkatkan haji. Namun, hingga kini belum ada panggilan juga. 
 
"Ada Kar. Paspor untuk apa ya?’’ ucap Ustaz Hasan
 
“Begini Ustaz, sebenarnya Ustaz kami minta berangkat ke Jakarta ini, karena saya dan Mini sudah mendaftarkan Ustaz untuk umroh dalam minggu ini. Kalau Ustaz Hasan sudah ada paspor, kita tinggal melengkapi dokumen Ustaz yang lain untuk pemberangkatan umrohnya,’’ tutur Sukar yang membuat Ustaz Hasan terpana.
 
‘’Saya berangkat umroh?’’ Seakan tak percaya yang didengarnya, Ustaz Hasan bertanya meyakinkan.
 
‘’Iya Ustaz, makanya saya telpon Ustaz agar buru-buru ke Jakarta untuk mengurus keberangkatannya. Insya Allah semua biaya sudah saya yang siapkan,’’ terang Sukar.
 
Ia mengatakan, sebenarnya sudah lama ia dan Mini ingin memberangkatkan Ustaz Hasan umroh. Tapi, sepertinya baru saat ini momentum yang tepat.
 
"Kami salut dengan perjuangan Ustaz, selama dua puluh lima tahun mengajarkan Islam di desa. Dari mulai masyarakat tidak mengenal huruf Hijaiyah hingga fasih membaca Alquran. Dari masyarakat tidak bisa shalat hingga masyarakat mulai meramaikan masjid saat ini," tutur Mini, yang mengaku mengikuti pemberitaan tentang Ustaz Hasan lewat media sosial, televisi, dan majalah.
 
Seperti diketahui, pada Ramadhan dua tahun lalu, Ustaz Hasan salah satu bintang dari serial ‘’Menggapai Ridho Allah’’ di TV One. Tayangan siang ini menampilkan kiprah para dai Dewan Dakwah di berbagai daerah. Film sejenis dalam format lebih pendek, juga ditayangkan melalui media sosial pada Ramadhan tahun ini.
 
Video tentang kiprahnya membina dan mengembangkan masyarakat, juga ada di situs Youtube dengan judul ‘’Bergulir di Musim Paceklik’’. Selain itu, Ustadz Hasan beberapa kali tampil di media cetak dan portal internet yang mewartakan program dakwah pedalaman.
 
Mini melanjutkan, dirinya pun turut menjadi saksi perjuangan Ustaz selama ini. ‘’Jadi, anggaplah ini hadiah dari kami untuk Ustaz atas dedikasi Ustaz selama ini. Mohon terima hadiah umroh ini ya Ustaz,’’ kata Mini yang dianggukkan Sukar.
 
Antara percaya dan tidak, namun berbalut syukur, seketika itu juga Ustaz Hasan tersungkur bersujud syukur dengan linangan airmata haru.
 
"Terima kasih, matur nuwun ya Sukar dan Mini," ucapnya usai bersujud di ruang tamu. Tuan rumah pun jadi menangis terharu. 
 
Setelah melengkapi dokumen keberangkatan, dan syukuran ala kadarnya di Desa Girikerto, pada medio Februari 2015 Ustaz Hasan Abwam pun berangkat umroh.
 
Haji Catering
 
Tujuh bulan berlalu setelah menunaikan umroh, suatu hari Ustaz Hasan Abwam kembali mendapat sebuah telepon penting. Kali ini dari orang yang dia sangat kenal dan biasa menghubunginya. Dialah Ustaz Sunardi Sahuri, Ketua Dewan Dakwah Yogyakarta, induk organisasi Ustaz Hasan.
 
“Assalamu’alikum Ustaz Hasan.’’
 
‘’Wa’alikumusalam Ustaz Nardi.”
 
‘’Apa kabar Ustaz?’’
 
‘’Alhamdulillah, baik Ustaz. Ada apa gerangan ini, pagi-pagi Ustaz Nardi sudah menghubungi saya? Pasti ada yang sangat penting?’’
 
“Hehe,’’ terdengar Ustaz Nardi terkekeh di ujung ponsel. ‘’Betul Ustaz Hasan. Alhamdulillah Ustaz Hasan dapat panggilan haji tahun ini, Ustaz.’’
 
‘’Hah, panggilan haji untuk saya Ustaz?’’
 
‘’Iya Ustaz. Antum bersama 11 rekan Dewan Dakwah Yogya yang lain bisa berangkat tahun ini untuk haji dengan menggunakan visa catering,’’ terang Ustadz Nardi.
 
Meski syukur dan bahagia tidak terkira, Ustadz Hasan menjawab dengan hati-hati.
 
‘’Saya sangat senang Ustaz dengan berita ini. Tapi saya harus berdiskusi dulu dengan keluarga,’’ katanya.
 
Ia berpikir, walaupun gratis, tetap saja haji plus ini memerlukan bekal uang yang cukup besar baginya. Sementara, banyak kebutuhan rutin keluarga yang musti didahulukan. 
 
Seperti membaca galau anak buahnya, Ustaz Nardi menegaskan, ‘’Pokoknya Ustadz Hasan harus berangkat, bagaimanapun caranya.’’
 
‘’Iya Ustaz, nanti saya kabari lagi untuk kepastiannya setelah saya berdiskusi dengan keluarga.’’ 
 
Saat Ustaz Hasan bertelpon dengan Ustaz Nardi, rupanya Umi Hasanah istri Ustaz Hasan turut memperhatikan dan menyimak pembicaraan mereka.
 
Tentu saja, sebagai seorang istri dan juga daiyah yang telah menemani suami selama 25 tahun berdakwah di Gunung Kidul, ia turut senang dengan berita yang didapat suaminya.  Namun....
 
“Abi, Umi tentu sangat senang Abi mendapat kesempatan pergi haji gratis. Tapi Abi harus jujur kepada Ustaz Nardi dengan keadaan keuangan kita. Untuk uang saku keberangkatan haji paling tidak butuh lima juta. Sedangkan anak-anak kita harus bayar uang kuliah paling tidak enam juta rupiah dalam bulan ini,’’ tutur Ummi Hasanah dengan nada senang namun juga prihatin.  
 
Ustaz Hasan paham maksud istrinya. Ia harus lebih mementingkan usaha mendapatkan uang kuliah kedua anaknya. Sebab, mukafa’ah sebagai dai, ibaratnya hanya cukup untuk makan. Usaha sampingan pun kecil-kecilan saja.
 
Ustaz Hasan dan Ummi Hasanah memiliki empat anak. Dua tertua sedang kuliah, yakni Ummu semester 5 di STIKES Global Yogyakarta. Lalu Ummah baru masuk kuliah di STAI Wonosari mengambil jurusan PAI. Adapun dua orang lagi Abu baru duduk di bangku kelas tiga SD. Adiknya baru berusia empat tahun. 
 
"Baik Mi, kalau begitu Abi beritahukan kepada Ustaz Nardi bahwa kondisi keuangan kita tidak memungkinkan untuk berangkat haji tahun ini,’’ jawab Ustaz Hasan, tanpa bisa menyembunyikan gurat kecewa di wajahnya.
 
Umi Hasanah juga sedih melihatnya. Tapi, bagaimana lagi, mereka harus realistis dengan kondisi dalam negeri rumah tangga. Malu kalau harus minta bantuan pada keluarga lain.
 
"Assalamu’alaikum, Ustaz Nardi,’’ Ustadz Hasan menghubungi seniornya. Ia lalu menjelaskan apa adanya kondisi keuangan keluarga, sehingga keputusannya tidak bisa berangkat haji.
 
‘’Oh, kalau masalah keuangan, kan di kantor ada uang. Ustaz Hasan pinjam saja dulu, nanti dikembalikan. Pokoknya Ustaz harus berangkat,” tandas Ustaz Nardi.
 
"Ngapunten Ustaz,  yang namanya pinjaman kan harus dikembalikan. Saya tidak mau berhutang Tadz, nanti jadi beban di kemudian hari,’’ jawab Ustaz Hasan.
 
Tapi Ustaz Nardi bergeming. ”Nggak. Pokoknya Jenengan harus berangkat, bagaimanapun caranya. Titik.’’
 
Ustaz Hasan lalu berdiskusi lagi dengan sang istri. ‘’Piye iki Mi, Ustaz Nardi bilang nggak boleh batal haji. Pokoknya harus dicarikan cara bagaimana agar Abi bisa berangkat haji....’’
 
Sejenak suami-istri ini tepekur bingung. Hingga kemudian Ummi Hasanah berkata, ”Bagaimana kalau Abi hubungi Ibu Rini, ceritakan tentang berita ini. Barangkali beliau bisa membantu.’’
 
Ny Rini adalah salah seorang donatur yang biasa berbagi kepada masyarakat Dusun Karang binaan Ustaz Hasan. Ia sering mengajak ibu-ibu ke Karang untuk mendatangkan bantuan.
 
Walau agak nggak enak, Ustaz Hasan menuruti ide istrinya. “Assalamu’alikum, Ibu Rini,” sapanya via ponsel.
‘’Wa’alaikum salam Ustaz Hasan, apa kabar?”
 
‘’Alhamdulillah, baik. Ibu dan keluarga juga apa kabar?’’
 
“Alhamdulillah, sehat juga Ustaz.’’
 
‘’Begini Bu Rini, ada yang ingin saya bicarakan ke Ibu....,“ Ustaz Hasan dengan hati-hati mengungkapkan kesulitan yang tengah dihadapinya. 
 
“Oh, alhamdulillah, kalau begitu Ustaz Hasan harus berangkat. Ustaz ini orang baik, ini panggilan Allah harus dipenuhi,” kata Ny Rini bersemangat usai menyimak cerita Ustadz Hasan.
 
Ia lalu memberi solusi. ‘’Ustaz Hasan, setelah ini silakan hubungi Ibu Janet. Ceritakan yang tadi Ustaz ceritakan kepada saya. Insya Allah Bu Janet akan membantu. Nanti kalau masih kurang, saya yang tutupi.”
 
Masya Allah, senang bukan kepalang Ustaz Hasan dengan tanggapan baik Ny Rini. Bergegas ia menghubungi Ny Janet, pengusaha batik di Jogja teman sosial Ny Rini.
 
‘’Jadi berapa yang Ustaz butuhkan untuk bekal naik haji,’’ tanya Ny Janet usai menyimak kisah Ustaz.
 
‘’Kira-kira lima juta, Bu,” jawab Ustadz Hasan.
 
‘’Oh, kalau begitu biar saya saja yang tanggung semuanya,’’ spontan jawab Ny Janet dengan tulus.
 
Masya Allah, sambil menangis memeluk istri di sampingnya, Ustaz Hasan berkata kepada Ny Janet, ‘’Terima kasih Bu, terima kasih atas kebaikannya, jazakillah.’’
 
Akhirnya, pada 11 Agustus 2015, jadi juga Ustaz Hasan Abwam beserta 11 rekan lainnya dari Dewan Dakwah Yogyakarta berangkat haji.
 
Alhamdulillah, Ustaz Hasan luput dari musibah ambruknya crane di Masjidil Haram. 
 
Wartawan Al Jazeera Hasan Patel yang melaporkan dari Mekkah, mengatakan, seorang saksi menyebut crane jatuh di lantai tiga dari Masjidil Haram. Tragedi itu didahului dengan hujan dahsyat disertai badai angin yang kecepatannya mencapai 83 km per jam. Inilah yang konon menyebabkan tower crane runtuh.
 
Korban meninggal akibat crane jatuh mencapai 107 orang dan 238 luka-luka. Hal ini disampaikan otoritas pertahanan sipil Arab Saudi seperti dilansir Al Jazeera, (12/9). 
 
Ustadz Hasan Abwam juga sudah selesai menunaikan ibadah haji satu hari sebelum terjadinya Tragedi Mina.
 
rep: robbyansyah/nurbowo
red: abu faza
0 Komentar