Beda Singkil dan Tolikara

Kamis, 05 November 2015 - 20:55 WIB | Dilihat : 2994
Beda Singkil dan Tolikara Ilustrasi: Pembakaran Masjid di Tolikara dan pembakaran gereja liar di Aceh Singkil.

 

HM Aru Syeiff Assadullah
Pemred Tabloid Suara Islam
 
Posisi umat Islam yang mayoritas di Indonesia amat nestapa. Terjadinya peristiwa Tolikara tepat pada Hari Raya Idul Fitri 17 Juli 2015 di Papua dan peristiwa Singkil pada 13 Oktober 2015 di Aceh, menggambarkan posisi Islam justru teraniaya di negeri Muslim terbesar di dunia ini. 
 
Fakta ironis ini tidak pernah dipedulikan umat Islam, sehingga muncul sikap sarkastis di  jaringan media sosial berupa dua foto  yang sungguh kontradiktif. Satu foto menunjukkan saat Presiden Joko di Istana Negara sangat  terhormat menerima dan menjamu para pelaku pembakaran masjid di Tolikara beberapa saat setelah kejadian. Foto di bawahnya puluhan pelaku pembakar gereja liar di Singkil segera ditangkap dan digelandang layaknya kriminal hina. Inilah dua foto yang amat tepat menggambarkan fakta posisi umat Islam di Indonesia justru diperlakukan sangat diskriminatif oleh negara.
 
Presiden Jokowi menerima para pemimpin GIDI, organisasi pelaku pembakaran Masjid di Tolikara, di Istana Negara Jakarta.
 
Padahal, Presiden RI saat ini Presiden Joko adalah seorang Muslim, Polri pun di negeri ini niscaya mayoritas pimpinan dan anggotanya juga seorang Muslim. Aparat penegak hukum pun secara keseluruhan juga mayoritas Muslim. Jadi mengapa posisi dan aspirasi Islam selalu dilecehkan dan dikalahkan?
 
Jangan lupa di negeri ini lembaga paling strategis dan vital yakni pers dikuasai mutlak oleh kalangan non-Islam. Seluruh stasiun TV di Indonesia dimiliki atau dikendalikan kalangan liberal dan sekuler yang sangat anti Islam. Jangan lupa pula ekonomi negeri ini pun dikuasai hampir sangat mutlak oleh golongan non-Islam.
 
Jika di era Soeharto lalu diperkenalkan resmi konglomerat di Indonesia berjumlah 200 orang Taipan keturunan China, sementara konglomerat pribumi tidak lebih dari 10% saja. Kondisi penguasaan ekonomi dewasa ini, jauh lebih buruk daripada era Soeharto dua puluh tahun yang lalu. 
 
Yang lebih menyedihkan lagi selain pers dan ekonomi dikuasai kelompok non-Islam dan anti Islam, juga dunia politik dan kekuasaan pun saat ini mulai digerogoti dan dikuasai kalangan Non Islam. Gubernur di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah dua periode terakhir dijabat gubernur non-Muslim. Dan paling kontroversial, karena ‘kecelakaan’ dan ketidak-pedulian umat Islam Jakarta, kini gubernur DKI Jakarta dijabat Ahok, seorang keturunan China, non-Islam yang sangat berani selalu melecehkan aspirasi Islam, dengan gaya arogan bahkan ‘ugal-ugalan dan kasar’.
 
Jika direnungkan secara  mendalam, apa sebab-sebab dan asal-muasal mengapa posisi umat Islam justru teraniaya di negerinya sendiri yang berjumlah mayoritas mutlak ini? Maka muncul jawaban—jika mau obyektif dan jujur—yang sangat mengejutkan, yakni posisi tragis itu justru terjadi karena kesalahan umat Islam sendiri. 
 
Contoh yang paling sederhana, umat Islam di ibu kota yang mayoritas mutlak itu, mengapa saat Pilkada DKI Jakarta, memilih Joko Widodo dengan wakilnya Ahok seorang non-Islam? 
 
Tatkala sejumlah ulama bijak di ibukota menerangkan resikonya jika penduduk Jakarta memililih Jokowi dan Ahok, semua orang tidak peduli. Bahkan ketika para ulama itu menunjukkan hukumnya haram jika umat Islam memilih pemimpinnya yang kafir, maka penduduk Muslim ibu kota  malah melecehkan. Bahkan satu, dua ulama, dan ustaz ibu kota membuat dukungan kepada Jokowi dan Ahok. Inilah yang selalu terjadi, satu dua orang Islam justru tampil menjadi pengkhianat dan bertindak menjadi munafiq dan mencederai Al Islam itu sendiri.
 
Dalam kasus Tolikara, mengapa umat Islam tidak segera bereaksi yang keras tatkala pelaku pembakaran gereja itu diterima Presiden Joko hanya dua hari setelah kejadian secara sangat terhormat. Malah seusai pertemuan dengan Presiden Joko,  pelaku pelanggaran itu mengancam-ancam dalam jumpa pers terhadap aparat keamanan agar tidak menangkap pelaku pembakaran Masjid Tolikara dengan alasan masalahnya sudah selesai dengan perdamaian, dan jika ditangkap malah akan memperkeruh suasana di Papua. Sungguh liar dan kurang adab pernyataan para pendeta itu. Dan ironisnya pernyataan seenak ‘perutnya’ sendiri itu dibiarkan begitu saja. 
 
Mengapa orang Islam tidak ramai-ramai protes kepada presiden Joko, atau mencegat para pendeta itu sekeluar dari istana dan mendebatnya dan bahkan ‘menyandera’ para pendeta itu sampai Polri menangkap mereka sebagai pelaku teror dan pembakaran masjid di Tolikara, karena salah satu dari mereka itu yang membuat surat ancaman dan bahkan terang-terangan mereka mengakui yang membuat larangan kerpada pihak umat Islam Tolikara,  agar tidak memasang plang masjid, tidak memasang speaker dan seterusnya. Umat Islam hanya diam-diam saja dilecehkan seperti itu. Ini yang menjadikan mereka, orang Kristen, semakin sombong dan nekad melecehkan Islam. Umat Islam reaksinya hanyalah diam atau paling keras hanya berdemo besar tetapi tetaplah ‘jinak’ dan tidak perlu ditakuti.
 
Bandingkan dengan apa yang terjadi di Singkil Aceh. Begitu terang-benderang pelanggaran pihak Kristen dengan membangun 24-an gereja tanpa izin alias liar dan hanya 4 gereja saja yang mengantongi izin, namun kondisi ini dibiarkan saja oleh aparat keamanan (Polri). Kesepakatan segera membongkar gereja liar oleh orang Kristen sendiri dibiarkan saja oleh Polri ketika tenggat waktu pembongkaran diingkari. 
 
Hal ini menyulut umat Islam di Singkil meledak kemarahannya. Polisi tahu situasi yang memanas  ini tapi membiarkan dan terjadilah insiden pembakaran gereja yang wujudnya hanyalah bangunan sederhana dari papan dan seng itu. Peristiwa pembakaran pun diblow-up oleh pers milik orang-orang Kristen dan sekuler, menjadi berita yang menempatkan posisi umat Islam sebagai pihak yang anti toleransi, pelaku radikalisme dan seterusnya.
 
Apa yang dilakukan tokoh Islam tertentu—yang dipelopori mendiang  Abdurrahman Wahid-- yang selama ini justru membela dan mendukung golongan minoritas khususnya Kristen justru menjadi modal orang Kristen terus melecehkan Islam seraya mengejek-ejek umat Islam terbesar yang selalu ia tuduh tidak menganut asas pluralisme, bahkan anti toleransi, juga tidak mendukung wawasan kebangsaan. 
 
Tuduhan-tuduhan dan fitnah keji itu sangat ironis justru ditelan begitu saja oleh sebagian umat Islam, sehingga mereka menjadi takut membela diri, membela Islam karena akan lebih dituduh lagi. Karena itu tatkala hari Natal datang, kelompok Islam seperti ini ramai-ramai menyatakan halal hukumnya memberi ucapan selamat Natal kepada orang Kristen, bahkan mereka menjaga gereja di Hari Natal karena dikhawatirkan akan diteror dibom oleh Islam radikal. Sungguh memprihatinkan dan hina sikap lemah kalangan Islam seperti ini.Tapi sikap itu terus terjadi, dan sangat meyakitkan kalangan Islam yang beriman.
 
Dalam kaitan mendukung Kristen di Singkil, muncul pula cendekiawan Islam yang mengaku sudah sangat lama melakukan penelitian akan fenomena hadirnya Kristen di Singkil. Fenomena kadirnya Kristen di Singkil, menurutnya hal yang wajar karena  mereka sudah datang ke Singkil ratusan tahun yang lalu terdiri etnis Toba, Nias yang asalnya memang Kristen. Jadi kata peneliti yang diekspose Kompas ini, orang Kristen di Singkil tidak bisa disebut pendatang di Aceh. Bukan main berbelitnya dalih mengatasnamakan penelitian ilmiah. Mengapa si peneliti tidak membahas saja fakta bahwa pihak Kristen telah melanggar Peraturan Pemerintah, berupa Peraturan Bersama Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian Agama, nomor 8 dan 9 tahun 2006, mengenai Pedoman Pelaksanaan  Tugas Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah dalam Pemeliharaan Kerukunan Umat Beragama, Pemberdayaan Forum Kerukunan Umat Beragama dan Pendirian Rumah Ibadat.
 
Dalam hal berkaitan dengan peraturan ini pun sudah diakui pihak Kristen dan gereja Singkil sendiri, mereka memang telah melanggar. Mereka hanya memiliki izin untuk 4 gereja, 24 yang lain belum ada ijinnya dan telah bersepakat untuk membongkar sendiri gereja itu. Tapi pembongkaran sengaja diulur-ulur yang hanya membuat kemarahan umat Islam di Singkil memuncak dan kehilangan kesabaran : Dibakar ! Ada korban luka-luka bahkan satu orang tewas terkena tembakan. Yang jadi korban ternyata umat Islam. Mereka pun dituduh melakukan teror dan segera ditangkapi. Bandingkan yang terjadi di Tolikara, mereka yang jelas-jelas menjadi otak pelaku pembakaran masjid malah dijamu presiden di Istana Negara.
 
Pembakaran gereja di mana-mana, selalu dengan persoalan sebagaimana diuraikan di atas. Suatu daerah dipaksakan didirikan gereja padahal penduduk Kristen yang memerlukan gereja itu hanya satu dua kepala keluarga, tidak memenuhi syarat  Peraturan Bersama Kemendagri dan Kemenag, jadilah pendirian gereja itu membuat marah umat Islam, karena aparat keamanan tidak menertibkan pelanggaran pendirian gereja itu, maka umat Islam turun tangan sendiri : Bakar. Itulah yang selalu terjadi sejak akhir 1970-an hingga hari ini. Upaya Kristenisasi dilawan umat Islam di mana-mana.
 
Namun kalangan orang Kristen tetap gencar membangun gereja di mana-mana, tentu menimbulkan pertanyaan. Apakah motifnya benar-benar mereka hendak menyebarkan Kristen dengan mendirikan gereja? Informasi dari pimpinan PGI sendiri menyatakan bahwa banyaknya berdiri gereja-gereja baru itu, bukan berarti mereka telah melancarkan penyiaran Kristen, malah sebaliknya dengan berdirinya gereja baru dipastikan menjadi pecahan dari gereja yang pengurusnya bertikai dan mendirikan gereja baru. Apa yang dipertikaikan? Ternyata soal fulus dan dana yang diharapkan mengalir dari Eropa Barat dan Amerika untuk pembiayaan gereja baru itu. 
 
Inilah pemandangan yang pernah disaksikan Suara Islam tatkala melintas dari Pekanbaru ke Kabupaten Kampar.  Sepanjang jalan berdiri gubuk-gubuk reyot tak berpenghuni di bagian depan ditulis gereja tertentu, kebanyakan HKBP (Huria Kristen Batak Protestan). Mungkin ratusan gereja yang tidak berfungsi ini berdiri sepanjang jalan. Bahkan jarak gereja satu dengan lainnya hanya tak lebih 50-100 meter saja. Kondisi gereja gubuk itu tidak berfungsi, dan menjadi pemandangan aneh. Ada yang mengatakan lokasi itu diperlukan untuk pemotretan dan dicantumkan dalam proposal permintaan bantuan ke Eropa dan Amerika.
 
Hanya saja kasus Singkil dan Tolikara tidak sesederhana kasus gereja gubuk di Jalan Raya Pekanbaru-Kampar. Di balik kasus Tolikara tersimpan rencana makar kepentingan Kristen dan asing untuk melepaskan Papua dari NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia), dan di balik kasus Gereja Singkil, penguatan opini bahwa Daerah Istimewa Aceh bukanlah wilayah mayoritas Islam, tapi bersemayam pula Kristen, dan orang Kristen mulai menggugat haknya di Aceh. Inilah makar Kristen yang sesungguhnya. Wallahu a’lam bissawab.

 

0 Komentar